Rabu, 23 Maret 2016

Berawan

Aku suka saat langit berawan di pagi hari. Saat hamparan putih menyelimuti biru begitu serasi. Saat matahari terhalang oleh awan memberikan hangat tapi tidak menyengat. Entah, hanya saja aku merasa matahari yang angkuh dengan sinar nya bisa di takluk kan oleh awan. Aku merasa matahari saat itu sedang tersipu malu. Seperti kekasih yang keras kepala yang luluh dengan kelembutan. Oh...tapi biar bagaimana pun matahari bertugas menyinari bumi, awan tidak bisa terus menghalanginya. Tapi ia bisa mendampinginya jikalau sinar nya terlampau menyengat awan akan menghalanginya. Dan saat itu aku bisa melihat matahari yang tersipu malu. ^_^

Rabu, 16 Maret 2016

Bianglala Pertama

Bianglala pertama. Apa kalian mengingatnya.? Jika kalian bertanya padaku jawabannya Tidak, aku tidak akan lupa. Kalau di pikir-pikir itu adalah satu-satunya kenangan yang kita miliki. Apa kalian juga berfikir begitu.? Apa kalian malah tidak mengingatnya. Hmm...baiklah kalau begitu biar aku ceritakan agar kalian mengingatnya.

Waktu ada pasar malam di dekat rumah kita dulu, apa kau mengingatnya. Saat itu kita ingin sekali ke sana, tapi tidak di ijinkan sampai nekat pergi sendiri. Ya sampai akhirnya kalian di hukum karna pergi tanpa pamit. Apa kalian sudah ingat.? Belum. Waktu itu baru pertama kalinya aku melihat kalian di hukum mengangkat satu kaki dengan kedua tangan menjewer telinga masing-masing. Huft sungguh kesempatan yang langka buat ku.

Karena sedikit kekeras kepalaan, akhirnya kita semua bisa pergi ke sana. Hal yang pertama kali kita tuju adalah penjual es crim. Ahhh...rasanya ingin tertawa setiap kali mengingat alasan es krim nya basi, membodohi anak kecil sudah biasa eh. Yang benar saja, alasan macam apa itu. Tapi apa boleh buat pop cron lah yang ada di tangan.

Roda besar yang berputar dengan kurungan di setiap jari-jarinya menjadi tujuan kita. Begitu besar dan tinggi ada sedikit rasa takut saat kalian mengajak ku menaiki wahana ini. Tapi ku tepis itu semua karena ada kalian berdua di dekatku. Apa kalian sudah mengingatnya.??Apa kalian juga mengingat posisi kita duduk.? Belum.

Baiklah..baiklah. Saat itu aku duduk di samping gadis kecil yang usiannya dua tahun lebih tua dariku dan di depan kita duduk sosok remaja laki-laki entah lah aku tidak tau berapa usianya saat itu. Karena ada kalian berdua aku jadi merasa aman dan terlindungi. Bianglala mulai berputar. Kurungan yang kita naiki pun mulai bergerak naik perlahan. Ada rasa takut saat itu. Tapi melihat pasar malam dari atas bianglala cukup menyenangkan. Sampai kalian mengusik kesenangan ku.

Saat kurungan bianglala terisi penuh, roda besar itu semakin mempercepat putarannya meski dalam batas wajar. Saat itu juga ketakutan ku semakin besar tapi kalian malah tertawa melihatku. Menyebalkan. Apa kalian mengingat saat itu.??

Saat ketakutan ku semakin menjadi, remaja laki-laki di depanku menyuruh gadis di sampingku untuk pindah tempat duduk di samping remaja laki-laki itu. Dia benar melakukannya dan kalian malah tertawa semakin keras saat aku semakin ketakutan. Kalian mengingatnya.??

" Huaaa....abang uni haaaaaa abang uni..." Apa teriakkan ku itu lucu buat kalian.

" Hahahahahaha." Tawa kalian semakin keras tapi gadis kecil tadi pindah duduk di sampingku kembali.

Apa kalian sudah mengingatnya.? Mengingat kenangan manis kita. Ayo lah kapan-kapan kita akan menceritakan semuanya dengan tawa yang lebih keras.

Senin, 14 Maret 2016

Aku Cantik di tangan Ayahku

Orang tua. Hmm aku hanya punya Ayah yang jadi orang tuaku. Kata ayah, ibu sudah di surga bersama malaikat ia pergi tepat saat aku lahir. Ayahku juga bilang kalau aku di tugaskan untuk menemaninya menggantikan ibu. Tapi ku rasa bukan aku, tapi ayahku yang menggatikan peran ibu. Ayahku yang merawatku dari kecil sampai sekarang. Tapi nanti saat aku sudah besar, aku yang akan merawatnya. :)

Setiap hari ayah akan bangun pagi membuatkanku sarapan dan juga bekal untuk makan siang. Aku juga akan membantunya memotong sayur atau sekedar mencuci piring. Masakan ayah benar-benar enak, kalian harus mencobanya. :) Apa lagi oseng kangkungnya. Ayahku hebat, dia bisa melakukan apa saja. Aku sangat bangga dengan ayahku.

Ayahku bukan dokter, bukan polisi, bukan tentara juga bukan pilot. Tapi ayahku hebat, ayahku seorang pengusaha. Dia punya perusahaan kecil yang setiap hari ia dorong. Gerobak yang penuh dengan aksesoris. Ada banyak aksesoris di sana. Ada pita, jepit rambut, bando, sirir, kaca aneka bentuk ada kuncir rambut dan karet rambut beraneka warna dan masih banyak lagi. Di rumah aku juga punya banyak sekali aksesoris seperti itu. Kalian lihat pita yang ada di rambutku. Cantik bukan. Ayahku yang memakaikannya. Setiap hari rambutku di sisir ayah dan di pakaikan aneka aksesoris. Aku bisa memilih sendiri yang mana yang mau aku pakai. Aku bagai tuan putri yang cantik, kata ayahku aku cantik seperti ibu. Setelah besar nanti aku akan menjadi pengantin yang cantik dengan bando berbentuk mahkota di kepalaku. Ayahku yang akan mengias rambutku. Aku akan cantik di tangan ayahku.

Teman-teman jika ingin cantik juga beli aksesoris pada ayahku. Nanti kalian bisa menggantinya setiap hari seperti aku. Nanti aku minta ayahku untuk memakaikannya. :) Terima kasih.

Prok...Prok..Prok

" Cerita yang bagus, Tiara." Ucap Bu Ima sambil mengusap rambut Tiara.

" Kamu boleh duduk, sekarang giliran Dewi." Lanjutnya mempersilahkan Tiara untuk duduk kembali.

" Nanti aku mau beli penjepit rambut pada ayahmu yaa." Bisik Tania teman sebangku Tiara.

" Boleh." Ucap Tiara sambil tersenyum memperlihatkan giginya. Pipi gembulnya meninggi membuat mata  belonya sedikit menyipit.

Jam ke 3-4
Pelajaran Bahasa Indonesia
Kelas 1
SDN Pengasih

Selasa, 01 Maret 2016

Ada kah Yang Lebih Indah dari Mimpiku

Ya Allah adakah yang lebih baik dari apa yang aku impikan selama ini.??
Bukankah mimpiku sudah begitu indah.
Sampai aku pun ingin hidup di dalamnya.
Sampai rela ku tukar dengan dunia nyataku.

Tapi jika memang Engkau menyiapkan yang lebih indah dari mimpiku.
Aku rela menukarkan mimpi indahku untuk rencanamu.
Jadi adakah yang lebih indah dari mimpiku.??

Suka Tanpa ada Tapi

Aneh...
Memang aneh..
Aku suka mawar tapi tidak dengan durinya
Aku suka kopi tapi benci rasa pahitnya
Aku suka hujan tapi tidak dengan petirnya
Aneh memang...

Apa??
Entah apa
Yang aku suka walau melukai
Yang bisa ku rasa tanpa membenci
Yang bisa ku nikmati tanpa takut mati
Apa??Entah apa.

Mencari
Walau tak hilang
Namun belum ku temukan
Sesuatu yang tanpa tapi

Fanfiction Shikatema "Mendokusai"

Hal paling merepotkan adalah jika kau memiliki kekasih seumuran dengan adikmu. Apa lagi jika dia juga teman sekolah adikmu atau lebih tepatnya musuh adikmu. Itu akan membuat kalian terus menerus mengucapkan kata merepotkan benar-benar merepotkan. Tapi itu lah yang terjadi pada ku. Memiliki kekasih tiga tahun di bawahku yang merupakan siswa Konoha High School tahun ke tiga. Mungkin tidak masalah jika yang lebih tua dari pihak laki-laki, tapi sayangnya itu kebalikannya. Yang lebih merpotkan lagi dia selalu saja bermasalah dengan kedua adik laki-laki ku. Benar-benar merpotkan, seperti sekarang ini.

“ Apa yang kau pikirkan, kankuro.?berkelahi lagi.” geram sekali aku dengan bocah ini. Yang benar saja aku harus ijin dari tempatku bekerja hanya karna adik ku lagi-lagi membuat masalah di sekolahannya.

“ Dia yang memulainya nee-chan.” belanya sambil menunjuk anak laki-laki yang juga berada di ruangan bimbingan konseling ini. Agak heran saat aku melihatnya, aku kenal dia sangat mengenalnya. Dia Nara Shikamaru kekasihku, dia bukan tipe orang yang suka berkelahi lebih tepatnya dia terlalu malas untuk hal yang merepotkan seperti ini jika tidak ada alasannya. Jadi sudah jelas siapa biang keladinya. Langsung saja aku memberikan tatapan tajam pada kankuro, aku tidak bisa di bohongi oleh bocah ini.

“ Di mana orang tuamu Shikamaru.?” Tanya Asuma sensei.

“ Hoam...mereka tidak akan datang sensei, aku sudah bilang mereka tidak akan mau terlibat masalah yang merepotkan seperti ini.” Jawabnya santai sambil menguap lebar. Sudah ku duga.

“ Baiklah...baiklah jadi bisa kalian jelsakan semua ini Shikamaru Kankuro.?” Tanya Asuma sensei lagi.

Dari penjelasan mereka berdua aku bisa mengambil kesimpulan. Pertama Kankuro mengganggu teman perempuannya yang bernama Yamanaka Ino. Kedua Shikamaru melihat kejadian itu langsung menghajar Kankuro. Ketiga Kankuro tidak terima lalu menyerang Shikamaru. Keempat Shikamaru tidak melawannya hanya menghindar. Kelima saat Shikamaru menghindari pukulan Kankuro tanpa sengaja pukulannya mengenai kaca sampai pecah berantakan. Pantas ku lihat tangan kanan Kankuro di perban dengan wajah memar di ujung bibirnya, sedangkan Shikamaru tidak terluka sedikit pun. Aku merasa tidak enak pada Asuma sensei lagi-lagi adik ku membuat masalah. Aku juga tidak enak pada Shikamaru, tapi siapa Yamanaka Ino itu samapi dia rela terlibat masalah hanya karna menolong perempuan itu. Dia tipe orang yang tingkat kepeduliannya di bawah rata-rata berbeda terbalik dengan tingkat kejeniusannya. Jadi siapa Yamanaka Ino itu sampai membuat orang seperti Shikamaru bertindak di luar karakernya. Aku curiga dan ya aku akui aku sedikit cemburu hanya sedikit.

“ Jadi begitu, baiklah karna kalian berdua berkelahi dan mengganggu siswa lain kalian di skorsing dua hari kalian tidak boleh mengikuti pelajaran sebagai gantinya kalian akan membersihkan seluruh sekolah kebetulan tukang kebun kita sedang cuti dua hari. Apa kalian mengerti.?” jelas Asuma sensei memberi hukuman pada mereka berdua.

“ Ha'i.” Jawab mereka berdua kompak.

“ Ku harap kalian bisa bekerja sama besok aku tidak mau kejadian ini terulang kembali dan kau Shikamaru karna orang tuamu tidak hadir setelah jam pelajaran selesai kau harus membersihkan lorong kelas sampai bersih. Kalian berdua boleh pergi.” Perintahnnya pada Shikamaru dan Kankuro. Setelah mereka berdua keluar aku jadi semakin tidak enak pada Asuma sensei.

“ Maafkan kelakuan adik saya Asuma sensei, aku akan ganti kerusakan kacanya.” Ucapku sambil membungkuk.

“ Tidak usah khawatir Temari-san, ku tau ini pasti sulit untukmu.” Ucapnya padaku. Ku rasa memang benar setelah kedua orang tuaku meninggal aku harus kuliah sambil bekerja untuk mencukupi kebutuhan dan juga biaya sekolah kedua adik ku. Untung saja tempatku bekerja bisa mengikuti jadwal kuliah ku. Jika aku masuk kuliah pagi maka sorenya aku bekerja dan begitu sebaliknya. Biasanya hari minggu aku libur kuliah tapi aku tetap mengambil lembur di tempat kerja. Masalah seperti ini memang membuatku pusing.

“ Terima kasih sensei, aku akan bilang pada mereka agar tidak membuat masalah lagi.” Ucapku sambil membungkuk lagi.

“Hahahaha tapi dengan begini aku jadi punya alasan untuk menghukum bocah pemalas itu.” Ucapnya sambil tertawa.

“ Maksud anda Shikamaru.?” tanya ku heran.

“ Ya siapa lagi, tidak kah kau lihat dia seperti tidak memiliki gairah hidup aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran.” ucapnya lagi. Oh Asuma sensei tiadak tau saja anda setiap hari aku selalu melihat tampang malasnya yang selalu menguap lalu mengucapkan kata favoritnya 'mendokusi' itu. Anda benar mungkin dia memang perlu di beri sedikt pelajaran karna ku tau setelah ini dia akan di marahi habis-habisan oleh ibunya.

“ Baiklah Temari-san kau boleh pergi, maaf telah mengganggu waktumu.” Ucapnya sambil tersenyum membuatku semakin tidak enak saja.

“ Aku yang seharusnya minta maaf, baiklah kalau begitu aku permisi sensei.” Aku membungkuk sekali lagi sebelum pergi.

**

“ Aaaww....sakit nee-chan pelan-pelan sedikit.” rengek Kankuro saat aku membersihkan luka di wajahnya.

“ Bagaimana mungkin kau yang mengajaknya berkelahi tapi kau sendiri yang babak belur?” tanya Gaara adik bungsu ku yang masih duduk di kelas 2 SMA. Ia duduk di sofa di sampingku yang sedang mengobati luka Kankuro.

“ Urusai...aaaaww.” Teriak Kankuro.

“ Dia bahkan tidak melukai lawannya sama sekali.” Sindirku.

“ Jadi nee-chan ingin aku sampai melukainya baik aaaaw.” Teiaknya lagi kali ini aku memang sengaja mengikat perban di tangan kanannya dengan kencang.

“ Jangan coba-coba kalau kau tidak mau kehilangan tanganmu.” Ancamku tepat saat aku menggunting perban di tangannya. Ku rasa ancamanku cukup ampuh.

“ Aku juga tidak pernah mengajarimu mengganggu seorang gadis kan. Ahh kenapa kalian selalu membuat masalah, kalian tau aku tidak punya cukup waktu untuk mengurusi masalah seperti ini.” ucapku sambil merapikan alat-alat P3K ke dalam kotak.

“ Kenapa kau juga menyalahkanku.?” Protes Gaara.

“ Aku tidak menyalahkanmu.” Jawabku.

“ Tadi kau mengatakan 'kalian'.” Ucapnya sambil menatapku tajam. Oh bocah ini memancing emosiku.

“ Oh benarkah.?? kalau begitu apa kau lupa minggu lalu aku juga dapat panggilan karna hal yang sama.?” Sebenarnya aku tidak mau mengungkit masalah ini lagi. Tapi dia benar-benar membuatku kesal.

“ Tiga orang masuk rumah sakit dan dua diantaranya mengalami patah tulang, apa kau tidak ingat itu Gaara.?” Itu memang bukan pertanyaan yang perlu di jawab, aku hanya mengingatkan masalah yang di lakukan Gaara minggu lalu. Yang benar saja tiga orang masuk rumah sakit dan dia marah karna aku bilang dia membuat masalah. Bukan kah itu memang masalah. Oh dulu adik-adik ku tidak seperti ini, setelah orang tuaku meninggal emosi mereka jadi tidak terkendali. Apa lagi Gaara, mungkin dari luar ia tampak seperti anak baik yang pendiam tapi jangan salah jika ada yang membuatnya marah dia akan sangat berbahaya.

“ Aku tidak punya waktu hanya untuk mengurusi masalah kalian di sekolah.” Ucapku sambil membawa kotak P3K ke arah dapur.

“ Tapi kau selalu punya waktu untuk bocah pemalas itu.” Ucap Kankuro seketika menghentikan langkahku. Aku sadar, aku telah salah bicara pada mereka. Tapi tunggu dulu bocah pemalas, apa Kankuro sudah mengetahuinya.

“ Bersikaplah dewasa.” Ucapku sambil meneruskan langkahku ke dapur. Aku harus menyiapkan makan malam.

“ Kankuro, aku tidak mau tau kau harus minta maaf pada temanmu dan kau Gaara kerjakan PRmu.” Titah ku dari dalam dapur. Sungguh sebenarnya aku merasa bersalah pada mereka berdua. Yang di ucapkan kankuro memang benar aku jarang sekali menghabiskan waktu untuk mereka. Yang ada di fikiranku hanya bekerja,bekerja dan bekerja tapi semua itu juga untuk mereka bukan. Apa mungkin yang di katakan Shikamaru itu benar, mereka berbuat onar hanya karna mereka merasa tidak di perhatikan lagi oleh ku. Apa yang harus aku lakukan.

Ting Tong Ting Tong

“ Gaara tolong buka kan pintunya.” Teriaku dari dalam dapur.

“ Kankuro saja yang buka.” yang di suruh malah ganti menyuruh Kankuro.

“ Tidak mau kau yang di suruh cepat buka sana.” Bukannya membukakan pintu mereka malah asik berdebat. Apa boleh buat aku mengalah kali ini mungkin mereka masih marah padaku.

“ Kau..” Saat aku melihat Shikamaru berdiri di depan pintu.

“ Ada perlu apa kau kemari.?” Tanya ku heran.

“ Aku di paksa ibuku memberikan obat tradisional keluara Nara untuk adikmu.” Ucapnya sambil menyerahkan paper bag kecil padaku.

“ Terima kasih Shikamaru ini pasti merepotkanmu kan.”

“ Hoam...” dia hanya menguap.

“ Sebaiknya kau masuk dulu, aku baru selesai masak kita bisa makan malam bersama.” Ajak ku sambil menarik pergelangan tangannya.

“ Ck...mendokusai.” Grutunya tapi dia tidak menolak ajakkan ku.

“ Nee-chan kenapa kau bawa dia masuk.?” tanya Kankuro geram.

“ Kankuro sepertinya aku sudah memperingatkanmu tentang ini, lagi pula dia berniat baik membawakanmu obat.” Ucapku sambil memberikan obat yang Shikamaru bawa padanya.

“ Ck.” lagi-lagi aku harus mendengar kata itu lagi.

“ Shikamaru kau duduk saja dulu aku akan siapkan makan malamnya.” Ucapku sambil meninggalkan mereka bertiga di ruang tengah. Aku harus melanjutkan pekerjaan ku, ku harap mereka tidak memulai perang lagi.

“ Terima kasih Temari.” Ucap Shikamaru sambil memberikan senyumannya padaku

Tanpa di ketahui Temari, perbincangan hangat terjadi di antara mereka bertiga.

“ Temari eh, harusnya kau memanggilnya Temari-nee.” Gaara mendelik manatap Shikamaru.

“ Aku tidak peduli dia itu kakak kalian bukan kakak ku.” Jawabnya santai.

“ Ck...jangan kau pikir kami tidak tau Shikamaru.” ucapnya Gaara lagi dengan tatapan lebih tajam.

“ Hehehe aku memang tidak berniat menyembunyikannya dari kalian.” Dengan tampang bodohnya ia berusaha mencairkan suasana. Ia merasa di intrograsi oleh kedua adik Temari.

“ Jangan kau pikir kau akan mudah mendapatkannya.” Kali ini Kankuro yang menyudutkan Shikamaru.

“ Kau benar sangat sulit menyakinkannya untuk menerimaku.” Jawabnya santai.

“ Kami tidak sedang bercanda Shikamaru. Jika kau berani menyakiti dia kami tidak akan diam.” Ancaman Kankuro.

“ Kalian tenang saja aku sangat mencintainya tidak mungkin aku akan menyakitinya.” Jawabnya tegas.

“ Kita lihat saja, sampai ku lihat dia mengeluarkan air mata setetes saja karenamu habis kau.” Kali ini ancaman dari Gaara sedikit memberikan seringai licik andalannya.

“ Oh iya...ku rasa dia akan menanyakan tentang Ino padamu. Kau tau sendiri bagaimana menyakinkannya bukan.” Kankuro menambahi.

**

“ Kalian sedang apa.?” Tanya ku heran melihat mereka duduk mengampit Shikamaru.

“ Ahh...aku hanya meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Benarkan Shikamaru?” Ucap kankuro buru-buru.

“ Hm.” Jawab Shikamaru.

“ Bagus kalau begitu. Makan malam sudah siap.” Ucapku sambil menyuruh mereka untuk ke ruang makan.

“ Selamat makan.” Ucap semuanya.

“ Oh iya Shika-chan, bagaimana ibumu bisa tau kalau kau berkelahi.?” Tanyaku di sela makan malam.

“ Uhuk Shika.”

“-chan. Yang benar saja.” Ku lihat Gaara dan Kankuro terkekeh kecil dan Shikamaru tersedak minumannya. Apa aku salah bicara lagi.

“ Asuma sensei yang memberitahukannya.” Jawab Shikamaru dengan wajah memerah. Ada apa dengannya apa dia sakit.

“ Salam untuk ibumu ya dan terimakasih.” ucapku sambil tersenyum. Selanjutnya kami hanya makan dalam diam.

“ Kau tidak pulang Shika-chan.? Nanti ibumu mencarimu.” Ucap Kankuro seperti sindiran.

“ kankuro sopanlah sedikit.”

“ Tidak apa lagi pula aku memang harus pulang.” Jawab Shikamaru.

“ Baiklah aku antar sampai depan.”


**
“ Shika-chan yang benar saja Temari kau mau mempermalukanku di depan adikmu.?” Ucapnya saat sampai di halaman depan.

“ Kenapa kau marah padaku. Aku hanya tidak ingin mereka tau hubungan kita itu saja.” Jawabku sambil menunduk.

“ Memang kenapa kalau mereka tau.?” Tanyanya lagi.

“ Itu akan sulit untukmu.”

“ Akan lebih sulit jika kita terus menyembuyikannya. Lagi pula aku tidak mau kau perlakukan seperti bocah apa lagi di depan mereka.” Ucapnya sedikit berteriak.

“ Kenapa kau berteriak.?”

“ Aku tidak berteriak.”

“ Kau berteriak.”

“ Tidak.” “ Iya”

“ Lagi pula siapa itu Ino.?” tanyaku mengenai gadis yang di ganggu Kankuro tadi pagi.

“ Dia hanya temanku dari kecil.” Jawabnya santai

“ Teman.? Aku tidak pernah tau kau punya teman wanita.”

“ Aku punya banyak teman wanita apa perlu aku sebutkan satu-satu.” Jawabannya membuatku marah tapi yang ku lakukan hanya diam.

“ Ino, Sakura, Hinata, Tenten, Shion, Tayuya dan masih banyak lagi. Apa kau pikir aku ini homo hanya punya teman laki-laki.” Jawabnya menyebutkan satu persatu teman perempuannya.

“ Pertama kali eh.? Ino kau menyebutnya pertama kali.” aku tidak bisa menahan emosiku lagi.

“ Ya ampun perempuan memang merepotkan.” Bukannya menenangkanku dia malah mengejekku. Aku sudah tidak berniat berdebat dengannya, aku hendak masuk dalam rumah tapi pergelangan tanganku di tahan olehnya.

Aku merasa hangat saat tubuhku di pelukknya. Air mataku tanpa di perintah sudah menetes dengan sendirinya. Ada apa denganku aku tidak pernah menangis sebelumnya.

“ Jangan menagis Temari, itu akan membuatku dalam masalah.” Ucapnya sambil membelai rambutku.

Sedangkan di dalam rumah.

“ Jangan sekarang Gaara. Ini belum waktunya.” Kankuro mencegah adiknya yang berniat keluar dan menghajar Shikamaru.

**

“ Maafkan aku Temari tapi jujur Ino hanya temanku dari kecil. Aku, Choji dan Ino berteman dari kecil kami selalu bersama aku sudah menganggap mereka seperti saudaraku sendiri. Jika ada yang menyakiti mereka aku akan marah, sama hal jika ada yang menyakitimu aku pun akan marah. Meraka dan kau itu sama-sama berharga bagiku, tapi kau itu beda. Kau tau maksudku kan.” Dia menjelaskannya padaku sambil terus memelukku, aku hanya bisa menganggukan kepakaku dalam dekapannya.

“ Sekarang hapus air matamu sebelum aku mendapatkan masalah.” Ucapku sambil melepaskan pelukannya. Aku hanya bisa menuruti ucapannya. Tapi tiba-tiba.

Brukk..

Gaara tiba-tiba menghantam wajah Shikamaru sampai ia terjatuh. Ku lihat Kankuro berlari dari dalam rumah.

“ Aku sudah memperingatkanmu Shika-chan.” Ucap Gaara masih melayangkan tinjunya pada Shikamaru yang tersungkur.

Brukk..brukk..

“ Gaara apa yang kau lakukan.? Hentikan.” aku mencoba menghentikannya.

“ Diam lah nee-chan ini urusanku dengannya.” Gaara sama sekali tidak menghiraukanku.

“ Kankuro lakukan sesuatu.”

“ Aku juga ingin memukulnya nee-chan tanganku masih terluka.” Jawab Kankuro enteng.

“ Kankuro...” teriakku.

Brukk..brukk..

Kankuro mencoba menghentikan Gaara tapi tetap tidak bisa. Gaara semakin menjadi menghajar Shikamaru.

“ Gaara hentikan.”

“ Hentikan...ku mohon hentikan Gaara.” Teriaku memohon. Nampaknya Gaara mendengarkanku. ku lihat dia bengkit dari atas tubuh Shikamaru yang babak belur. Langsung saja aku mendekapnya dalam pelukanku.

“ Shikamaru kau dengar aku.” Shikamaru hanya menjawab dengan suara tak jelas. Ku rasa dia hampir kehilangan kesadarannya.

“ Apa yang kau lakukan Gaara.? Kau ingin membunuhnya ah.?” Teriak ku. Kankuro sudah membantuku untuk memapah Shikamaru masuk ke dalam rumah.

Aku membaringkannya di sofa. Kankuro langsung mengambil kotak P3K yang aku letakan di dapur. Dan ku lihat Gaara hanya berdiri sambil melipat kedua tangan di dada.

“ Apa yang kau lakukan padanya.?” Tanyaku dengan nada rendah.

“ Aku hanya melakukan apa yang harus ku lakukan.” Jawabnya tenang.

“ Yang harus kau lakukan. Aku tidak pernah mengajarimu jadi brandalan seperti ini.” Kankuro sudah datang membawa kotak P3K. Langsung saja ku obati luka di wajah Shikamaru.

“ Aaaaa...” Rintihnya saat aku menyentuh lukanya.

“ Maaf.”

“ Tidak apa Temari kau tidak perlu marah padanya. Ini memang salahku.” Suara Shikamaru lirih.

“ Apa yang kau bicarakan.?” Tanyaku

“ Aku hanya dapat hukuman dari adikmu karna telah membuatmu menangis.” meski lirih aku masih bisa mendengar suaranya.

“ Shikamaru....” Suaraku seakan tercekat di tenggorokan. Air mataku mengalir begitu saja mendengar penjelasan Shikamaru.

“ Jangan menangis lagi Temari kau ingin aku di hajar lagi eh.?” ucapnya sambil menghapus air mataku. Aku tidak bisa menahannya lagi langsung ku dekap dia dalam pelukku tidak peduli lagi Gaara dan Kankuro tau hubungan ku dengan Shikamaru. Aku hanya ingin memeluknya memberikan cintaku yang tulus lewat pelukan. Ku tumpahkan semua air mataku di pundaknya, aku tau dia pasti meraskan sakit di tubuhnya tapi aku hanya ingin memeluknya.

“ Sudah ku bilang jangan menagis kau ingin...”

“ Biarkan saja. Aku hanya ingin memelukmu jika ada yang memukulmu lagi dia akan berurusan denganku.” Ancamanku ku tunjukan untuk Gaara dan Kankuro.

“ Dan kalian berdua bisa jelaskan semuanya setelah ini.” melepaskan pelukakku dan menatap adik ku satu per satu.


**

“ Aku tidak terima. Aku tidak pernah mengajarkan kalian jadi brandalan seperti ini.” Mereka telah menjelaskan semuanya padaku bahwa mereka telah tau hubunganku dengan Shikamaru dari awal. Aku juga tau janji konyol apa yang mereka buat sampai mengakibatkan Shikamaru seperti ini. Aku tau mereka melakukannya karna sayang padaku tapi aku tetap tidak terima dengan perbuatan mereka.

“ Tidak terima bagaimana, Shikamaru saja tidak keberatan.” Jawab Kankuro.

“ Urusai...aku tetap tidak terima. Aku tidak mau kalian jadi brandalan. Aku tidak mau ada kekerasan. Dan aku tidak mau tau kalian berdua harus minta maaf pada Shikamaru kalau tidak kalian tidak boleh keluar rumah seumur hidup kalian, tidak ada uang jajan, tidak ada HP semuanya akan ku sita. Kalian mengerti.?”

“ Tapi...”

“Tidak ada tapi. Kalian mengerti.?” Tanyaku sekali lagi.
“ Hmm.” Jawab mereka kompak.

“ Bagus.” mungkin yang di katakan Asuma sensei ada benarnya juga. Mungkin mereka memang butuh di beri sedikit pelajaran, sedikit gertakan dan sedikit ancaman. Semoga setelah ini mereka bisa akur dengan Shikamaru. Karna jika ku lihat sepertinya mereka tidak membenci Shikamaru hanya cemburu padanya. Entah lah. Apapun yang terjadi aku tidak mau menyakiti mereka semua. Karna mereka sangat sangat berharga bagi ku.

“ Dan kau Shikamaru kenapa tidak menjelaskannya dari awal. Kalau aku tau dari awal ini semua tidak akan terjadi dasar baka.” Umpatku pada Shikamaru. Sebenarnya aku kasihan melihatnya babak belur seperti ini tapi aku juga tidak bisa menahan emosi ku saat tau kalau dia menyembunyikan sesuatu sepenting ini dariku.


“ Mendokusai.”

Klasik

Dia berbeda dari kebanyakan pria yang pernah ku temui. Dia berbeda tidak seperti pria klasik lainnya. Dia bebeda, dulu aku benci sekali pria klasik yang selalu ingin melindungiku apa pun yang terjadi tapi dia berbeda tidak seperti pria lainnya dia melakukan hal yang klasik dengan cara yang berbeda. Sudah ku bilang dia itu berbeda. Dan aku suka.

Dulu saat aku tak bersamanya aku selalu di perlakukan bak seorang putri negri dongeng. Mereka yang dulu pernah dekat denganku selalu memberikan perhatian lebih. Saat aku sakit mereka memperlakukanku seperti gadis manja. Tidak pernah membiarkanku pergi sendiri, dan selalu memberikan apa yang aku butuhkan.

Seperti saat aku kehujanan mereka rela berlari menerobos hujan hanya untuk memberiku payung. Saat aku kedinginan mereka rela melepas jaketnya untuk ku kenakan sedangkan mereka harus menahan cuaca yg dingin hanya dengan selembar kaos di badannya. Ada lagi saat aku makan bersamanya tak sengaja ada saos yang menempel di ujung bibirku mayoritas mereka akan melakukan hal yang sama membersihkannya untukku. Bahkan ada yang memaksa ku untuk di suapinnya. Sungguh jika kalian berfikir bahwa itu manis ku rasa aku akan muntah sekarang. Menurutku itu semua tidak lain adalah hal konyol yang menjijikan.

Tapi dia berbeda seperti saat ini. Saat di mana kampusku mengadakan kemah di lereng gunung yang kalian tau dinginnya seperti apa saat malam tiba. Dan sialnya aku lupa membawa jaket dan sialnya lagi sekarang aku juga tidak pnya seorang pria klasik yang rela memberikan jaketnya agar aku tetap hangat. Oh...sungguh sial untuk apa aku memikirkan pria klasik toh aku tidak butuh mereka, aku masih bisa menghangatkan tubuhku sendiri jika tetap berada di dalam tenda.

" Ayo semuanya kumpul.!!" Teriak sesorang dari luar, sial itu seniorku pasti ada acara entah apalah di luar sana. Aku tidak mungkin keluar dalam keadaan begini. Bisa di tertawakan sebagai orang bodoh yang tidak membawa jaket ke acara seperti ini jika aku nekat bisa-bisa aku mati kedinginan. Aku juga tidak bisa tetap di dalam tenda sedangkan seniorku sudah berteriak-teriak seperti itu. Mati lah aku..
"Ini.." Tiba-tiba saja dari luar ada yang melemparku jaket benda yang aku butuhkan, saat ku mendongak aku melihat dia.
" Pakai saja." Ucapnya singkat.
" Tapi..kau bagaimana.?" Tanyaku. Tapi sejak kapan aku bertanya keadaan seorang pria klasik seperti dia. Tapi menurutku dia berbeda dari pria klasik lainnya.
" Aku bukan tipe orang bodoh yang rela memberikan jaketku padamu di cuaca yang dingin seperti ini ini." Sudah ku duga di berbeda.
" Ta..tapi ini." Ucapku sedikit binggung lalu ini jaket siapa yang dia berikan padaku.
" Aku membawa dua kalau kalau ada orang bodoh sepertimu yang membutuhkan." Sial harusnya aku sakit hati saat dia bilang seperti itu tapi entah kenapa aku malah bahagia mendengarnya.
" Cepat pakai dan keluar." Ucapnya dingin dan berlalu begitu saja.

*** 

Sejak kejadian di lereng gunung itu aku selalu memperhatikannya. Ternyata dia adalah salah satu seniorku yang menjadi panitia acara kemah kemarin. Namanya Arya dan seperti dugaanku dia memang berbeda dari pria klasik lainnya, dia melakukan hal klasik dengan caranya sendiri. Dia selalu memperlihatkan tingkat kecuekannya yang tinggi tapi sebenarnya dia amat peduli. 

Dia berbeda. Itu yang aku tau.
" Kau itu bodoh atau apa.?" Tanyanya padaku.
" Eh.." Aku bingung kenapa dia tiba-tiba bicara seperti itu.
" Kau mau hujan-hujanan.?" Tanyanya lagi. Dan aku mulai mengerti, kami memang baru saja turun dari bus yang sama di halte yang sama. Dan memang saat ini sedang hujan deras sialnya aku juga lupa bawa payung, tapi tidak apa toh rumahku tinggal dekat dari sini di gang sebrang halte ini.
" Ah...rumahku tidak jauh dari sini kok." ucapku menanggapinya.
" Tunggu sampai hujannya reda." 
" Tapi rumahku tidak ja.."
" Kau mau orang lain melihat pakaian dalammu saat bajumu basah lihat dirimu kau bahkan tidak pakai jaket." Ucapnya memotong pembicaraanku.
" -uh." Aku hanya bisa melajutkan ucapanku yang tinggal satu suku kata karna memang sudah di ujung lidah. Aku tidak habis pikir pakaian dalam...pakaian dalam bukan alasan yang sering ku dengar yaa seperti nanti kau sakit atau apalah tapi pakaian dalam. Oh...dia memang berbeda.

Akhirnya aku duduk di halte menunggu hujan reda untuk pulang ke rumah yang hanya tinggal beberapa meter lagi. Di sampingku ada dia yang katanya menunggu bus yang lain karna memang harus translite di halte ini untuk pulang ke rumahnya. Hanya kami berdua yang ada di sini, aku menunggu hujan reda sedangkan dia menunggu bus menjemputnya. Kami hanya diam menikmati tirai hujan yang membasahi aspal. Tidak ada yang berniat memecahkan kesunyian ini kecuali germicik hujan yang semakin deras. Aku ragu hujan ini akan segera reda.

Bus yang di tunggunya telah sampai di depan kami. Dia berdiri lalu mengeluarkan sesuatu dalam tasnya.

" Pakai saja dan cepat pulang sudah semakin gelap." Ucapnya sambil memberikan payung lipat padaku.
" Aku lupa katanya orang bodoh tidak bisa demam karna hujan, apa kau mau membuktikannya.?" Ucapnya lulu hilang bersama bus. Aku tak bisa berkata apa-apa serasa suaraku berhenti di tenggorokan mendengar apa yang di ucapkanny. Sungguh dia berbeda
" kau yang bodoh." Teriakku saat suaraku berhasil keluar. Kalau sia tidak bodoh kenapa tidak dari tadi saja meminjamkan payungnya toh dia juga tidak memerlukannya. kenapa harus membicarakan tetang pakaian dalamku. Bodoh.

Sejak kejadian di halte, aku belajar banyak memang karna selama ini aku punya pria klasik yang selalu melindungi dan memberikan apa yang aku butuhkan membuatku lupa cara mengurus diri sendiri. Dan kali ini tidak lagi, aku tidak membutuhkan pria klasik manapun. Aku pasti bisa.

***

Hari ini aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku sudah memakai jaket karna memang pagi ini dingin sekali dan aku juga sudah bawa payung lipat dalam tas, bawa air di botol dan sapu tangan bahkan aku juga bawa P3K kecil dalam tasku. Ku rasa sudah lengkap semuanya aku yakin hari ini dan seterusnya aku tidak butuh pria klasik lagi.

Setelah selesai kuliah aku berniat mengembalikan jaket dan payung yang sempat ku pinjam pada arya. Aku mencarinya di kantin tidak ada, di lapangan basket tidak ada, kampus terlihat sepi karna memang sudah hampir jam 6 sore hanya tinggal beberapa orang saja yang terlihat mungkin mereka sama sepertiku dapat jam kuliah tambahan. Itu dia Arya ada di taman bersama teman-temannya, haruskah aku ke sana atau menunggu teman-temannya pergi, tapi sudah sore,ahh sekarang saja toh hanya mengembalikan ini bilang terima kasih dan selesai.

" Permisi kak saya mau mengembalikan jaket dan payungnya." Ucapku memberanikan diri
" Cie..cie Arya." Goda kak Ray pada Arya sambil menyenggol bahunya.
" Arya ternyata ada kemajuan sekarang,,kamu Sara mahasiswi baru itu kan.?" Tanya seniorku lagi Kak Windy.
" I..iya kak." Jawabku. Ku lihat Arya masih saja diam bahkan dia tidak memerima paper bag yang berikan.
" Bawa saja, ku yakin orang bodoh sepertimu lebih membutuhkan." Ucapnya ceuk. Ingin sekali aku melempar paper bag ini ke mukanya.
" Hahahahaha kau kejam sekali Ar." Ku dengar gelak tawa dari kak Ray dan kak Windy, sungguh aku merasa seperti lelucon.
" Tidak...aku tidak membutuhkannya aku sudah bawa sendiri." Ucap ku tegas sambil meletakkan paper bag di atas bangku taman dan aku pergi. Masih ku dengar tawa kak Ray dan kak Windy semakin keras. Sial aku di tertawakan.

***

Hari ini tidak hujan hanya mendung sama seperti hati ku saat ini mendung tapi tak bisa hujan. Sial aku sudah menyiapkan semuanya tapi malah tidak di gunakan. Tambah lagi perlakuannya padaku di depan teman-temannya. Memangnya dia siapa dasar orang bodoh. Aku menyusuri gang yang biasa aku lewati menendang kaleng yang entah kemana arahnya. Gang ini sedikit gelap, benar saja ini sudah hampir jam 8 malam dan lagi lampu jalan yang sudah lama mati tidak kunjung di ganti membuat gang ini hanya di sinari lampu rumah warga yang kebetulan sampai gi gang ini.

" Oh...ternyata gadis cantik yang menendang kaleng ini. Tendanganmu cukup hebat cantik." tiba-tiba ada tiga orang yang muncul dari kegelapan. Mereka berjalan ke arahku dengan langkah gontai. Sepertinya mereka sedang mabuk, Apa yang mereka inginkan.
" Maaf...maafkan aku." Aku mencoba meminta maaf baik-baik.
" Tidak semudah itu gadis manis kau harus membayarnya dengan tubuhmu." Satu di antara mereka mendekapku dari belakang. Oh tuhan adakah yang lebih buruk dari ini.

Bough

Aku menyikut perutnya keras membuatnya melepaskan dekapannya padaku. Satu lagi ingin menangkapku, aku menghindar dan memukul punggungnya dengan tasku. Saat yang satunya lagi hendak mendekat aku langsung menendang perutnya. Aku benar-benar takut sekarang mereka mengepungku, mereka semakin dekat.

Bough bough

Aku melempari apa saja yang ada di dekatku. Tapi mereka tetap mendekat. Boleh kah..boleh kah aku berharap ada pria klasik yang menolongku. Ku mohon tolong aku.

Bough...bough...bough..

Saat merka mendekat aku menendang selakangannya sekuat tenaga, aku ambil balok kayu yang ada di dekatku dan menghantam dua lainnya. Seketika mereka pingsan, mungkin karna mabuk berat. Entahlah aku tidak bisa berfikir sekarang. Aku benar-benar takut. Kaki ku lemas tidak bisa di gerakkan, aku harus kabur tapi kenapa kakiku tak bisa bergerak. Siapa aja tolong aku, aku tak bisa bergerak hanya duduk bersimpuh di sini. Aku menutup wajahku dengan telapak tangan, ku rasa tubuh ku bergetar hebat.

Bough...

Aku menengok ke belakang, aku melihat dia. Dia memegang balok kayu yang tadi ku pakai dan ku lihat satu dari pereman tadi tergeletak di dekatku.
" Kau tidak apa-apa.?" Tanyanya padaku dengan wajah yang sama datarnya seperti biasa.
" Tidak..Tidak.." Jawabku entah kenapa jadi serak begini.

Dia mendekat dan merangkulku saat itu juga ku benamkan wajahku di dadanya. Aku sangat takut.
" Sudah tidak apa-apa." Ucapnya.
" Hikz..ke napa kenapa baru datang.? aku takut sekali." Aku semakin memeluknya erat
" Karna ku lihat kau belum butuh bantuanku." Jawabnya sambil membelai rambutku.
" Kau melihatnya.?" Tanyaku tak habis fikir. Dia melihatnya tapi tidak menolongku.
" Yaa..." jawabnya singkat.
" Bodoh kenapa kau tidak menolongku.?" tanyaku sambil memukul dadanya.
" Kau terlihat hebat tadi." Jawab seenaknya.

Bodoh orang ini benar-benar bodoh. Tidak tau kah dia aku sangat ketakutan, dasar manusia bodoh.

" Ayo ku antar pulang." Ajaknya sambil menuntunku berdiri.

Aku benar dia memang berbeda dari pria klasik lainnya dan dia juga bodoh. Dia selalu memanggilku bodoh padahal dia sendirilah yang bodoh. Dia Arya pria klasik yang berbeda, pria bodoh sedunia, dan dia adalah pria yang ku punya. Untuk saat ini dan seterusnya dia akan jadi pria milik Sara. ^^