Rabu, 23 Maret 2016
Berawan
Aku suka saat langit berawan di pagi hari. Saat hamparan putih menyelimuti biru begitu serasi. Saat matahari terhalang oleh awan memberikan hangat tapi tidak menyengat. Entah, hanya saja aku merasa matahari yang angkuh dengan sinar nya bisa di takluk kan oleh awan. Aku merasa matahari saat itu sedang tersipu malu. Seperti kekasih yang keras kepala yang luluh dengan kelembutan. Oh...tapi biar bagaimana pun matahari bertugas menyinari bumi, awan tidak bisa terus menghalanginya. Tapi ia bisa mendampinginya jikalau sinar nya terlampau menyengat awan akan menghalanginya. Dan saat itu aku bisa melihat matahari yang tersipu malu. ^_^
Rabu, 16 Maret 2016
Bianglala Pertama
Bianglala pertama. Apa kalian mengingatnya.? Jika kalian bertanya padaku jawabannya Tidak, aku tidak akan lupa. Kalau di pikir-pikir itu adalah satu-satunya kenangan yang kita miliki. Apa kalian juga berfikir begitu.? Apa kalian malah tidak mengingatnya. Hmm...baiklah kalau begitu biar aku ceritakan agar kalian mengingatnya.
Waktu ada pasar malam di dekat rumah kita dulu, apa kau mengingatnya. Saat itu kita ingin sekali ke sana, tapi tidak di ijinkan sampai nekat pergi sendiri. Ya sampai akhirnya kalian di hukum karna pergi tanpa pamit. Apa kalian sudah ingat.? Belum. Waktu itu baru pertama kalinya aku melihat kalian di hukum mengangkat satu kaki dengan kedua tangan menjewer telinga masing-masing. Huft sungguh kesempatan yang langka buat ku.
Karena sedikit kekeras kepalaan, akhirnya kita semua bisa pergi ke sana. Hal yang pertama kali kita tuju adalah penjual es crim. Ahhh...rasanya ingin tertawa setiap kali mengingat alasan es krim nya basi, membodohi anak kecil sudah biasa eh. Yang benar saja, alasan macam apa itu. Tapi apa boleh buat pop cron lah yang ada di tangan.
Roda besar yang berputar dengan kurungan di setiap jari-jarinya menjadi tujuan kita. Begitu besar dan tinggi ada sedikit rasa takut saat kalian mengajak ku menaiki wahana ini. Tapi ku tepis itu semua karena ada kalian berdua di dekatku. Apa kalian sudah mengingatnya.??Apa kalian juga mengingat posisi kita duduk.? Belum.
Baiklah..baiklah. Saat itu aku duduk di samping gadis kecil yang usiannya dua tahun lebih tua dariku dan di depan kita duduk sosok remaja laki-laki entah lah aku tidak tau berapa usianya saat itu. Karena ada kalian berdua aku jadi merasa aman dan terlindungi. Bianglala mulai berputar. Kurungan yang kita naiki pun mulai bergerak naik perlahan. Ada rasa takut saat itu. Tapi melihat pasar malam dari atas bianglala cukup menyenangkan. Sampai kalian mengusik kesenangan ku.
Saat kurungan bianglala terisi penuh, roda besar itu semakin mempercepat putarannya meski dalam batas wajar. Saat itu juga ketakutan ku semakin besar tapi kalian malah tertawa melihatku. Menyebalkan. Apa kalian mengingat saat itu.??
Saat ketakutan ku semakin menjadi, remaja laki-laki di depanku menyuruh gadis di sampingku untuk pindah tempat duduk di samping remaja laki-laki itu. Dia benar melakukannya dan kalian malah tertawa semakin keras saat aku semakin ketakutan. Kalian mengingatnya.??
" Huaaa....abang uni haaaaaa abang uni..." Apa teriakkan ku itu lucu buat kalian.
" Hahahahahaha." Tawa kalian semakin keras tapi gadis kecil tadi pindah duduk di sampingku kembali.
Apa kalian sudah mengingatnya.? Mengingat kenangan manis kita. Ayo lah kapan-kapan kita akan menceritakan semuanya dengan tawa yang lebih keras.
Senin, 14 Maret 2016
Aku Cantik di tangan Ayahku
Orang tua. Hmm aku hanya punya Ayah yang jadi orang tuaku. Kata ayah, ibu sudah di surga bersama malaikat ia pergi tepat saat aku lahir. Ayahku juga bilang kalau aku di tugaskan untuk menemaninya menggantikan ibu. Tapi ku rasa bukan aku, tapi ayahku yang menggatikan peran ibu. Ayahku yang merawatku dari kecil sampai sekarang. Tapi nanti saat aku sudah besar, aku yang akan merawatnya. :)
Setiap hari ayah akan bangun pagi membuatkanku sarapan dan juga bekal untuk makan siang. Aku juga akan membantunya memotong sayur atau sekedar mencuci piring. Masakan ayah benar-benar enak, kalian harus mencobanya. :) Apa lagi oseng kangkungnya. Ayahku hebat, dia bisa melakukan apa saja. Aku sangat bangga dengan ayahku.
Ayahku bukan dokter, bukan polisi, bukan tentara juga bukan pilot. Tapi ayahku hebat, ayahku seorang pengusaha. Dia punya perusahaan kecil yang setiap hari ia dorong. Gerobak yang penuh dengan aksesoris. Ada banyak aksesoris di sana. Ada pita, jepit rambut, bando, sirir, kaca aneka bentuk ada kuncir rambut dan karet rambut beraneka warna dan masih banyak lagi. Di rumah aku juga punya banyak sekali aksesoris seperti itu. Kalian lihat pita yang ada di rambutku. Cantik bukan. Ayahku yang memakaikannya. Setiap hari rambutku di sisir ayah dan di pakaikan aneka aksesoris. Aku bisa memilih sendiri yang mana yang mau aku pakai. Aku bagai tuan putri yang cantik, kata ayahku aku cantik seperti ibu. Setelah besar nanti aku akan menjadi pengantin yang cantik dengan bando berbentuk mahkota di kepalaku. Ayahku yang akan mengias rambutku. Aku akan cantik di tangan ayahku.
Teman-teman jika ingin cantik juga beli aksesoris pada ayahku. Nanti kalian bisa menggantinya setiap hari seperti aku. Nanti aku minta ayahku untuk memakaikannya. :) Terima kasih.
Prok...Prok..Prok
" Cerita yang bagus, Tiara." Ucap Bu Ima sambil mengusap rambut Tiara.
" Kamu boleh duduk, sekarang giliran Dewi." Lanjutnya mempersilahkan Tiara untuk duduk kembali.
" Nanti aku mau beli penjepit rambut pada ayahmu yaa." Bisik Tania teman sebangku Tiara.
" Boleh." Ucap Tiara sambil tersenyum memperlihatkan giginya. Pipi gembulnya meninggi membuat mata belonya sedikit menyipit.
Setiap hari ayah akan bangun pagi membuatkanku sarapan dan juga bekal untuk makan siang. Aku juga akan membantunya memotong sayur atau sekedar mencuci piring. Masakan ayah benar-benar enak, kalian harus mencobanya. :) Apa lagi oseng kangkungnya. Ayahku hebat, dia bisa melakukan apa saja. Aku sangat bangga dengan ayahku.
Ayahku bukan dokter, bukan polisi, bukan tentara juga bukan pilot. Tapi ayahku hebat, ayahku seorang pengusaha. Dia punya perusahaan kecil yang setiap hari ia dorong. Gerobak yang penuh dengan aksesoris. Ada banyak aksesoris di sana. Ada pita, jepit rambut, bando, sirir, kaca aneka bentuk ada kuncir rambut dan karet rambut beraneka warna dan masih banyak lagi. Di rumah aku juga punya banyak sekali aksesoris seperti itu. Kalian lihat pita yang ada di rambutku. Cantik bukan. Ayahku yang memakaikannya. Setiap hari rambutku di sisir ayah dan di pakaikan aneka aksesoris. Aku bisa memilih sendiri yang mana yang mau aku pakai. Aku bagai tuan putri yang cantik, kata ayahku aku cantik seperti ibu. Setelah besar nanti aku akan menjadi pengantin yang cantik dengan bando berbentuk mahkota di kepalaku. Ayahku yang akan mengias rambutku. Aku akan cantik di tangan ayahku.
Teman-teman jika ingin cantik juga beli aksesoris pada ayahku. Nanti kalian bisa menggantinya setiap hari seperti aku. Nanti aku minta ayahku untuk memakaikannya. :) Terima kasih.
Prok...Prok..Prok
" Cerita yang bagus, Tiara." Ucap Bu Ima sambil mengusap rambut Tiara.
" Kamu boleh duduk, sekarang giliran Dewi." Lanjutnya mempersilahkan Tiara untuk duduk kembali.
" Nanti aku mau beli penjepit rambut pada ayahmu yaa." Bisik Tania teman sebangku Tiara.
" Boleh." Ucap Tiara sambil tersenyum memperlihatkan giginya. Pipi gembulnya meninggi membuat mata belonya sedikit menyipit.
Jam ke 3-4
Pelajaran Bahasa Indonesia
Kelas 1
SDN Pengasih
Selasa, 01 Maret 2016
Ada kah Yang Lebih Indah dari Mimpiku
Ya Allah adakah yang lebih baik dari apa yang aku impikan selama ini.??
Bukankah mimpiku sudah begitu indah.
Sampai aku pun ingin hidup di dalamnya.
Sampai rela ku tukar dengan dunia nyataku.
Tapi jika memang Engkau menyiapkan yang lebih indah dari mimpiku.
Aku rela menukarkan mimpi indahku untuk rencanamu.
Jadi adakah yang lebih indah dari mimpiku.??
Suka Tanpa ada Tapi
Aneh...
Memang aneh..
Aku suka mawar tapi tidak dengan durinya
Aku suka kopi tapi benci rasa pahitnya
Aku suka hujan tapi tidak dengan petirnya
Aneh memang...
Apa??
Entah apa
Yang aku suka walau melukai
Yang bisa ku rasa tanpa membenci
Yang bisa ku nikmati tanpa takut mati
Apa??Entah apa.
Mencari
Walau tak hilang
Namun belum ku temukan
Sesuatu yang tanpa tapi
Fanfiction Shikatema "Mendokusai"
Hal paling merepotkan adalah jika kau
memiliki kekasih seumuran dengan adikmu. Apa lagi jika dia juga teman
sekolah adikmu atau lebih tepatnya musuh adikmu. Itu akan membuat
kalian terus menerus mengucapkan kata merepotkan benar-benar
merepotkan. Tapi itu lah yang terjadi pada ku. Memiliki kekasih tiga
tahun di bawahku yang merupakan siswa Konoha High School tahun ke
tiga. Mungkin tidak masalah jika yang lebih tua dari pihak laki-laki,
tapi sayangnya itu kebalikannya. Yang lebih merpotkan lagi dia selalu
saja bermasalah dengan kedua adik laki-laki ku. Benar-benar
merpotkan, seperti sekarang ini.
“ Apa yang kau pikirkan,
kankuro.?berkelahi lagi.” geram sekali aku dengan bocah ini. Yang
benar saja aku harus ijin dari tempatku bekerja hanya karna adik ku
lagi-lagi membuat masalah di sekolahannya.
“ Dia yang memulainya nee-chan.”
belanya sambil menunjuk anak laki-laki yang juga berada di ruangan
bimbingan konseling ini. Agak heran saat aku melihatnya, aku kenal
dia sangat mengenalnya. Dia Nara Shikamaru kekasihku, dia bukan tipe
orang yang suka berkelahi lebih tepatnya dia terlalu malas untuk hal
yang merepotkan seperti ini jika tidak ada alasannya. Jadi sudah
jelas siapa biang keladinya. Langsung saja aku memberikan tatapan
tajam pada kankuro, aku tidak bisa di bohongi oleh bocah ini.
“ Di mana orang tuamu Shikamaru.?”
Tanya Asuma sensei.
“ Hoam...mereka tidak akan datang
sensei, aku sudah bilang mereka tidak akan mau terlibat masalah yang
merepotkan seperti ini.” Jawabnya santai sambil menguap lebar.
Sudah ku duga.
“ Baiklah...baiklah jadi bisa kalian
jelsakan semua ini Shikamaru Kankuro.?” Tanya Asuma sensei lagi.
Dari penjelasan mereka berdua aku bisa
mengambil kesimpulan. Pertama Kankuro mengganggu teman perempuannya
yang bernama Yamanaka Ino. Kedua Shikamaru melihat kejadian itu
langsung menghajar Kankuro. Ketiga Kankuro tidak terima lalu
menyerang Shikamaru. Keempat Shikamaru tidak melawannya hanya
menghindar. Kelima saat Shikamaru menghindari pukulan Kankuro tanpa
sengaja pukulannya mengenai kaca sampai pecah berantakan. Pantas ku
lihat tangan kanan Kankuro di perban dengan wajah memar di ujung
bibirnya, sedangkan Shikamaru tidak terluka sedikit pun. Aku merasa
tidak enak pada Asuma sensei lagi-lagi adik ku membuat masalah. Aku
juga tidak enak pada Shikamaru, tapi siapa Yamanaka Ino itu samapi
dia rela terlibat masalah hanya karna menolong perempuan itu. Dia
tipe orang yang tingkat kepeduliannya di bawah rata-rata berbeda
terbalik dengan tingkat kejeniusannya. Jadi siapa Yamanaka Ino itu
sampai membuat orang seperti Shikamaru bertindak di luar karakernya.
Aku curiga dan ya aku akui aku sedikit cemburu hanya sedikit.
“ Jadi begitu, baiklah karna kalian
berdua berkelahi dan mengganggu siswa lain kalian di skorsing dua
hari kalian tidak boleh mengikuti pelajaran sebagai gantinya kalian
akan membersihkan seluruh sekolah kebetulan tukang kebun kita sedang
cuti dua hari. Apa kalian mengerti.?” jelas Asuma sensei memberi
hukuman pada mereka berdua.
“ Ha'i.” Jawab mereka berdua
kompak.
“ Ku harap kalian bisa bekerja sama
besok aku tidak mau kejadian ini terulang kembali dan kau Shikamaru
karna orang tuamu tidak hadir setelah jam pelajaran selesai kau harus
membersihkan lorong kelas sampai bersih. Kalian berdua boleh pergi.”
Perintahnnya pada Shikamaru dan Kankuro. Setelah mereka berdua keluar
aku jadi semakin tidak enak pada Asuma sensei.
“ Maafkan kelakuan adik saya Asuma
sensei, aku akan ganti kerusakan kacanya.” Ucapku sambil
membungkuk.
“ Tidak usah khawatir Temari-san, ku
tau ini pasti sulit untukmu.” Ucapnya padaku. Ku rasa memang benar
setelah kedua orang tuaku meninggal aku harus kuliah sambil bekerja
untuk mencukupi kebutuhan dan juga biaya sekolah kedua adik ku.
Untung saja tempatku bekerja bisa mengikuti jadwal kuliah ku. Jika
aku masuk kuliah pagi maka sorenya aku bekerja dan begitu sebaliknya.
Biasanya hari minggu aku libur kuliah tapi aku tetap mengambil lembur
di tempat kerja. Masalah seperti ini memang membuatku pusing.
“ Terima kasih sensei, aku akan
bilang pada mereka agar tidak membuat masalah lagi.” Ucapku sambil
membungkuk lagi.
“Hahahaha tapi dengan begini aku jadi
punya alasan untuk menghukum bocah pemalas itu.” Ucapnya sambil
tertawa.
“ Maksud anda Shikamaru.?” tanya ku
heran.
“ Ya siapa lagi, tidak kah kau lihat
dia seperti tidak memiliki gairah hidup aku hanya ingin memberinya
sedikit pelajaran.” ucapnya lagi. Oh Asuma sensei tiadak tau saja
anda setiap hari aku selalu melihat tampang malasnya yang selalu
menguap lalu mengucapkan kata favoritnya 'mendokusi' itu. Anda benar
mungkin dia memang perlu di beri sedikt pelajaran karna ku tau
setelah ini dia akan di marahi habis-habisan oleh ibunya.
“ Baiklah Temari-san kau boleh pergi,
maaf telah mengganggu waktumu.” Ucapnya sambil tersenyum membuatku
semakin tidak enak saja.
“ Aku yang seharusnya minta maaf,
baiklah kalau begitu aku permisi sensei.” Aku membungkuk sekali
lagi sebelum pergi.
**
“ Aaaww....sakit nee-chan pelan-pelan
sedikit.” rengek Kankuro saat aku membersihkan luka di wajahnya.
“ Bagaimana mungkin kau yang
mengajaknya berkelahi tapi kau sendiri yang babak belur?” tanya
Gaara adik bungsu ku yang masih duduk di kelas 2 SMA. Ia duduk di
sofa di sampingku yang sedang mengobati luka Kankuro.
“ Urusai...aaaaww.” Teriak Kankuro.
“ Dia bahkan tidak melukai lawannya
sama sekali.” Sindirku.
“ Jadi nee-chan ingin aku sampai
melukainya baik aaaaw.” Teiaknya lagi kali ini aku memang sengaja
mengikat perban di tangan kanannya dengan kencang.
“ Jangan coba-coba kalau kau tidak
mau kehilangan tanganmu.” Ancamku tepat saat aku menggunting perban
di tangannya. Ku rasa ancamanku cukup ampuh.
“ Aku juga tidak pernah mengajarimu
mengganggu seorang gadis kan. Ahh kenapa kalian selalu membuat
masalah, kalian tau aku tidak punya cukup waktu untuk mengurusi
masalah seperti ini.” ucapku sambil merapikan alat-alat P3K ke
dalam kotak.
“ Kenapa kau juga menyalahkanku.?”
Protes Gaara.
“ Aku tidak menyalahkanmu.”
Jawabku.
“ Tadi kau mengatakan 'kalian'.”
Ucapnya sambil menatapku tajam. Oh bocah ini memancing emosiku.
“ Oh benarkah.?? kalau begitu apa kau
lupa minggu lalu aku juga dapat panggilan karna hal yang sama.?”
Sebenarnya aku tidak mau mengungkit masalah ini lagi. Tapi dia
benar-benar membuatku kesal.
“ Tiga orang masuk rumah sakit dan
dua diantaranya mengalami patah tulang, apa kau tidak ingat itu
Gaara.?” Itu memang bukan pertanyaan yang perlu di jawab, aku hanya
mengingatkan masalah yang di lakukan Gaara minggu lalu. Yang benar
saja tiga orang masuk rumah sakit dan dia marah karna aku bilang dia
membuat masalah. Bukan kah itu memang masalah. Oh dulu adik-adik ku
tidak seperti ini, setelah orang tuaku meninggal emosi mereka jadi
tidak terkendali. Apa lagi Gaara, mungkin dari luar ia tampak seperti
anak baik yang pendiam tapi jangan salah jika ada yang membuatnya
marah dia akan sangat berbahaya.
“ Aku tidak punya waktu hanya untuk
mengurusi masalah kalian di sekolah.” Ucapku sambil membawa kotak
P3K ke arah dapur.
“ Tapi kau selalu punya waktu untuk
bocah pemalas itu.” Ucap Kankuro seketika menghentikan langkahku.
Aku sadar, aku telah salah bicara pada mereka. Tapi tunggu dulu bocah
pemalas, apa Kankuro sudah mengetahuinya.
“ Bersikaplah dewasa.” Ucapku
sambil meneruskan langkahku ke dapur. Aku harus menyiapkan makan
malam.
“ Kankuro, aku tidak mau tau kau
harus minta maaf pada temanmu dan kau Gaara kerjakan PRmu.” Titah
ku dari dalam dapur. Sungguh sebenarnya aku merasa bersalah pada
mereka berdua. Yang di ucapkan kankuro memang benar aku jarang sekali
menghabiskan waktu untuk mereka. Yang ada di fikiranku hanya
bekerja,bekerja dan bekerja tapi semua itu juga untuk mereka bukan.
Apa mungkin yang di katakan Shikamaru itu benar, mereka berbuat onar
hanya karna mereka merasa tidak di perhatikan lagi oleh ku. Apa yang
harus aku lakukan.
Ting Tong Ting Tong
“ Gaara tolong
buka kan pintunya.” Teriaku dari dalam dapur.
“ Kankuro saja
yang buka.” yang di suruh malah ganti menyuruh Kankuro.
“ Tidak mau kau
yang di suruh cepat buka sana.” Bukannya membukakan pintu mereka
malah asik berdebat. Apa boleh buat aku mengalah kali ini mungkin
mereka masih marah padaku.
“ Kau..” Saat
aku melihat Shikamaru berdiri di depan pintu.
“ Ada perlu apa
kau kemari.?” Tanya ku heran.
“ Aku di paksa
ibuku memberikan obat tradisional keluara Nara untuk adikmu.”
Ucapnya sambil menyerahkan paper bag kecil padaku.
“ Terima kasih
Shikamaru ini pasti merepotkanmu kan.”
“ Hoam...” dia
hanya menguap.
“ Sebaiknya kau
masuk dulu, aku baru selesai masak kita bisa makan malam bersama.”
Ajak ku sambil menarik pergelangan tangannya.
“
Ck...mendokusai.” Grutunya tapi dia tidak menolak ajakkan ku.
“ Nee-chan
kenapa kau bawa dia masuk.?” tanya Kankuro geram.
“ Kankuro
sepertinya aku sudah memperingatkanmu tentang ini, lagi pula dia
berniat baik membawakanmu obat.” Ucapku sambil memberikan obat yang
Shikamaru bawa padanya.
“ Ck.”
lagi-lagi aku harus mendengar kata itu lagi.
“ Shikamaru kau
duduk saja dulu aku akan siapkan makan malamnya.” Ucapku sambil
meninggalkan mereka bertiga di ruang tengah. Aku harus melanjutkan
pekerjaan ku, ku harap mereka tidak memulai perang lagi.
“ Terima kasih
Temari.” Ucap Shikamaru sambil memberikan senyumannya padaku
Tanpa di ketahui Temari,
perbincangan hangat terjadi di antara mereka bertiga.
“ Temari eh,
harusnya kau memanggilnya Temari-nee.” Gaara mendelik manatap
Shikamaru.
“ Aku tidak
peduli dia itu kakak kalian bukan kakak ku.” Jawabnya santai.
“ Ck...jangan
kau pikir kami tidak tau Shikamaru.” ucapnya Gaara lagi dengan
tatapan lebih tajam.
“ Hehehe aku
memang tidak berniat menyembunyikannya dari kalian.” Dengan tampang
bodohnya ia berusaha mencairkan suasana. Ia merasa di intrograsi oleh
kedua adik Temari.
“ Jangan kau
pikir kau akan mudah mendapatkannya.” Kali ini Kankuro yang
menyudutkan Shikamaru.
“ Kau benar
sangat sulit menyakinkannya untuk menerimaku.” Jawabnya santai.
“ Kami tidak
sedang bercanda Shikamaru. Jika kau berani menyakiti dia kami tidak
akan diam.” Ancaman Kankuro.
“ Kalian tenang
saja aku sangat mencintainya tidak mungkin aku akan menyakitinya.”
Jawabnya tegas.
“ Kita lihat
saja, sampai ku lihat dia mengeluarkan air mata setetes saja karenamu
habis kau.” Kali ini ancaman dari Gaara sedikit memberikan seringai
licik andalannya.
“ Oh iya...ku
rasa dia akan menanyakan tentang Ino padamu. Kau tau sendiri
bagaimana menyakinkannya bukan.” Kankuro menambahi.
**
“ Kalian sedang
apa.?” Tanya ku heran melihat mereka duduk mengampit Shikamaru.
“ Ahh...aku
hanya meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Benarkan Shikamaru?”
Ucap kankuro buru-buru.
“ Hm.” Jawab
Shikamaru.
“ Bagus kalau
begitu. Makan malam sudah siap.” Ucapku sambil menyuruh mereka
untuk ke ruang makan.
“ Selamat
makan.” Ucap semuanya.
“ Oh iya
Shika-chan, bagaimana ibumu bisa tau kalau kau berkelahi.?” Tanyaku
di sela makan malam.
“ Uhuk Shika.”
“-chan. Yang
benar saja.” Ku lihat Gaara dan Kankuro terkekeh kecil dan
Shikamaru tersedak minumannya. Apa aku salah bicara lagi.
“ Asuma sensei
yang memberitahukannya.” Jawab Shikamaru dengan wajah memerah. Ada
apa dengannya apa dia sakit.
“ Salam untuk
ibumu ya dan terimakasih.” ucapku sambil tersenyum. Selanjutnya
kami hanya makan dalam diam.
“ Kau tidak
pulang Shika-chan.? Nanti ibumu mencarimu.” Ucap Kankuro seperti
sindiran.
“ kankuro
sopanlah sedikit.”
“ Tidak apa lagi
pula aku memang harus pulang.” Jawab Shikamaru.
“ Baiklah aku
antar sampai depan.”
**
“ Shika-chan
yang benar saja Temari kau mau mempermalukanku di depan adikmu.?”
Ucapnya saat sampai di halaman depan.
“ Kenapa kau
marah padaku. Aku hanya tidak ingin mereka tau hubungan kita itu
saja.” Jawabku sambil menunduk.
“ Memang kenapa
kalau mereka tau.?” Tanyanya lagi.
“ Itu akan sulit
untukmu.”
“ Akan lebih
sulit jika kita terus menyembuyikannya. Lagi pula aku tidak mau kau
perlakukan seperti bocah apa lagi di depan mereka.” Ucapnya sedikit
berteriak.
“ Kenapa kau
berteriak.?”
“ Aku tidak
berteriak.”
“ Kau
berteriak.”
“ Tidak.” “
Iya”
“ Lagi pula
siapa itu Ino.?” tanyaku mengenai gadis yang di ganggu Kankuro tadi
pagi.
“ Dia hanya
temanku dari kecil.” Jawabnya santai
“ Teman.? Aku
tidak pernah tau kau punya teman wanita.”
“ Aku punya
banyak teman wanita apa perlu aku sebutkan satu-satu.” Jawabannya
membuatku marah tapi yang ku lakukan hanya diam.
“ Ino, Sakura,
Hinata, Tenten, Shion, Tayuya dan masih banyak lagi. Apa kau pikir
aku ini homo hanya punya teman laki-laki.” Jawabnya menyebutkan
satu persatu teman perempuannya.
“ Pertama kali
eh.? Ino kau menyebutnya pertama kali.” aku tidak bisa menahan
emosiku lagi.
“ Ya ampun
perempuan memang merepotkan.” Bukannya menenangkanku dia malah
mengejekku. Aku sudah tidak berniat berdebat dengannya, aku hendak
masuk dalam rumah tapi pergelangan tanganku di tahan olehnya.
Aku merasa hangat
saat tubuhku di pelukknya. Air mataku tanpa di perintah sudah menetes
dengan sendirinya. Ada apa denganku aku tidak pernah menangis
sebelumnya.
“ Jangan menagis
Temari, itu akan membuatku dalam masalah.” Ucapnya sambil membelai
rambutku.
Sedangkan di dalam rumah.
“ Jangan
sekarang Gaara. Ini belum waktunya.” Kankuro mencegah adiknya yang
berniat keluar dan menghajar Shikamaru.
**
“ Maafkan aku
Temari tapi jujur Ino hanya temanku dari kecil. Aku, Choji dan Ino
berteman dari kecil kami selalu bersama aku sudah menganggap mereka
seperti saudaraku sendiri. Jika ada yang menyakiti mereka aku akan
marah, sama hal jika ada yang menyakitimu aku pun akan marah. Meraka
dan kau itu sama-sama berharga bagiku, tapi kau itu beda. Kau tau
maksudku kan.” Dia menjelaskannya padaku sambil terus memelukku,
aku hanya bisa menganggukan kepakaku dalam dekapannya.
“ Sekarang hapus
air matamu sebelum aku mendapatkan masalah.” Ucapku sambil
melepaskan pelukannya. Aku hanya bisa menuruti ucapannya. Tapi
tiba-tiba.
Brukk..
Gaara tiba-tiba
menghantam wajah Shikamaru sampai ia terjatuh. Ku lihat Kankuro
berlari dari dalam rumah.
“ Aku sudah
memperingatkanmu Shika-chan.” Ucap Gaara masih melayangkan tinjunya
pada Shikamaru yang tersungkur.
Brukk..brukk..
“ Gaara apa yang
kau lakukan.? Hentikan.” aku mencoba menghentikannya.
“ Diam lah
nee-chan ini urusanku dengannya.” Gaara sama sekali tidak
menghiraukanku.
“ Kankuro
lakukan sesuatu.”
“ Aku juga ingin
memukulnya nee-chan tanganku masih terluka.” Jawab Kankuro enteng.
“ Kankuro...”
teriakku.
Brukk..brukk..
Kankuro mencoba
menghentikan Gaara tapi tetap tidak bisa. Gaara semakin menjadi
menghajar Shikamaru.
“ Gaara
hentikan.”
“ Hentikan...ku
mohon hentikan Gaara.” Teriaku memohon. Nampaknya Gaara
mendengarkanku. ku lihat dia bengkit dari atas tubuh Shikamaru yang
babak belur. Langsung saja aku mendekapnya dalam pelukanku.
“ Shikamaru kau
dengar aku.” Shikamaru hanya menjawab dengan suara tak jelas. Ku
rasa dia hampir kehilangan kesadarannya.
“ Apa yang kau
lakukan Gaara.? Kau ingin membunuhnya ah.?” Teriak ku. Kankuro
sudah membantuku untuk memapah Shikamaru masuk ke dalam rumah.
Aku
membaringkannya di sofa. Kankuro langsung mengambil kotak P3K yang
aku letakan di dapur. Dan ku lihat Gaara hanya berdiri sambil melipat
kedua tangan di dada.
“ Apa yang kau
lakukan padanya.?” Tanyaku dengan nada rendah.
“ Aku hanya
melakukan apa yang harus ku lakukan.” Jawabnya tenang.
“ Yang harus kau
lakukan. Aku tidak pernah mengajarimu jadi brandalan seperti ini.”
Kankuro sudah datang membawa kotak P3K. Langsung saja ku obati luka
di wajah Shikamaru.
“ Aaaaa...”
Rintihnya saat aku menyentuh lukanya.
“ Maaf.”
“ Tidak apa
Temari kau tidak perlu marah padanya. Ini memang salahku.” Suara
Shikamaru lirih.
“ Apa yang kau
bicarakan.?” Tanyaku
“ Aku hanya
dapat hukuman dari adikmu karna telah membuatmu menangis.” meski
lirih aku masih bisa mendengar suaranya.
“ Shikamaru....”
Suaraku seakan tercekat di tenggorokan. Air mataku mengalir begitu
saja mendengar penjelasan Shikamaru.
“ Jangan
menangis lagi Temari kau ingin aku di hajar lagi eh.?” ucapnya
sambil menghapus air mataku. Aku tidak bisa menahannya lagi langsung
ku dekap dia dalam pelukku tidak peduli lagi Gaara dan Kankuro tau
hubungan ku dengan Shikamaru. Aku hanya ingin memeluknya memberikan
cintaku yang tulus lewat pelukan. Ku tumpahkan semua air mataku di
pundaknya, aku tau dia pasti meraskan sakit di tubuhnya tapi aku
hanya ingin memeluknya.
“ Sudah ku
bilang jangan menagis kau ingin...”
“ Biarkan saja.
Aku hanya ingin memelukmu jika ada yang memukulmu lagi dia akan
berurusan denganku.” Ancamanku ku tunjukan untuk Gaara dan Kankuro.
“ Dan kalian
berdua bisa jelaskan semuanya setelah ini.” melepaskan pelukakku
dan menatap adik ku satu per satu.
**
“ Aku tidak
terima. Aku tidak pernah mengajarkan kalian jadi brandalan seperti
ini.” Mereka telah menjelaskan semuanya padaku bahwa mereka telah
tau hubunganku dengan Shikamaru dari awal. Aku juga tau janji konyol
apa yang mereka buat sampai mengakibatkan Shikamaru seperti ini. Aku
tau mereka melakukannya karna sayang padaku tapi aku tetap tidak
terima dengan perbuatan mereka.
“ Tidak terima
bagaimana, Shikamaru saja tidak keberatan.” Jawab Kankuro.
“ Urusai...aku
tetap tidak terima. Aku tidak mau kalian jadi brandalan. Aku tidak
mau ada kekerasan. Dan aku tidak mau tau kalian berdua harus minta
maaf pada Shikamaru kalau tidak kalian tidak boleh keluar rumah
seumur hidup kalian, tidak ada uang jajan, tidak ada HP semuanya akan
ku sita. Kalian mengerti.?”
“ Tapi...”
“Tidak ada tapi.
Kalian mengerti.?” Tanyaku sekali lagi.
“ Hmm.” Jawab
mereka kompak.
“ Bagus.”
mungkin yang di katakan Asuma sensei ada benarnya juga. Mungkin
mereka memang butuh di beri sedikit pelajaran, sedikit gertakan dan
sedikit ancaman. Semoga setelah ini mereka bisa akur dengan
Shikamaru. Karna jika ku lihat sepertinya mereka tidak membenci
Shikamaru hanya cemburu padanya. Entah lah. Apapun yang terjadi aku
tidak mau menyakiti mereka semua. Karna mereka sangat sangat berharga
bagi ku.
“ Dan kau
Shikamaru kenapa tidak menjelaskannya dari awal. Kalau aku tau dari
awal ini semua tidak akan terjadi dasar baka.” Umpatku pada
Shikamaru. Sebenarnya aku kasihan melihatnya babak belur seperti ini
tapi aku juga tidak bisa menahan emosi ku saat tau kalau dia
menyembunyikan sesuatu sepenting ini dariku.
“ Mendokusai.”
Klasik
Dia
berbeda dari kebanyakan pria yang pernah ku temui. Dia berbeda tidak
seperti pria klasik lainnya. Dia bebeda, dulu aku benci sekali pria
klasik yang selalu ingin melindungiku apa pun yang terjadi tapi dia
berbeda tidak seperti pria lainnya dia melakukan hal yang klasik
dengan cara yang berbeda. Sudah ku bilang dia itu berbeda. Dan aku
suka.
Dulu saat aku tak bersamanya aku selalu di perlakukan bak seorang putri negri dongeng. Mereka yang dulu pernah dekat denganku selalu memberikan perhatian lebih. Saat aku sakit mereka memperlakukanku seperti gadis manja. Tidak pernah membiarkanku pergi sendiri, dan selalu memberikan apa yang aku butuhkan.
Seperti saat aku kehujanan mereka rela berlari menerobos hujan hanya untuk memberiku payung. Saat aku kedinginan mereka rela melepas jaketnya untuk ku kenakan sedangkan mereka harus menahan cuaca yg dingin hanya dengan selembar kaos di badannya. Ada lagi saat aku makan bersamanya tak sengaja ada saos yang menempel di ujung bibirku mayoritas mereka akan melakukan hal yang sama membersihkannya untukku. Bahkan ada yang memaksa ku untuk di suapinnya. Sungguh jika kalian berfikir bahwa itu manis ku rasa aku akan muntah sekarang. Menurutku itu semua tidak lain adalah hal konyol yang menjijikan.
Tapi dia berbeda seperti saat ini. Saat di mana kampusku mengadakan kemah di lereng gunung yang kalian tau dinginnya seperti apa saat malam tiba. Dan sialnya aku lupa membawa jaket dan sialnya lagi sekarang aku juga tidak pnya seorang pria klasik yang rela memberikan jaketnya agar aku tetap hangat. Oh...sungguh sial untuk apa aku memikirkan pria klasik toh aku tidak butuh mereka, aku masih bisa menghangatkan tubuhku sendiri jika tetap berada di dalam tenda.
" Ayo semuanya kumpul.!!" Teriak sesorang dari luar, sial itu seniorku pasti ada acara entah apalah di luar sana. Aku tidak mungkin keluar dalam keadaan begini. Bisa di tertawakan sebagai orang bodoh yang tidak membawa jaket ke acara seperti ini jika aku nekat bisa-bisa aku mati kedinginan. Aku juga tidak bisa tetap di dalam tenda sedangkan seniorku sudah berteriak-teriak seperti itu. Mati lah aku..
"Ini.."
Tiba-tiba saja dari luar ada yang melemparku jaket benda yang aku
butuhkan, saat ku mendongak aku melihat dia.
"
Pakai saja." Ucapnya singkat.
"
Tapi..kau bagaimana.?" Tanyaku. Tapi sejak kapan aku bertanya
keadaan seorang pria klasik seperti dia. Tapi menurutku dia berbeda
dari pria klasik lainnya.
"
Aku bukan tipe orang bodoh yang rela memberikan jaketku padamu di
cuaca yang dingin seperti ini ini." Sudah ku duga di berbeda.
"
Ta..tapi ini." Ucapku sedikit binggung lalu ini jaket siapa yang
dia berikan padaku.
"
Aku membawa dua kalau kalau ada orang bodoh sepertimu yang
membutuhkan." Sial harusnya aku sakit hati saat dia bilang
seperti itu tapi entah kenapa aku malah bahagia mendengarnya.
"
Cepat pakai dan keluar." Ucapnya dingin dan berlalu begitu saja.
***
Sejak kejadian di lereng gunung itu aku selalu memperhatikannya. Ternyata dia adalah salah satu seniorku yang menjadi panitia acara kemah kemarin. Namanya Arya dan seperti dugaanku dia memang berbeda dari pria klasik lainnya, dia melakukan hal klasik dengan caranya sendiri. Dia selalu memperlihatkan tingkat kecuekannya yang tinggi tapi sebenarnya dia amat peduli.
Dia berbeda. Itu yang aku tau.
"
Kau itu bodoh atau apa.?" Tanyanya padaku.
"
Eh.." Aku bingung kenapa dia tiba-tiba bicara seperti itu.
"
Kau mau hujan-hujanan.?" Tanyanya lagi. Dan aku mulai mengerti,
kami memang baru saja turun dari bus yang sama di halte yang sama.
Dan memang saat ini sedang hujan deras sialnya aku juga lupa bawa
payung, tapi tidak apa toh rumahku tinggal dekat dari sini di gang
sebrang halte ini.
"
Ah...rumahku tidak jauh dari sini kok." ucapku menanggapinya.
"
Tunggu sampai hujannya reda."
"
Tapi rumahku tidak ja.."
"
Kau mau orang lain melihat pakaian dalammu saat bajumu basah lihat
dirimu kau bahkan tidak pakai jaket." Ucapnya memotong
pembicaraanku.
"
-uh." Aku hanya bisa melajutkan ucapanku yang tinggal satu suku
kata karna memang sudah di ujung lidah. Aku tidak habis pikir pakaian
dalam...pakaian dalam bukan alasan yang sering ku dengar yaa
seperti nanti kau sakit atau apalah tapi pakaian
dalam. Oh...dia memang berbeda.
Akhirnya aku duduk di halte menunggu hujan reda untuk pulang ke rumah yang hanya tinggal beberapa meter lagi. Di sampingku ada dia yang katanya menunggu bus yang lain karna memang harus translite di halte ini untuk pulang ke rumahnya. Hanya kami berdua yang ada di sini, aku menunggu hujan reda sedangkan dia menunggu bus menjemputnya. Kami hanya diam menikmati tirai hujan yang membasahi aspal. Tidak ada yang berniat memecahkan kesunyian ini kecuali germicik hujan yang semakin deras. Aku ragu hujan ini akan segera reda.
Bus yang di tunggunya telah sampai di depan kami. Dia berdiri lalu mengeluarkan sesuatu dalam tasnya.
" Pakai saja dan cepat pulang sudah semakin gelap." Ucapnya sambil memberikan payung lipat padaku.
"
Aku lupa katanya orang bodoh tidak bisa demam karna hujan, apa kau
mau membuktikannya.?" Ucapnya lulu hilang bersama bus. Aku tak
bisa berkata apa-apa serasa suaraku berhenti di tenggorokan mendengar
apa yang di ucapkanny. Sungguh dia berbeda
"
kau yang bodoh." Teriakku saat suaraku berhasil keluar. Kalau
sia tidak bodoh kenapa tidak dari tadi saja meminjamkan payungnya toh
dia juga tidak memerlukannya. kenapa harus membicarakan tetang
pakaian dalamku. Bodoh.
Sejak kejadian di halte, aku belajar banyak memang karna selama ini aku punya pria klasik yang selalu melindungi dan memberikan apa yang aku butuhkan membuatku lupa cara mengurus diri sendiri. Dan kali ini tidak lagi, aku tidak membutuhkan pria klasik manapun. Aku pasti bisa.
***
Hari ini aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku sudah memakai jaket karna memang pagi ini dingin sekali dan aku juga sudah bawa payung lipat dalam tas, bawa air di botol dan sapu tangan bahkan aku juga bawa P3K kecil dalam tasku. Ku rasa sudah lengkap semuanya aku yakin hari ini dan seterusnya aku tidak butuh pria klasik lagi.
Setelah selesai kuliah aku berniat mengembalikan jaket dan payung yang sempat ku pinjam pada arya. Aku mencarinya di kantin tidak ada, di lapangan basket tidak ada, kampus terlihat sepi karna memang sudah hampir jam 6 sore hanya tinggal beberapa orang saja yang terlihat mungkin mereka sama sepertiku dapat jam kuliah tambahan. Itu dia Arya ada di taman bersama teman-temannya, haruskah aku ke sana atau menunggu teman-temannya pergi, tapi sudah sore,ahh sekarang saja toh hanya mengembalikan ini bilang terima kasih dan selesai.
" Permisi kak saya mau mengembalikan jaket dan payungnya." Ucapku memberanikan diri
"
Cie..cie Arya." Goda kak Ray pada Arya sambil menyenggol
bahunya.
"
Arya ternyata ada kemajuan sekarang,,kamu Sara mahasiswi baru itu
kan.?" Tanya seniorku lagi Kak Windy.
"
I..iya kak." Jawabku. Ku lihat Arya masih saja diam bahkan dia
tidak memerima paper bag yang berikan.
"
Bawa saja, ku yakin orang bodoh sepertimu lebih membutuhkan."
Ucapnya ceuk. Ingin sekali aku melempar paper bag ini ke mukanya.
"
Hahahahaha kau kejam sekali Ar." Ku dengar gelak tawa dari kak
Ray dan kak Windy, sungguh aku merasa seperti lelucon.
"
Tidak...aku tidak membutuhkannya aku sudah bawa sendiri." Ucap
ku tegas sambil meletakkan paper bag di atas bangku taman dan aku
pergi. Masih ku dengar tawa kak Ray dan kak Windy semakin keras. Sial
aku di tertawakan.
***
Hari ini tidak hujan hanya mendung sama seperti hati ku saat ini mendung tapi tak bisa hujan. Sial aku sudah menyiapkan semuanya tapi malah tidak di gunakan. Tambah lagi perlakuannya padaku di depan teman-temannya. Memangnya dia siapa dasar orang bodoh. Aku menyusuri gang yang biasa aku lewati menendang kaleng yang entah kemana arahnya. Gang ini sedikit gelap, benar saja ini sudah hampir jam 8 malam dan lagi lampu jalan yang sudah lama mati tidak kunjung di ganti membuat gang ini hanya di sinari lampu rumah warga yang kebetulan sampai gi gang ini.
" Oh...ternyata gadis cantik yang menendang kaleng ini. Tendanganmu cukup hebat cantik." tiba-tiba ada tiga orang yang muncul dari kegelapan. Mereka berjalan ke arahku dengan langkah gontai. Sepertinya mereka sedang mabuk, Apa yang mereka inginkan.
"
Maaf...maafkan aku." Aku mencoba meminta maaf baik-baik.
"
Tidak semudah itu gadis manis kau harus membayarnya dengan tubuhmu."
Satu di antara mereka mendekapku dari belakang. Oh tuhan adakah yang
lebih buruk dari ini.
Bough
Aku menyikut perutnya keras membuatnya melepaskan dekapannya padaku. Satu lagi ingin menangkapku, aku menghindar dan memukul punggungnya dengan tasku. Saat yang satunya lagi hendak mendekat aku langsung menendang perutnya. Aku benar-benar takut sekarang mereka mengepungku, mereka semakin dekat.
Bough bough
Aku melempari apa saja yang ada di dekatku. Tapi mereka tetap mendekat. Boleh kah..boleh kah aku berharap ada pria klasik yang menolongku. Ku mohon tolong aku.
Bough...bough...bough..
Saat merka mendekat aku menendang selakangannya sekuat tenaga, aku ambil balok kayu yang ada di dekatku dan menghantam dua lainnya. Seketika mereka pingsan, mungkin karna mabuk berat. Entahlah aku tidak bisa berfikir sekarang. Aku benar-benar takut. Kaki ku lemas tidak bisa di gerakkan, aku harus kabur tapi kenapa kakiku tak bisa bergerak. Siapa aja tolong aku, aku tak bisa bergerak hanya duduk bersimpuh di sini. Aku menutup wajahku dengan telapak tangan, ku rasa tubuh ku bergetar hebat.
Bough...
Aku menengok ke belakang, aku melihat dia. Dia memegang balok kayu yang tadi ku pakai dan ku lihat satu dari pereman tadi tergeletak di dekatku.
"
Kau tidak apa-apa.?" Tanyanya padaku dengan wajah yang sama
datarnya seperti biasa.
"
Tidak..Tidak.." Jawabku entah kenapa jadi serak begini.
Dia mendekat dan merangkulku saat itu juga ku benamkan wajahku di dadanya. Aku sangat takut.
"
Sudah tidak apa-apa." Ucapnya.
"
Hikz..ke napa kenapa baru datang.? aku takut sekali." Aku
semakin memeluknya erat
"
Karna ku lihat kau belum butuh bantuanku." Jawabnya sambil
membelai rambutku.
"
Kau melihatnya.?" Tanyaku tak habis fikir. Dia melihatnya tapi
tidak menolongku.
"
Yaa..." jawabnya singkat.
"
Bodoh kenapa kau tidak menolongku.?" tanyaku sambil memukul
dadanya.
"
Kau terlihat hebat tadi." Jawab seenaknya.
Bodoh orang ini benar-benar bodoh. Tidak tau kah dia aku sangat ketakutan, dasar manusia bodoh.
" Ayo ku antar pulang." Ajaknya sambil menuntunku berdiri.
Aku
benar dia memang berbeda dari pria klasik lainnya dan dia juga bodoh.
Dia selalu memanggilku bodoh padahal dia sendirilah yang bodoh. Dia
Arya pria klasik yang berbeda, pria bodoh sedunia, dan dia adalah
pria yang ku punya. Untuk saat ini dan seterusnya dia akan jadi pria
milik Sara. ^^
Langganan:
Postingan (Atom)



