Jumat, 29 Januari 2016

Gadis jendela

Pria yang tinggal di samping rumahku. Entah siapa namanya, yang ku tau dia adalah pemikik Kyubi. Ah maaf maksudku Kyubi adalah nama anjing peliharaannya, itu yang aku tau karna setiap sore hari pria itu selalu memberi makan anjingnya yang ia panggil dengan sebutan Kyubi. Itu ansumsiku karna mungkin saja Kyubi itu sejenis atau spesies anjing, aku tidak tau banyak tentang anjing maka aku putuskan untuk memanggilnya dengan nama Kyubi.

Hampir setiap hari aku melihat pria itu memberi makan dan bermain dengan Kyubi.

Sebenarnya tidak setiap hari juga, karna saat pagi tepat pukul 6 dia akan keluar rumah merentangkan tangan menghirup udara pagi dan mengeluarkannya perlahan. Kyubi hanya duduk di sampingnya megoyangkan-goyangkan ekornya. Setelah melihat majikannya selesai dengan aktivitasnya ia langsung menghambur ke pelukkan pria itu. Sekitar setengah jam ia bermain dengan Kyubi melakukan olahraga kecil , setelah itu ia masuk ke dalam rumah. Dan tepat pukul setengah delapan ia keluar lagi dengan pakaian kerjanya, celana hitam panjang, ikat pinggang kulit dan kemeja lengan panjang polos dengan warna yang terlihat cocok dengan warna kulitnya, kadang ia mengenakan kemeja bermotif garis vertikal tipis atau kotak-kotak, kadang juga dia melipat lengannya sampai siku. Ahh...apapun yang ia pakai selalu terlihat pas dan cocok untuknya, Apa dia seorang model.??entahlah.

Memberi makan kyubi, memakai sepatu hitam mengkilap dan menyampirkan tas kerjannya di bahu kiri menjadi aktivitas terakhir sebelum keluar dari gerbang yang jarang sekali terbuka itu. Tepat pukul 5 sore ia akan pulang dan langsung disambut oleh Kyubi. Ia akan duduk di bangku teras melepas sepatu dan meletakkannya di rak sepatu yang berada di samping pintu, setelah itu ia akan bertanya pada Kyubi

" Apa kau lapar, Kyu.?sebentar akan ku siapka." Ucapnya sambil mengelus bulu bulu halus Kyubi.

Tak berapa lama ia keluar dengan membawa semangkuk sereal untuk Kyubi, mungkin sekitar 15-20 menit untuknya berganti baju santai, kaos dengan celana pendek selutut. Setelah memberi makan Kyubi ia akan berkutat dengan laptop dan secangkir kopi (mungkin) di atas meja. Sesekali ia akan bermain atau sekedar mengusap kepala Kyubi kemudian menatap layar laptopnya kadang ia akan menyesap minumannya. Aktivitas sorenya hanya berkutat dengan laptop nya, ini jadi kesempatanku menatapnya lebih lama tanpa harus di sadarinya. Namun setelah senja tenggelam ia akan masuk ke dalam rumah bersama Kyubi, saat itu juga aku tak bisa melihatnya sampai besok pagi dan begitu seterusnya.

Aku bukan stalker, aku bahkan tidak sampai membuntutinya di luar rumah. Aku hanya seorang gadis yang kebetulan tinggal di samping rumahnya, yang kebetulan kamarku di lantai dua tepat di samping halaman rumahnya dan kebetulan pula aku tidak tau harus melakukan apa di rumah yang cukup besar ini sendirian di saat papa dan mama jarang sekali atau bahkan tidak pernah ada di rumah. Menonton acara televisi yang sama sekali tidak menarik, aku lebih memilih mengamati seorang pria di balik jendela. Seorang pria yang mungkin sama sepertiku, Kesepian. Ahh...tidak juga dia masih punya Kyubi, tapi secara garis besar rutinitasku sama sepertinya berangkat kuliah pukul 8 pagi pulang pukul 4 sore. Aku tipe orang yang tidak pandai bergaul, jadi tak ada alasan untukku pulang larut malam seperti remaja lainnya yang bersenang-senang dangan teman-temannya. Aku akan pulang telat hanya saat ada tugas kelompok atau saat mengantarkan Ita satu-satunya yang mau berteman denganku ke toko buku. Selain itu tidak ada alasan untuku pulang terlambat, membosankan memang tapi aku menikmatinya. Menikmati seperti pagi yang menyenangkan ini saat aku bisa melihat wajah tampan pria itu dari balik jendela. Oh...kurasa pipiku memerah sekarang.

Hari ini dan seminggu ke depan aku libur kuliah setelah selesai ujian semester. Apa yang harus aku lakukan ssat dia tidak ada di rumah, aku benar-benar tidak punya hiburan lagi. Apa aku harus mengendap-ngendap masuk ke rumahnya dan bermain dengan Kyubi, tapi kalau kyubi menggigitku bagaimana.?? Astaga itu ide tergila yang pernah aku pikirkan. Dia sudah siap pergi kerja, ingin rasanya aku mencegahnya dan memintanya agar lebih lama di rumah atau melarangnya pergi kerja. Ku rasa aku benar-benar gila sekarang.

Ku lihat dia menerima telfon dari seseorang dan ia terlihat tergesa-gesa. Siapa yang menelfonnya sampai ia buru-buru seperti itu. Dan astaga dia juga lupa mengunci gerbangnya kembali, apa yang dia pikirkan Kyubi bisa kabur jika seperti itu.

"Kyubi...kyubi tunggu jangan keluar." Teriaku saat melihat Kyubi keluar dari gerbang, benar dugaan ku. Aku langsung berlari keluar rumah mengejar Kyubi.

" Kyubi....tunggu...tunggu." Aku mencoba memanggilnya sambil terus mengejarnya.

Nafasku terengah-engah, aku tak pernah berlari sejauh ini. Cepat sekali Kyubi berlari sampai ke taman komplek, ini kan cukup jauh dari runahku. Kemana aku harus mencarinya taman ini begitu luas dan banyak sekali pengunjungnya. Aku benci keramaian.

" Kyubi...kyubi.." Hanya cara ini yang bisa ku lakukan sekarang berharap dia menghampiriku bila ku panggil namanya. Tunggu dulu apa namanya benar-benar Kyubi.?Ok itu tidak penting sekarang.

" Kyubi..Kyubi..Kyubi di mana kau.?"

" Gough...gough."

Itu..itu suara Kyubi,  benar itu kyubi sedang minum di pinggir kolam. Syukurlah..

" Kyubi kau baik-baik saja.?" tanyaku sambil memeluknya. Bulunya lebih halus dari yang ku bayangankan, untung saja dia tidak menggigitku.

" Ayo kita pulang, majikanmu pasti khawatir kalau sampai kau hilang." Aku mengajaknya untuk pulang, tidak ada niat untuk berlama-lama di taman ini hanya untuk bekeliling sebentar.

" Gough...gough.." Sepertinya dia tau maksudku, anjing pintar.

***

" Apa kau haus ? sampai mencari air ke kolam taman, hmm." Aku bermonolog dengan seekor anjing yang sedang minum mungkin lelah karna berlarian tadi, ini menyenangkan.

" Apa majikanmu tidak memberimu minum.??apa yang dia pikirkan sampai melupakanmu.??"

" Gough.."

" Kau setuju denganku...lagi pula siapa yang menelfonnya tadi pagi, dia terlihat terburu-buru. Apa kau tau Kyu.??"

" Gough....gough..."

" Hmm....kau juga tidak tau yaa." Aku pikir, aku memang sudah benar-benar gila berbicara dengan seekor anjing seolah-olah dia mengerti apa yang ku bicarakan dan sebaliknya.

Aku memutuskan untuk menjaga Kyubi sampai dia pulang, aku tidak mau ambil resiko meninggalkannya walaupun sebenarnya aku bisa saja meninggalkan Kyubi sendirian tapi bagaimana kalau ada orang jahat yang menculiknya, itu sangat mudah di lakukan mengingat pintu pagar tidak terkunci. Walaupun ini terlihat salah, masuk rumah orang tanpa izin sedangkan tuan rumahnya pun tidak ada di rumah tapi apa boleh buat. Ku rasa aku hanya mencari pembenaran saja untuk ini. Tapi kalau di lihat-lihat rumahnya cukup besar dan rapi untuk ukuran seorang pria yang hidup sendiri

" Gough..." bersama seekor anjing tentunya.

" Kau pasti lapar kan, ini makanlah." Aku memberi makanan yang sempat ku beli waktu pulang dari taman untuk Kyubi.

" Kapan majikanmu pulang ini sudah lewat jam 5.
Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, apa majikanmu bawa payung.?"

" Ahh...dia jahat sekali padamu Kyu meninggalkanmu tanpa memberimu makan dan minum...
Dia harus meminta maaf padamu, Kyu."

" Maaf..."

" Yaa...benar seperti itu." Tunggu dulu suara siapa itu.??

" Gough...gouh.." Kyubi berlari melewatiku, aku membalikan badan kaku.

" Sepertinya aku memang harus meminta maaf padamu Kyu dan....." Ucapnya sambil mengelus Kyubi kemudian menatapku.

" Ah...aku...maafkan aku masuk rumahmu tanpa izin." Ucapku gugup, aku bisa merasakan keringat dingin seperti tertangkap tengah mencuri.

" Jika kau punya alasan akan ku maafkan, gadis jendela." Ucapnya serius sedikit menyeringai.

" Itu...itu tadi Kyubi kabur kau lupa mengunci gerbangnya dan aku..aku membawanya kembali."

" Lalu...??" tanyanya lagi.

" Lalu...lalu aku menjaganya sampai kau pulang." Jawabku gugup, apa pria ini marah padaku. Dia menatapku tajam, dia pasti marah celaka aku.

" Kyubi heh.?? tidak heran kau tau nama anjingku gadis jendela. Jadi ku rasa aku harus berterima kasih padamu karna telah menjaga dan memberi makan Kyubi." Ucapnya sambil melirik mangkok makanan Kyubi di belakangku. Kalau aku tidak salah dengar dia memanggilku gadis jendela dua kali, apa maksudnya.

" Sebagai ucapan terima kasihku kau bisa bermain dengan Kyubi sampai aku selesai mandi." Ucapnya seraya berdiri hendak masuk ke rumah.

" Bukankah itu sebuah permintaan." Entah kenpa kalimat bodoh itu meluncur begitu saja dari mulutku, membuat dia berhenti dan menatapku dengan senyuman. Sebentar senyuman..dia tersenyum padaku. Sungguh...aku merasa pipiku memanas. Tanpa mengatakan apapun ia masuk ke dalam membuatku tak punya pilihan selain tetap tinggal.

" Aku baru tau kalau majikanmu begitu tampan Kyu."

****

Setelah 20 menit aku bermain dengan Kyubi dia keluar dengan pakaian santai seperti biasanya, dia jua membawa dua cangkir di tanganya. Dia memanggilku untuk duduk di sampingnya di bangku teras, aku pun menurutinya.

" Ini coklat panas cocok untuk hari yang melelahkan." Dia memberikan cangkir berisi coklat panas padaku. Oh...ternyata itu coklat panas ku kira kopi aku baru tau saat melihat cangkirnya juga berisi coklat panas.

" Jadi siapa namamu gadis jendela.?" tanyanya padaku.

" Gadis jendela.??" sambil menyeruput coklat panas aku bertanya heran.

" Iya...gadis jendela yag setiap hari memperhatikanku di balik jendela itu." Ucapnya tenang sambil menunjuk jendela kamarku.

" Uhuk..uhuk.." Astaga aku tidak tau kalu dia ternyata menyadarinya.

" tentu saja aku menyadarinya, bodoh. kalau tidak itu pasti lebih aneh." Ucapnya lagi seolah tau apa yang aku pikirkan. Apa dia bisa membaca pikiran orang lain, yang benar saja.

" Ahh..itu aku tidak mmemperhatikanmu tapi..tapi aku memperhatikan Kyubi dia terlihat lucu." jawab ku asal. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.

" Hahahahaha.....benarkah.?berarti aku yang salah." Kali ini aku menjawabnya dengan anggukan. Kami sama-sama menikmati coklat panas kami masing-masing.

" Jadi siapa namamu, gadis jendela.?"tanyanya lagi

" Putri Rinata dan berhenti memanggilku gadis jendela." Jawabku, manggilku gadis jendela itu memalukan sekali.

" Hahahaha,,,ku rasa gadis jendela cocok untukmu." Ucapnya santai.

" Lalu siapa namamu.?" Aku balik bertanya.

" Ryan....Ryan Anggara." jawabnya singkat dan kembali menikmati coklat panasnya. Cuacanya sangat mendukung utuk menikmati minuman ini. Mendung angin berhembus semilir sampai akhirnya hujan turun memberikan irama syahdu memecah kesunyian yang sempat terjadi di antara kita.

" Aku harus segera pulang." Ucapku segera berdiri hendak pulang namun tanganku di cegahnya.

" Tunggu hujannya reda baru ku antar pulang, aku tidak punya payung untuk ku pinjami dan aku bukan seorang pria yang membiarkan gadis yang telah berbaik hati menjaga anjingku pulang sendiri di tengah hujan seperti ini." Ucapnya menyuruhku duduk dan menikmati coklat panasku kembali.

padahal rumahku hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya, tapi dia tetap memaksa ku untuk tetap tinggal sampai hujan reda. Dan di sini lah aku duduk di samping pria yang selama ini aku perhatikan, menikmati rintik hujan dengan secangkir coklat panas, aku bahkan belum pernah memimpikannya sebelumnya. Ini semua karna Ide gila ku tadi pagi untuk menyelinap ke rumahnya yang kebetulan benar-benar aku lakukan dengan tidak sengaja.

Dia bilang sekarang kita berteman dan aku bebas mengunjungi rumahnya kapan pun aku mau. Dia juga memberikan kunci cadangan untukku, dia bilang aku boleh bermain dengan Kyubi saat dia tidak di rumah, dia bilang kalau dia percaya padaku. Entahlah dia itu bodoh atau apa, dia bahkan baru mengenalku sore ini dan langsung percaya begitu saja, tapi yasudah lah toh aku juga tidak punya niat jahat. Dia juga mengajakku ke taman hiburan besok pagi, katanya dia sedang libur aku tidak bisa menolaknya saat dia mengancam tidak ingin berteman denganku jika aku menolaknya. Sebenarnya tanpa di paksa sekalipun aku akan menerima ajakannya. Hari ini sangat menyenangkan banyak kejadian yang meurutku itu adalah sebuah keajaiban.

Ryan dia tetap menjadi seorang pria yang selalu aku perhatikan dan akan terus ku perhatikan. Diam-diam di balik jendela.

Author: Oh...tidak tau saja kau gadis jendela, sebenarnya pria itu juga sama sepertimu selalu memperhatikanmu. Saat kau melihatnya di pagi hari dia juga melihatmu tanpa kau sadari, saat kau melihatnya berkutat dengan laptopnya di sore hari tau kah kau bahwa dia juga sedang melihatmu lewat cctv yang sengaja ia pasang menghadap ke jendela kamarmu. Dia selalu melihat wajah cantikmu sayang. Dan tau kah kau saat dia bilang tidak punya payung untuk kau pinjam itu bohong, sebenarnya dia memilikinya lebih dari tiga bahkan, tapi dia enggan meminjamkannya untuk mu karna dia ingin lebih lama bersama mu. Hahh...terkadang memang lucu. ^^

Selasa, 26 Januari 2016

Cooking is Love

Namaku Alya Zahra Humaira. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Aku punya dua kakak laki-laki yang salah satunya adalah kembaranku. Mereka memiliki sifat yang sngat berbeda. Kakak pertamaku Riski Hafiz Ramadhan aku sangat sayang denganya begitu pun sebaliknya. Sifatnya yang tenang, pendiam, kalem tapi jangan salah walaupun dia amat kalem dia juga punya sisi tegasnya, dan jika sifat tegasnya yang di ambil dari ayah muncul tidak ada yang bisa berargumen lagi dengannya. Dan aku sangat suka ketika melihat wajah kembaranku mati kutu di skamat mas Riski. Hahahah...itu hiburan tersendiri buatku.

Dan kakak ku yang ke dua sekaligus kembaranku namanya Elyas Zaqi Hakim. Dia amat berbeda dengan mas Riski, sifatnya yang sedikit brutal, berisik dan suka buat onar itu benar-benar kekanak-kanakkan. Aku tidak habis pikir memiliki kembaran seperti dia. Tapi walau pun begitu dia sangat menyayangiku dan aku pun menyayanginya. Saking sayangnya dia pernah menghajar teman laki-laki ku sampai babak belur hanya karena dia menarik tanganku dengan kasar.Oh.....astaga aku tidak tau harus berterima kasih atau marah sama mas El. Jujur aku suka dia melindungiku tapi aku tidak suka dengan caranya yang brutal itu. Dan akibatnya mas Elyas harus di hukum ayah karena berkelahi belum lagi harus mendengarkan ceramah yang begitu panjang dari Ibu. Hmm...kalian tau ayahku punya seribu satu cara buat anak-anaknya bisa mengerti kesalahannya. Dan itu selalu berhasil. Good Father.

Sekarang tentang Ibuku, bisa di bilang sifat mas Elyas sedikit mirip dengan Ibu yang selalu bicara apa yang dia pikirkan. Mungkin ini yang di bilang saling melengkapi secara Ayah yang sedikit kaku dan tenang dengan Ibu yang sedikit cerewet sekali lagi sedikit cerewet membuat hidup semakin berwarna bukan.?? Bisa dibayangkan kalau Ayah hidup sama orang yang sifatnya sama dengan Ayah pasti hidupnya kaya di kuburan sepi dan suram. Abaikan...
Ibu ku itu pintar masak dan ini jadi alasan aku punya hobi memasak. Awalnya mas Elyas selalu mengejekku apa aku bisa masak lah, masakanku tidak enak lah sampai melarangku untuk ke dapur. Tapi saat masakanku matang dia akan jadi orang pertama yang mencicipinya dan sia bilang

" Masakan Al gak enak jangan dimakan biar aku aja yang ngabisin, aku rela perutku sakit."

Hah....yang benar saja. Itu alasan paling bodoh yang pernah aku dengar, bilang saja kalau masakanku emang enak dan dia berencana menghabiskannya sendiri. Aku tidak berlebihan sungguh, dia bilang masakan ku tidak enak tapi saat mas Riski dan Ayah mencobanya mereka bilang masakanku enak kok. Jangan berpikir mas Riski dan Ayah hanya ingin menghiburku, karena meraka buakn tipe orang yang mau basa basi berbohong hanya untuk menghiburku Ok. Jadi sudah jelas siapa yang berbohong sekarang.

Biasanya acara masakku memang selalu rame kalau ada mas Elyas, tapi tidak dengan hari ini. Hari minggu ini semuanya ada di rumah, mas Riski dan mas Elyas di suruh ayah membersihkan halaman dan atap rumah yang penuh dengan daun kering dan aku seperti biasa memasak di dapur sedangkan Ayah dan Ibu istirahat di ruang keluarga sambil menonton tv. Kami melakukannya dengan senang hati, membiarkan Ayah dan Ibu bersantai satu hari dari seminggu yang melelahkan untuk mereka. Cukup adil bukan.??

Hari ini aku berencana membuat cemilan hari minggu. Tapi mengingat Ayah punya alergi terhadap tepung atau tepatnya zat gluten yang terdapat di tepung terigu membuat cemilan jadi hal yang sedikit sulit. Secara garis besar cemilan atau makanan ringan itu indentik dengan tepung. Aku merasa kasihan dengan Ayah, pasti tidak enak memilik alergi tepung ayah jadi tidak bisa makan mie, pizza, fresh chicken, dan makanan lainnya yang mengandung tepung. Untung saja Ibu ku pintar masak jadi dia tidak akan membiarkan ayah makan makanan di luar karena Ibu selalu membawakan bekal makan siang untuk ayah dan tentunya masakan ibu lebih enak, lebih sehat dan yang pasti bebas tepung.

Kata ibu cinta bisa datang lewat masakan. Pernah sekali saat menjelang hari Raya Idul Fitri selepas tarawih aku dan ibu membuat bermacam-macam kue kering dan saat itu ayah mencicipi kue yang baru keluar dari oven hanya satu potong dia langsung masuk kamar tanpa bilang apa-apa. Ibu yang baru sadar apa yang ayah lakukan langsung panik masuk kamar. Dan di dapati ayah dengan wajahnya yang memerah sambil terbatuk-batuk nafasnya pun terasa semakin sesak. Saat iitu ibu langsung memeluk ayah mengusap keringat di dahi ayah dan bilang

" Apa yang kau lakukan bodoh.??kau membuatku khawatir." Sambil memberi obat pada ayah, Ibu tak hentinya menangis. Suhu badan ayah juga tinggi meski telah di kompres ibu. Sungguh aku, mas Riski dan mas Elyas juga merasakan ketakutan yang sama dengan Ibu. Tapi ayah malah tersenyum dan bilang

"Aku tidak tahan melihat kue-kue buatan istri dan anakku, aku juga ingin mencicipinya dan rasanya benar-benar enak."

Oh....astaga semua menangis mendengar ucapan ayah. Dan sejak saat itu ibu tidak pernah lagi membuat kue, sampai ayah yang meminta ibu membuat kue bukan untuknya tapi untuk kami anak-anaknya dan ayah juga berjanji tidak akan memakannya lagi.Setelah sekian lama akhirnya ibu membuat kue lagi dan kali ini ibu meminta ayah untuk memakannya. Semua kaget tapi ibu bilang tidak apa-apa dan benar saja saat ayah memakannya tidak terjadi apa-apa. Kau harus lihat bagaimana ayah memakannya dengan lahap.
Saat ku tanya bagaimana ibu membuat kue untuk ayah dia bilang

" Itu resep rahasia ibu dan ada saatnya kamu yang akan membuatnya untuk ayah. Untuk saat ini biar ibu yang membuatnya." Senyumannya tak kan pernah hilang dari ibu jika membicarakan resep rahasia itu.

Dari kejadian itu aku percaya bahwa cinta ayah datang karena masakan ibu. :)
Sekarang aku pun mau membuktikan cintaku untuk keluarga dari masakan. Ibu belum memberitahu resep rahasianya padaku. Dan cemilan apa yang bisa aku buat dan dinikmati semuanya yaa..??Aha...aku punya ide.

***

" Wah...kelihatannya enak Al." Ucap mas Elyas tumben sekali dia memuji makananku.

" Benarkah.??" tanyaku memastikan.

" Tapi tidak tau dengan rasanya." jawabnya enteng, sudah ku duga.

" Kamu buat apa Al.?" tanya mas Riski yang baru masuk dari pintu belakang.

" Cemilan hari minggu mas hehehhe.." Jawabku ceria, bisa ku lihat mas Elyas mencibir cemburu mungkin melihat perbedaan sikapku.Hehehehe maaf mas El.
Tapi dia tetap membantuku membawakan jus yang sudah ku siapkan juga ke ruang keluarga.

"Lihat Al bikin camilan hari minggu nih." Ucap mas lebay saat masuk ruang keluarga dan duduk di karpet sambil meletakan cemilan yang ku buat di atas meja.

"Kalo di lihat dari bentuknya sih enak biar aku cicipi dulu yaa." Ucap mas Elyas mengambil pisau siap mempotong.

"Tidak boleh...kali ini aku dulu yang cicipi." Mas Riski tidak terima menepis tangan mas Elyas.

"Sudah...sudah...kamu buat apa Al.?"Ibu melerai mereka berdua sambil turun dari sofa melihat cemilan buatanku.

"Tada....cemilan minggu ini adalah punging coklat stowbery dengan vla vanila." Ucapku bangga sambil memotong puding buatanku dan membaginya untuk Ayah, Ibu, Mas Riski dan kemudian baru mas Elyas.

" Kenapa jadi aku yang terakhir." Ucap mas Elyas sambil menyuapkan potongan besar ke mulutnya.

"Hahhahahah..."Semuanya tertawa melihat tingkah mas Elyas.

" Kamu ini El." Ucap ayah sambil memegang kepala mas Elyas dan mengusapnya pelan.

Hari minggu yang sangat gembira. Tamat

Jumat, 08 Januari 2016

Hal yang paling berat di dunia adalah TIDAK MEMILIKI BEBAN

Semua pasti ada ibaratnya, seperti judul yang saya posting kali ini. Yaa...Hal yang paling berat di dunia adalah TIDAK MEMILIKI BEBAN. Kenapa.?? Bukan kah tidak memiliki beban akan menjadi ringan.?? Memang benar begitu, tapi tidak dengan ibarat yang satu ini.

Ibarat kan ada dua pendaki yang terjebak badai salju di jalan yang juram. Saat di tepian jurang mereka melihat ada seseorang yang tergelinjir orang itu tidak bisa berdiri karena kakinya patah. Di cuaca seperti itu, kondisi dan situasi seperti itu pendaki pertama ingin membantu orang yang tergelinjir tadi. Namun tidak dengan pendaki kedua, ia bahkan menyuruh teman nya untuk melajutkan perjalanan dengan alasan cuaca semakin buruk dan dingin yang menusuk tulang.

"Sudah kita lanjutkan perjalanan jika kita menolong orang itu kita semua akan mati." Ucap pendaki kedua.

Namun pendaki pertama tetap kukeh menolong orang yang tergelincir itu. Dan pendaki kedua pun melanjutkan perjalanan meninggalkan teman dan orang yang butuh pertolongan itu. Sedangkan pendaki pertama menolong orang itu dan menggendongnya di pugungnya lalu melanjutkan perjalannan dengan susah payah. Saat di tengah jalan ia tersandung sesuatu yang ternyata adalah teman pendakinya yang telah tewas tertimbun salju.

Di sini kita bisa menilai pendaki pertama selamat dari badai salju karena ia menggendong seseorang yang membuatnya berkeringat, belum lagi suhu badan yang bersentuhan dengan orang yang di gendongnya memberikan kehangatan lebih. Sedangkan pendaki kedua yang tidak memikul beban di punggungnya tidak bisa bertahan dengan dinginnya salju.

Tidak kah kalian pikir Tidak memiliki beban adalah hal paling berat di dunia.??

Ibarat lagi ada tiga orang berjalan di gurun pasir yang panas sedangkan persediaan air mereka tidak lah banyak. Di antara tiga orang itu ada yang mengusulkan untuk menggendongnya nanti akan bergantian jika sudah lelah. Satu orang tidak setuju karena ia mengira itu ide bodoh, mana ada yang lebih bodoh dari berjalan di gurun pasir yang panas sambil menggendong orang berjalan sendiri saja sudah kesulitan apa lagi di tambah beban.

Akhirnya satu memutuskan berjalan sendiri tanpa beban sedangkan yang satunya berjalan dengan menggendong temannya. Di tengah perjalanan mereka beristirahat makan dan minum bekal masing" namun tidak dengan orang yang di gendong temannya tadi. Karena ia di gendong ia tidak kelelahan dan tidak merasa haus sehingga ia tidak minum bekal airnya. Setelah istirahat mereka pun melanjutkan perjalannan nya, tetap dengan satu orang berjalan sendiri sedangkan orang yang di gendong pertama bergantian dengan temannya. Di rasa terlalu lambat orang yang berjalan sendiri itu berjalan mendahuli dan meninggalkan temannya.

"Kalian terlalu lambat sudah ku bilang itu ide bodoh, aku duluan yaa." orang yang berjalan sendiri itu pergi meninggalkan temannya.

Dengan susah payah mereka berjalan menyusuri gurun pasir. Di tengah jalan mereka melihat temannya yang mendahului tadi sedang duduk lesu, mereka pun menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi. Ternyata bekal air miliknya telah habis sedangkan ia sangat kehausan. Namun tidak dengan temannya yang di gendong karena tidak kelelahan ia pun tidak merasa begitu haus sehingga sisa bekal airnya di bagilah pada temannya yang kehausan.

Di sini kita juga bisa melihat dengan memikul beban kita bisa saling membantu bukan.??

Dalam hidup bukankah memang harus begitu.?? Setidaknya kita memiliki satu beban untuk kita tanggung entah itu orang tua, istri, atau anak. Namun jangan melihat beban itu sebagai beban jika kalian tidak mau bernasib seperti pendaki kedua dan orang yang berjalan sendiri.^^