Selasa, 23 Agustus 2016

Perjalanan Melepas Penat

Untuk parapendaki yang masih pemula seperti saya sangat di rekomendasi kan untuk mendaki di gunung-gunung yang tidak terlalu tinggi dulu sebagai pemanasan. Dan untuk yang tinggal di daerah perkotaan seperti jakarta tentu sangat sulit menemukan gunung, jangan gunung lahan penghijauan pun jarang. Setelah penat dengan segala aktivitas rutin sebagai karyawan kantoran tentu kita sanggat memerelukan refreshing diri dan wisata alam adalah tujuan nya. Kali ini saya akan membahas pengalaman saya berwisata alam ke gunung munara di wilayah bogor jawa barat.

Biayanya saya akan ngetrip bersama teman kerja. Saya yang bisa di bilang penduduk baru di jakarta sangat-sangat bosan dengan ke hidupan di sini. Di mana-mana kendaraan, gedung pencakar langit, macet, polusi, dan panas sungguh berbanding terbalik dengan tempat tinggal saya di kampung di mana udara nya masih bersih dan sejuk, dengan mudah saya bisa berteduh di bawah pohon bukan di bawah beton. Untung saja teman kerja mengajak saya refreshing wisata alam bukan refreshing ke mall atau pusat pembelajaan lain nya. Pertama kali saya berwisata alam bersama teman kerja ya itu ke curug cibeureum di kabupaten cianjur, Jawa barat. Pemandangan di sana cukup membuat mata menjadi fresh dengan pemandangan hutan yang hijau dan germicik sungainya sangat menenangkan. Perjalanan menuju curug cibeureum cukup melelah kan karena jalan menanjak dengan jarak sekitar 7-8 km, untuk pemula seperti saya tentu membuat saya ngos-ngosan tapi tenang pemandangan selama perjalanan bisa menjadi obatnya dan setelah sampai rasa lelah pun hilang bersama sejuknya air terjun yang mengalir membasahi wajah.
                                                   
Perjalanan ke curug cibeureum
Curug Cibeureum ada 2 ini salah satunya
Percaya deh jalannya gak cuma jalan datar saja itu juga ada jalan nanjak dan turunan juga, tapi di jalan yang ada di gambar bisa untuk istirahat, foto selfie juga nih dan bisa juga buat foto prewedding dengan tema alam (bagi yang niat).

Perjalanan kedua saya ke curug cigamea, karena letak curug nya berada di bawah saya harus menuruni anak tangga dengan jarak sekitar 2 km. Pemandangan nya lumayan bagus meski sudah banyak bangunan warung kecil tapi pemandangan alam nya masih asri dan juga bersih. Derasnya air terjun membuat saya puas bermain air di sungai. Begitu menyenangkan setelah penat dengan kehidupan kota saya di suguhkan pemandangan alam seperti ini membuat saya ingin berlama-lama di sini.

Masih Asri banget kan
pemandangan curug cigamea
Asli puas banget main airnya
Ini deser loo air terjunnya 























Saat saya datang belum ada pengunjung lain jadi puas main air serasa milik kita sendiri, hihihi. Yaa kalau mau seperti saya harus bisa mengatur waktu keberangkatan dan sampainya. Dan berubung saya punya teman yang pernah ke sini jadi dia sudah tau betul jadwal yang tepat untuk berwisata alam ke curuk cigamea ini.

Nah yang satu ini sedikit berbeda dengan perjalanan sebelumnya. Ini perjalanan yang baru saya lakukan, jika biasanya berefreshing ke air terjun kali ini saya di ajak teman kerja naik salah satu gunung yang ada di bogor yaitu gunung Munara. Gunung Munara memang tidak terlalu tinggi hanya sekitas 1119 Mdpl tapi tentu saja dengan medan menanjak dan jalan yang masih berupa tanah belum ada jajaran batu yang membentuk anak tangga membuat perjalanan ini cukup sulit karena jika terpeleset sedikit saja bisa-bisa kita main prosotan seperti saat masih taman kanak-kanak bedanya medianya tanah dan lebih curam juga panjang.

Setelah sampai atas kita akan melihat bebatuan besar yang warga sekita menyebutnya dengan nama batu belah karena batu besar yang terpisah membentuk jurang selebar 3-4 meter. Di sini saya mencoba mendaki salah satu batu belah hanya dengan seutas tali. Awalnya saya kira di puncaknya luas dan bisa untuk banyak orang ternyata batunya berbentuk kerucut jadi hanya bisa di tempati empat orang saja. Jika tidak hati-hati bisa-bisa jatuh ke jurang yang kalau saya lihat dari atas sudah bikin kepala pusing.
Naiknya lumayan gampang,
tapi turunnya ngeri euuy
.
 Di balik batu itu udah jurang dan di puncaknya cuma bisa buat duduk empat orang doank. Bikin adernalin makin tinggi kalo kaya gini. Tapi ini masih belum sampai puncak ya teman-teman, masih sekitar 15 menit dari batu belah untuk sampai puncak gunung munara. Meski panas dan tidak ada air terjun seperti perjalanan sebelumnya tapi tetap saja pemandangan yang di berikan dari atas ini begitu indah. Mungkin kalau berangkat lebih pagi bisa sedikit sejuk soalnya waktu saya ke sana sempat nyasar juga jadi kesiangan deh.

Puncak Gunung Munara

Sampai di puncak kita bisa lihat bendera merah putih nih. Kita bisa hormat dulu lah sebelum berselfie ria. Meski terlihatnya begitu panas tapi sebenarnya tidak begitu namanya juga gunung ya pasti ada sejuknya lah. Perjalanan nya juga melewati hutan bambu, kebun dengan pohon yang tinggi-tinggi jadi jangan takut terkena terik matahari.

Lelah dan letih pasti terbayar saat melihat pemandangan dari ketinggian. Serasa terbayar tuntas.
Dan perjalanan ke gunung Munara saya tidak mengeluarkan biaya sepeser pun karena semua sudah di bayarin teman saya, hihihihi. Lumayan liburan gratis makan pun gratis. Katanya "ini kado ualng tahunmu, maaf kalo jadi capek." Hahaha meski telat tapi gpp lah makasih aja yaa.

Bintang dan Bulan di Sungai Madu

Kenapa selalu bintang yang salah (?) Apa salahnya bintang yang berlari ke sana-kemari, dia hanya ingin menerangi seluruh semesta. Bintang yang ceria bintang yang tertawa keras meloncat-loncat berlari dan berteriak, apa salahnya jika ia hanya ingin menghidupkan suasana hening ini. Kenapa Bumi begitu membenci ke hadiran bintang kenapa malam juga tak merangkulnya. Kenapa ? Bukan kah dulu Bumi begitu mengharapkan malam untuk menghadirkan bintang. Tapi kenapa setelah bintang hadir bertaburan di setiap inci kehidupan Bumi dan malam, mereka malah membencinya. Bintang masih begitu mencintai Bumi dan Malam karena ia belum mengerti arti kata membenci.
Lagi-lagi bintang berulah, ia senang sekali menjahili Bulan. Bulan yang tenang dan damai, ia sedikit tidak suka kebisingan tapi pengecualian jika kebisingan itu di ciptakan oleh bintang ia akan bergabung membuat kebisingan itu. Meski sifat mereka berbeda tetapi mereka saling mencintai, Bintang tidak merasa kesepian karena di acuhkan Bumi dan malam jika Bulan hadir. Namun sayang, Bulan tidak bisa selalu menemani Bintang hannya seminggu dalam sebulan ia di izinkan bersama Bulan sisanya Bulan akan berada dalam dekapan Bumi dan juga Malam.
Seperti biasa, kunjungan Bulan menjadi angin segar untuk Bintang kali ini Bumi dan Malam ikut berkunjung. Mengantar Bulan, mungkin.
Bintang sedang mengumpulkan kayu bakar saat Bulan datang mengagetkan nya membuat kayu bakar di dekapan tangan kecilnya jatuh berantakan.
" Bintang, Bulan datang." Sapa Bulan dengan senyum tak bersalahnya.
" Lihat lah kayu bakarnya jadi berantakan lagi, bantu aku." Oceh Bintang. Raut wajahnnya ia tekuk alis menyatu dan bibirnya mengerucut. Ia sudah lelah mengumpulkan kayu untuk membantu nenek Karimah dan sekarang sudah berantakan.
" Tidak mau, weekk." ejek Bulan sambil menjulurkan lidahnya. Bintang geram ia ambil arang bekas api unggun semalam dan mencoretnya ke wajah Bulan. Bulan berteriak mengejar Bintang yang berlari mencari nenek Karimah tempat berlindungnya.
" Ada apa ini teriak-teriak ?" Tubuh Bintang gemetar di balik punggung nenek Karimah mendengar suara Bumi.
" Kenapa muka mu begitu ?" Tanya Bumi pada Bulan yang baru muncul dari samping rumah nenek Karimah. Wajah Bulan tertunduk takut menceritakan kalau ini adalah perbuatan Bintang, ia tidak mau Bintang di marahi.
" Pasti kamu." Dengan marah Bumi menyertet tangan Bintang dari persembunyiannya begitu ringan tangannya memukul tubuh kecil Bintang yang masih bergetar, air matanya deras menganak sungai. Dia meraung menangis meminta ampun agar Bumi berhenti memukul tubuhnya lagi. Bukan hanya tubuhnya yang sakit hatinya juga sakit ada luka yang tak berdarah di sana lebam membiru dan lama-kelamaan akan membusuk.
" Sudah." Teriak nenek Karimah menyelamatkan Bintang dari amukan Bumi. Bintang berlari ketakutan tubuhnya bergetar, air matanya masih mengalir deras, ingusnya juga masih mengalir meski berkali-kali ia seka. Langkahnya terhenti di bawah pohon dekat sungai belakang rumah nenek Karimah. Bintang duduk memeluk lututnya sendiri, wajahnya merah, matanya merah, hidungnya merah, lengannya pun merah akibat pukulan dari Bumi. Tangisnya mereda saat matanya menatap kosong aliran sungai di depannya. Ia ingat mimpinya tadi malam.
***
Sementara itu selepas Bulan yang lari mengejar Bintang. Nenek Karimah sudah geram melihat sifat anak dan menantunya. Sudah berkali-kali dia menasehati untuk tidak pilih kasih kepada kedua putri.  Sampai puncaknya tiga bulan lalu dengan tega mereka menyuruh Bintang tinggal bersamanya. Waktu itu Bintang terus menangis meminta agar di bolehkan ikut pulang bersama Bumi dan Malam. Bintang meraung meminta maaf, ia berjanji tidak akan nakal lagi ia berjanji tidak akan mengganggu Bulan lagi asal ia boleh ikut pulang. Bintang ingin bertemu Bulan yang akan keluar rumah sakit setelah seminggu di rawat akibat kecelakaan saat bermain bersama Bintang. Tapi lagi-lagi Bumi dan Malam ingin menghapuskan kehadiran Bintang, ingin memisahkan nya dengan Bulan dengan dalil demi keselamatan Bulan. 
" Kenapa kamu pukuli dia? Bintang itu anak yang baik bawalah dia pulang, kasihan." Ucap nenek Karimah pada Bumi dan Malam di hadapannya.
" Dia itu pembuat onar mak, aku gak kuat ngadepin  kelakuannya. Biar lah dia tinggal di sini hitung-hitung buat menemani mamak." Kilah Bumi.
" Iya mak, saya takut nanti Bulan terpengaruh sama kelakuan Bintang." Lagi-lagi Malam enggan membela Bintang.
" Mereka itu masih anak-anak." Ucap nenek Karimah lagi.
" Apa mamak lupa siapa penyebab Bulan tertabrak bulan lalu? Kalau Bulan bersama Bintang dia akan dalam bahaya lagi mak."
***
" Semalam aku bermimpi." Ucap lirih Bulan duduk di samping Bintang yang masih memeluk lututnya.
" Kita naik perahu di atas sungai yang airnya seperti madu. Di pinggir sungai banyak pohon apel yang buahnya besar dan merah, kita mencicipi madu yang mengalir di sungai dan memakan apel merah itu banyak sekali." Bulan menjelaskan isi dari mimpinya.
" Aku jugabermimpi seperti itu." Ucap Bintang.

Jumat, 29 Juli 2016

Tak ku Temukan Ragu di Matamu

" Malam ini aku ingin tidur dengan ibu." Ucapku pada kedua orangtuaku yang sedang mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah seharian ini  di sofa ruang tengah. Pukul sepuluh malam, sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu saudara-saudaraku dan beberapa tetangga meninggalkan rumah ini setelah menyelesaikan tugas mereka masing-masing secara sistematis.
" Kenapa ?" Tanya Ayah yang mengisyaratkan aku untuk duduk di antara mereka. Lampu ruangan ini sudah di matikan membuat pencahayaannya hanya bergantung pada televisi yang masih menyala tanpa ada satu orang pun yang berniat melihatnya. Aku berjalan pelan dan duduk di antara kedua orang yang paling aku sayangi, nyaman adalah kata yang paling tepat untuk apa yang ku rasakan saai ini.
" Hanya ingin saja, Ayah." Jawabku sambil menyenderkan kepalaku pada bahu Ibu. Kali ini Ayah harus mengalah membiarkan ku tidur dengan Ibu.
"Sebaiknya kalian tidur sekarang." Tidak perlu menunggu perintah untuk kedua kalinya, aku dan ibu bergegas ke kamarku karena memang tubuh kami sudah lelah seharian ini. Seperti biasa saat ayah bekerja keluar kota, ibu akan tidur sambil memelukku di kamarku yaa setidaknya sampai malam ini, kamar ini masih menjadi miliku.
" Bu..." Ucapku lirih. Aku tau ibu juga sama lelahnya denganku mungkin lebih, tapi aku belum bisa memejamkan mata untuk tidur. Aku harap ibu mau menemaniku sejenak setidaknya sampai aku benar-benar tenang.
" Ada apa, sayang ?"
" Aku takut, bu -
- aku takut untuk besok." Lanjutku yang sempat terputus, sebenarnya aku sendiri tidak tau apa yang mau aku bicarakan.
" Apa yang kamu takutkan ?" Belaian lembut pada rambutku yang sengaja ku urai saat tidur membuatku merasakan kenyamanan tersendiri.
" Aku takut setelah besok, aku tidak bisa tidur seperti ini lagi. Tidak bisa tidur dengan aku di pelukanmu seperti ini, Bu." Aku membalas pelukan ibu lebih erat seakan tidak ada lagi kesempatan untuk merasakannya.
" Nak, setelah ini kamu tidak perlu pelukan ibu lagi saat tidur."
" Tapi aku takut, bu ?"
" Tidak ada yang perlu ditakutkan, percaya pada ibu." Masih dengan membelai rambutku ibu menyakinkanku bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku percaya pada ibu karena mungkin ibu juga pernah merasakan apa yang aku rasakan saat ini, tapi entah mengapa aku masih sedikit ragu.
" Aku takut dia akan menyesal, bu. Aku tidak mau gagal, bu. Aku takut setelah ini dia akan berfikir ingin meninggalkanku setelah mendapatkanku. Aku tidak mau, bahkan jika hanya sepintas terlintas dalam fikirannya." Sebenarnya masih banyak lagi yang membuatku takut dan berakhir menjadi keraguan. Aku sedang berada dalam zona abu-abu yang ku buat sendiri. Bisakah ibu merasakan semua ragu dan takutku, bu.
" Kamu fikir dia memilihmu tanpa mempertimbangkan semuanya. Ibu yakin dia laki-laki yang baik, nak. Jika kamu tidak mau dia berfikir akan meninggalkanmu, buatlah dia berfikir bahwa dia beruntung memilikimu dengan begitu dia tidak akan meninggalkanmu."
Mendengar nasihat ibu membuatku sedikit lebih tenang. Peluk dan belaiannya membuatku nyaman dalam dekapannya, tiba-tiba aku merasakan kantuk yang tidak bisa ku lawan untuk tetap terjaga. Biarkan untuk malam ini saja aku ingin merasakan peluk hangatmu, bu sama seperti dulu saat aku dalam rahimmu.
***
Sepertinya malam ini tiga kali lebih cepat dari biasanya. Setelah sholat subuh berjama'ah dengan ayah dan ibu, kami memutuskan untuk memeriksa kembali persiapan yang sudah dari seminggu lalu di siapkan. Aku memang meminta agar tidak meramaikan acara pernikahanku, hanya ijab qobul tanpa ada acara hiburan. Bahkan tamu undangan hanya dari saudara, teman dekat dan tetangga saja, jadi tidak ada tenda besar yang menutup jalan hanya sampai halaman depan saja sudah cukup.
Beberapa tetangga dan saudaraku sudah ada yang datang untuk membantu persiapan pernikahanku. Aku sendiri hanya duduk di depan meja rias di kamarku yang di sulap menjadi ruang make up pengantin. Ada ibu, mbak Shella istri dari kakak laki-lakiku dan Juang keponakanku yang berusia lima tahun yang menemaniku berhias. Aku meminta penata rias agar tidak membuat dandanan ku mencolok cukup dengan lebih mempertegas bagian mata saja. Karena dia pernah bilang bahwa mataku sangat indah, aku ingin menjadikannya lebih indah.
Acara mulai pukul delapan pagi, masih ada waktu sekitar satu jam dan aku sudah siap dengan gaun soft pink ku. Gaun hasil karya ku sendiri dan Ayah sebagai penjahit profesionalnya. Aku cukup puas dengan hasil gaunku, semoga saja dia juga puas dengan baju pengantin yang ku buat.
" Aku ingin bicara dengan ayah, bu." Ibu yang juga sudah siap dengan kebayanya melangkah keluar untuk memanggil ayah.
" Ayah..." Ucapku saat melihat pria paruh baya itu masuk ruangan. Pria pertama yang aku cintai duduk di sampingku menggenggam tanganku erat. Merasa mengerti bahwa kami memerlukan waktu untuk bicara berdua, semua orang yang ada di dalam kamarku keluar meninggalkan kami berdua.
" Apa yang harus aku lakukan, yah ? Rasanya aku belum siap."
" Tidak ada yang tau seseorang sudah siap atau belum sebelum mereka menjalaninya, sayang. Apapun yang terjadi kamu tetap jadi putri satu-satunya ayah." Ada genangn air di pelupuk matanya saat ia mengatakan itu, tapi ia juga tersenyum membuat kumisnya terangkat sedikit.
" Apa yang harus aku lakukan ?" Ku ulangi pertanyaanku.
" Jadilah istri seperti ibumu, dan jadilah ibu seperti ibumu. Ayah tidak bisa memberi contoh selain ibumu, nak."
" Ayah membuatku ingin menikah dengan ayah saja." Ucapku memeluknya erat. Aku tidak boleh menangis di acara bahagia ini.
" Cie yang mau nikah cie." Candaan dari bang Dani yang tiba-tiba masuk ke kamarku.
" Tidak mau mengucapkan sesuatu untuk adikmu yang sebentar lagi jadi istri orang hem ?" Sindirku.
" Gak nyangka ternyata adek ku udah gede. " Ucapnya sambil melangkah masuk lebih dalam lagi.
" Kalian ngobrol aja dulu ayah mau ke depan." 
" Buatlah suamimu beruntung memilikimu, dek. Dengan begitu dia tidak akan menyakiti apalagi meninggalkanmu" Ucap bang Dani serius.
" Bang, apa abang pernah berfikir ingin meninggalkan mbak Shella ?"
" Abang tidak ingat. Meskipun pernah itu hanya emosi sesaat, dek. Tidak mudah menyatukan dua kepribadian yang berbeda untuk tetap satu jalan tapi itulah tantangan yang sebenarnya."
" Abang membuatku takut." Sedikit merinding mendengar ucapan bang Dani tapi sepertinya itu bukan masalah besar melihat ekspresinya.
" Hahahaha sudah sudah acara mau mulai. Persiapkan dirimu !" Ucapnya lagi sambil membelai kepalaku lalu berlalu menginggalkan kamarku. Ku lihat jam dinding sudah menunjukan pukul delapan kurang lima menit. Seharusnya rombongan dia sudah datang. Ini membuat perutku mulas, kebiasaan saat aku sedang tegang aku masih takut, aku masih ragu. Aku tidak tau kemana keyakinan sebulan lalu saat menerima lamarannya, rasanya aku belum siap untuk ini.
Ibu menuntunku ke ruang tamu yang sudah penuh dengan tamu undangan. Ku lihat para tamu duduk di kursi yang sudah di tata mengelilingi satu meja di tengah ruangan, tiga kursi sudah di duduki tiga laki-laki tinggal satu kursi lagi yang masih kosong. Aku melangkah pelan dan duduk di kursi yang tersisa dan Ibu duduk di dekat ayah agar bisa melihatku katanya. Di depan ku sudah ada bapak penghulu dan Ayah di sampingnya sedangankan di sebelah kiriku ada laki-laki yang akan menjadi suamiku. Ku beranikan melihatnya sebentar, ingin melihat adakah keraguan di matanya.
Dengan balutan tuksedo putih sedikit aksen pink soft membuat dia terlihat em tampan. Dia  juga menatapku dan tersenyum menenangkan, tak ku lihat ragu di matanya. Tidak biasanya dia bisa tersenyum seperti itu  seketika keraguanku pun menguap begitu saja. Senyumnya menyelamatkanku dari keraguanku sendiri. Pria ini lah yang aku inginkan untuk menjadi imamku. Pria yang pertama kali ku temui di sebuah program Tafidz Qur'an di salah satu pondok pesantren di Jawa Tengah. Selama karantina kurang lebih sekitar satu tahun untuk pemula sepertiku, dia lah yang menjadi tutor ku dan beberapa peserta lainnya. Dia selalu menerangkan beberapa ayat yang ada kaitannya dalam kehidupan sehari-hari agar kita bisa menghafalnya dengan mudah. Suatu hari dia memberiku sebuah rekaman suara bacaan beberapa potong ayat Al-Qur'an metode mendengarkan akan mempermudah menghafal, katanya. Setiap seminggu sekali dia akan memberiku rekaman ayat baru yang telah ku ketahui bahwa dia lah yang membuat rekaman itu sendiri. Suaranya yang merdu, jelas dengan intonasi yang lambat membuatku mudah untuk mengikuti sambil menghafalnya. Seperti saat aku menghafal lagu-lagu barat atau jepang aku juga lebih mudah menghafal Al-Qur'an dengan mendengarkan. Sampai akhirnya aku menjadi seorang Hafidzah.
Masih ingat jelas saat aku akan pulang kembali ke rumah dia juga memberiku rekaman. Jangan di dengarkan sebelum sampai di rumah, begitu katanya. Dua bulan lalu aku mendengarkan isi rekaman itu dan sejak saat itu setiap hari ku habiskan untuk menunggu. Rekaman itu berupa potongan surah Ar- Ruum ayat 21 dan sebuah pesan untuk  menunggu.
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Ruum : 21)
" Alya, awalnya aku tidak begitu menyukaimu yang bahkan membaca Al-Qur'an pun kamu tidak bisa, tapi aku senang dengan semangatmu untuk menghafal Al-Qur'an. Meski kemampuanmu membaca Al-Qur'an kuang dari pada peserta lainnya yang bahkan usianya jauh di bawahmu tapi kamu tetap berusaha tidak peduli aku yang dulu selalu menyindir dan meremehkanmu. Maafkan aku untuk itu."
" Alya, aku hanya ingin kamu tau entah kenapa aku selalu merasa nyaman jika bersamamu meski selalu ada perdebatan diantar kita, kalau boleh jujur aku memang sengaja membuatmu jengkel, senang rasanya melihat wajah cemberutmu. Maafkan aku juga untuk ini."
" Alya, maukah kamu melengkapi iman ku dan menikah denganku? Aku akan berkunjung ke rumah orang tua untuk menanyakannya langsung padamu. Aku harap kamu mau menungguku."
" Alya, jaga hafalan Qur'an mu dan perbaiki hafalanmu surah Asy Syu'ara, hafalanmu masih buruk di surah itu. Dan satu lagi hapus rekaman ini setelah kamu mendengarkannya, aku tidak mau kamu menggunakan ini untuk mengejek ku. Riski Subuh. Wassalamu'alaikum."
Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum saat mendengarkannya. Aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia berhasil membuatku gila selama satu bulan menunggu. Kegilaan ku mereda atau malah menggila saat dia benar-benar datang ke rumah bersama Bapak Kyai beserta istrinya, mas Frizqi putra pertama dari pak Kyai dan Aisyah putri bungsunya sekaligus temanku di pondok dan juga Bilal adik laki-lakinya yang seumuran denganku. Dia meminta Pak Kyai untuk melamarku menggantikan kedua orangtuanya yang telah lama meninggal. Jantungku hampir copot, saat ku kira Pak Kyai mau melamarku untuk mas Frizqi, dia benar-benar jago membuat kejutan.
Tapi entah kenapa setiap melihatnya aku selalu yakin bahwa dia lah takdir untuk ku, menghapuskan semua keraguanku melenyapkan ketakutanku. Senyumannya begitu menenangkanku. Semoga dengan pernikahan ini semakin mendekatkanku pada Allah dan menyempurnakan Agamaku. 
Aku kembali menghadap kedepan, mencoba menetralkan detak jantungku saat melihat dia berjabat tangan dengan Ayah. Ayah sendiri yang menikahkanku di pandu dengan bapak pehulu. Rasa lega yang begitu besar ku rasakan saat Ijab Qobul selesai ia ucapkan dengan satu tarikan nafas tanpa ada kesalahan. Dan sekarang aku sudah sah menjadi seorang istri dari laki-laki yang ku cintai karna Allah, Riski Subuh.

Senin, 13 Juni 2016

Skill of Introvert

Menjadi seorang yang memiliki kepribadian introvert tentu bukan pilihanku. Di dunia ini tidak banyak yang bisa kau lakukan jika kau hanya diam larut dalam duniamu sendiri tanpa bisa menyampaikan apa yang mau kau sampaikan. Karena pada dasarnya mereka menganggap introvert adalah makhluk yang tidak bisa bersosialisai, sehingga introvert hanya akan menjadi anak bawang dalam suatu organisasi atau kelompok. Mereka hanya tertuju pada orang yang aktif dalam organisasi dan menganggap orang yang pasif seperti introvert tidak layak menjadi pemimpin. Tentu saja mereka benar, jika yang mereka maksud orang yang layak menjadi pemimpin adalah orang yang banyak bicara di depan umum. Bagaimana mungkin aku memilih menjadi seorang introvert di dunia yang seperti itu.

Aku hanya seorang introvert yang berpura-pura menjadi orang lain. Aku tidak bisa mematahkan omong kosong mereka, tapi aku bisa membuktikan bahwa opini mereka selama ini tentang introvert itu salah. Karena orang yang diam bukan berarti tidak berfikir dan orang yang banyak bicara belum tentu tau segalanya.


" Bagaimana Yas ?" Aku suka suasana ruang bimbingan konseling yang sunyi ini, tapi aku benci situasi di dalamnya. Di mana aku harus duduk berhadapan dengan dua orang guru. Yang satu Ibu Susy guru bimbingan konseling, aku kenal dia aku sering mengobrol dengannya di perpustakaan saat jam istirahat. Dia salah satu guru yang di takuti tapi bagiku dia adalah sosok penyayang dan menyabar yang tegas sangat cocok dengan bidangnya. Mungkin mereka salah beranggapan bahwa tegas adalah kata lain dari galak. Dan yang satu lagi Pak Hery wali kelasku. Dia adalah sosok yang amat peduli pada siswanya. Mereka ah tidak, kami sedang membahas tentang beasiswa yang minggu lalu aku ajukan. Menurut syarat pengajuan beasiswa aku jelas berhak menerimanya tapi hanya satu yang menjadi masalah. Aku merupakan siswa yang kurang mampu, aku bahkan harus bekerja paruh waktu di percetakan untuk membantu kedua orangtuaku. Aku juga jadi juara satu di kelas tentu saja nilai rata-rataku di atas angka delapan. Dua syarat sudah ku kantongi, tinggal satu syarat lagi. Syarat yang menurutku tidak masuk akal. Bagaimana bisa aktif dalam organisasi siswa menjadi salah satu syarat mutlak untuk dapat beasiswa. Ini bukan tentangku yang seorang introvert meski itu jadi salah satu alasanku, tapi tentang waktu yang terbuang dalam organisasi. Jika mendapat beasiswa berarti harus berhenti bekarja bukan kah itu sama saja (?) Jika aku mampu aku tidak perlu bekerja paruh waktu dan aku juga tidak akan butuh beasiswa itu.


" Apa tidak bisa syarat itu di kecualikan, pak ?"


" Tidak bisa Yas, semua yang mengajukan beasiswa adalah siswa yang aktif dalam organisasi. Siswa yang aktif lebih di prioritaskan." Tentu saja aku tau itu, tapi mereka siswa yang tidak perlu bekerja paruh waktu.


" Ikut saja satu kegiatan yang tidak banyak menyita waktu.Selama ini kamu juga tidak ikut ekstrakulikuler, apa kamu tau berapa poin untuk siswa yang tidak ikut ekskul apa perlu ibu tulis di buku poinmu sekarang ?" Ah..Ibu Susy tau betul caranya membuatku berkata 'iya' selama ini dia yang paling mengerti, aku memang siswa pengecualian yang boleh tidak ikut ekskul tanpa takut dapat poin tapi itu juga tidak geratis sebagai gantinya setelah makan siang aku harus membantunya menjaga perputakaan, tentu saja aku menyanggupinya perpustakaan adalah tempat yang sempurna. 


"Baiklah aku akan ikut ekstrakulikuler taekondow." Walau sedikit ragu, tapi aku tau ini adalah satu-satunya kegiatan yang tidak banyak  menyita waktu ku bekarja. Latihannya hanya satu sampai dua jam sehari. Meski akan memakan banyak tenaga tapi aku masih bisa bekerja setelahnya. Jika ini satu-satunya jalan agar aku bisa dapat beasiswa, aku akan lakukan.


***

Tidak banyak yang mengikuti ekstrakulikuler ini, hanya ada enam siswa baru termaksud aku dan tiga orang senior. Taekondow memang tidak begitu popular seperti ekskul lainnya seperti PMR dan Pramuka. Meski tidak begitu banyak tapi tetap saja membuatku sedikit tidak nyaman untung saja kegiatannya berkaitan gerak tubuh bukan gerak mulut. Senior yang merangkap menjadi pelatih memberi intruksi untuk menjaga jarak. Kami akan melakukan tendangan, tentu saja. Tendang, loncat tandang, putar, tendang, tangkis, pukul, tendang. Terus seperti itu gerakan dasar dilakukan dari ujung ruangan ke ujung yang lain. Melelahkan memang tapi menyenangkan juga. Meski awalnya terpaksa lama-lama aku jadi terbiasa dengan ini. Mereka menerimaku dengan baik aku tidak hanya jadi anak bawang di sini tidak mendiskriminasikan walau tidak waktu sparing. Lima perempuan empat laki-laki mau tidak mau aku yang harus sparing dengan perempuan karena postur dan berat tubuhku yang paling sesuai. Tapi aku juga tidak bisa menanggap remeh kemampuan Devy lawan sparingku, dia memiliki teknik dan kekuatan di atas rata-rata perempuan biasanya.

" Latihannya cukup, semuanya kumpul."


" Teman-teman bagaimana kalo ekskul taekondow juga mengadakan seragam semacam kaos identitas seperti ekskul yang lainnya.?" Salah satu senior bertanya mengenai kaos identitas. Ini juga yang membuatku enggan mengikuti kegiatan di sekolah, terlalu membuang-buang uang.


" Tapi minimal pemesanan kaos itu kan satu lusin, sedangkan kita cuma sembilan orang."


" Iya juga sih, kalo kita buat sendiri bagaimana ?"


"Maksudnya sablon ? lalu desainnya gimana ?"


" Ah...aku bisa buat desainnya dan nanti kita bisa mencetaknya di tempatku bekerja." Tiba-tiba semuanya diam. Mungkin terkejut dengan suara yang keluar dari mulutku oh ayolah aku juga masih bisa bicara.


"Waw...iya aku tau Ilyas kan kerja di pecetakan dan kamu juga bisa desain grafis kan ? Aku udah lihat karya typography dan doodle art-nya juga keren-keren." 


" Baiklah kalo begitu sudah di putuskan. Ilyas tolong buatkan desain yang paling bagus yaa sebagai gantinya kamu bebas biaya untuk pembuatan kaosnya."


***


Entah kenapa aku jadi senang hati membantu mereka membuat desain kaosnya. Rasanya baru pertama kalinya ada orang yang mempercayakan sesuatu padaku. Di tempatku bekerja merupakan tempat yang paling sempurna, aku bisa menyendiri menepi di sudut ruang bersama meja lengkap dengan komputer, buku sketsa dan beragam jenis dan ukuran pen. Aku sungguh beruntung di perbolehkan kerja paruh waktu di sini. Mas Fajar pemilik percetakan ini dengan senang hati menerimaku bekerja dengannya setelah dia tau aku adalah memilik aku Instragram @YasArt. Dia bilang kapan lagi punya pekerja yang bisa desain dengan bayaran yang murah. Aku tidak ambil pusing dengan alasan itu, aku tau dia hanya bercanda karena memang seperti itu lah dia. Aku bekarja di sini juga karena aku memang membutuhkan pekerjaan, lagi pula ini cocok dengan keahlianku dan aku juga masih bisa menerima pesanan untuk typography dan doodle lewat akun media sosialku.


" Yas udah jam sembilan kamu gak pulang ?"


" Belum mas, aku gak enak sering telat." Karena harus ikut ekstrakulikuler aku jadi sering telat masuk kerja, sebenarnya Mas Fajar sendiri juga tidak keberatan yaa mana mungkin dia mau kehilangan desainer grafis 'murah' nya. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak Mas Fajar sudah begitu baik padaku.


" Hahahha...bagus lah kalo merasa begitu."


" Ooo iya Yas, 'Snowgirl' lagi ngadain lomba grafis loh. Kamu ikutan aja typograpy dan doodle juga diperbolehkan."


" Hadiahnya apa ?"


" Hhahaha udah aku tebak pertanyaanmu bakalan kaya gitu. Juara pertama akan dapat beasiswa kuliah jurusan desain sampai lulus kan lumayan Yas kamu bisa sekolah gratis lagi Hahhaha." Apanya coba yang lucu, wajar kan kalo orang tanya hadiah dalam lomba, kalo hadiahnya gak menarik ngapain harus ikut. Tapi Beasiswa untuk kuliah desain sampai lulus mah bukan lumayan lagi kali mas itu luar biasa. Walau kemungkinan menangnya kecil tapi tetap harus coba dulu kan toh tidak ada ruginya.


***


Tema lomba yang di adakan 'Snowgirl' adalah tentang 'Negri tanpa Garuda' sedikit sulit untuk menuangkan temanya dalam sebuah grafis. Aku mencoba menuangkan tema dengan ide-ide yang ada di kepalaku. Typography dengan sedikit doodle art mungkin akan mempertegas temanya, itu yang aku pikirkan. Peserta lomba tidak sampai 150 orang bisa dibilang sedikit jika mengingat hadiah yang di berikan mungkin karena tidak banyak yang tau tentang lomba ini. Jika di lihat dari semua pesertanya kemungkinan aku menang akan lebih besar.


Pemenang lomba akan di umumkan lewat website resmi milik 'Snowgirl' dua minggu setelah perlombaan. Dan hari ini adalah hari pengumumannya, Mas Fajar langsung membuka website untuk melihat apakah aku menang atau tidak. Sebenarnya aku sudah melihatnya tadi siang, tapi melihat Mas Fajar begitu antusias dan penasaran aku pura-pura tidak tau. Melihat ekspresi Mas Fajar yang kaget sekaligus bahagia membuatku ikut tersenyum senang. Pengumuman pemenang lomba grafis dengan tema ' Negri Tanpa Garuda' juara pertamanya adalah 'Muhammad Ilyas Saputra' di tulis dengan huruf Capital Bold. Aku juga tidak menyangka akan menang, dengan begini sebelum aku lulus SMA uang kuliahku sudah terjamin jadi aku cukup fokus membantu orangtuaku untuk sekolah Alya adik bungsu ku saja.


Aku seorang introvert dari kecil belum pernah merasa seberhasil ini meski belum mencapai sukses. Dengan begini aku bisa mematahkan omong kosong mereka yang memandang sebelah mata introvert. Kami para introvert memang lebih nyaman menyendiri tapi bukan berarti kami tidak bisa bersosialisasi. Kami para introvert memang lebih suka diam tapi bukan berati kami tidak berfikir, sebaliknya kami akan berfikir terlebih dahulu sebelum berucap. Kami para introvert juga bisa berguna dalam suatu kelompok jika di dalamnya tidak ada kata diskriminasi. Kami para introvert memang tidak pandai berbicara di depan umum tapi bukan berarti kami tidak layak menjadi pemimpin. Sebagai pemimpin kita di tuntut untuk bertindak bukan berbicara banyak janji dan alasan mengingkari. Aku adalah seorang introvert yang nyaman menyendiri yang hobi menulis terutama grafis dan sedikit bela diri. Tendang, putar, tendang. Dan K.O

Jumat, 10 Juni 2016

Sapa

Sepeda putih itu setiap hari melewati depan rumahku. Yang mengendarai adalah bidadari beransel. Rok panjang dan lebarnya melambai-lambai di setiap kayuhan. Satu dua satu dua kayuhannya berhenti jalan yang sedikit menurun membantu roda-roda itu melaju. Duhai, kain apa yang kau gunakan menutupi mahkotamu itu begitu halus berkibar tertiup angin sejuk setiap pagi dan sore. Ah...aku membayangkannya seperti tirai di balik jendela kaca bening ketika jendela itu terbuka hembusan angin menyapa. Tapi tentu saja kau tidak sama dengan jendela. Perumpamaanku buruk sekali. Tapi bolehkah aku jadi orang yang menyambut angin di balik jendela itu ? Sudah lupakan saja.
" Monggo mbah." 
Selalu seperti itu. Sedikit mengurangi kecepatan lajunya kau selalu menyapa setiap orang tua yang duduk di beranda rumah mereka. Menyapa dengan sedikit meninggikan suaramu aku tau bukan maksudmu berteriak tapi karena jarak halaman rumah dengan jalan itu dan semua juga tau kemampuan pendengaran orang tua mulai berkurang terutama embahku ini. Ah harusnya kau tidak perlu berteriak untuk menyapanya cukup dengan angukan sopan semua juga tau apa maksudmu. Tidak masalah jika kau berjalan kaki seperti dulu sebelum kau punya sepeda putih itu, dengan begitu embahku bisa menyuruhmu untuk mampir sebentar dan aku jadi punya kesempatan untuk mimbrung.
" Ngati-ngati nduk."
Satu doa lagi yang mengiringimu pagi ini. Aku penasaran sudah berapa banyak doa yang kau kantongi sepanjang perjalananmu. Selalu seperti itu. Tersenyum manis sekali saat kau mendapatkan doa-doa itu. Apa jika embahku tidak menjawab sapaan mu kau akan berhenti barang sejenak. Jika iya aku akan memintanya untuk menunda mendoakanmu sampai kau memintanya sendiri. Barang kali aku bisa membuatkanmu teh hangat yang katanya adalah teh ternikmat. Itu kata embahku.
" Mbah aku juga berangkat. Wassalamu'allayikum." Mau tidak mau aku harus bergegas juga menyusulmu yang telah dulu.
" Wa'alaikumssalam ngati-ngati le." Ah ternyata aku masih dapat jatah doanya.
Pagi-pagi aku sudah dibuatnya berkeringat setelah tadi membuatku melayang tertiup angin sejukmu. Perasaan tidak terlampau lama aku bergegas darinya, tapi dia sudah jauh di depan. Apa karena jalur persawahan ini sudah tidak ada perumah lagi sampai kau tidak mengurangi lajumu untuk menyapa dan meminta doa. Kau ini benar-benar. Kau kan juga bisa menyapa petani di tengah sawah itu. Cukup berteriak lebih keras dari sebelumnya aku yakin petani itu akan mendengarnya.
" Kau...kau cepat sekali ?"
" Memang kenapa ?"
" Tidak apa."
Anggun sekali pemandangan di depanku. Matahari di timur merona menjadi bingkai yang tepat. Serasi. Meski harus ku akui matahari pagi ini kalah anggunnya denganmu. 
" Kenapa kau melakukan itu ?"
" Melakukan apa ?"
" Menyapa setiap orang yang kau temui."
" Kamu berlebihan, aku tidak melakukannya ke semua orang."
" Tunggu dulu, apa mbah kamu tidak menyukai ini ?"
" Hahahaha lebih dari sekedar tidak menyukai."
" Benarkah ? Kenapa ?"
" Karena dia mau kau menyapanya setiap pagi di dalam rumah tidak berteriak dari pinggir jalan."
" Apa maksudnya ?"
" Ah tidak ada, lain kali aku yang akan menyapa orang tuamu."
Ya dengan angin yang kau bawa akan mengantarkanku di depan rumah orang tuamu. Menyapa seluruh kerabatmu dan menanyakan apa kau mau ku bonceng dengan sepedaku atau sepedamu terserah mana yang kau pilih.

Minggu, 22 Mei 2016

Sedikit lagi... Sedikit lagi

Pernah dengar jika ada seorang wanita yang sedang jatuh cinta, dia cenderung menyembunyikan perasaannya. Tidak akan dia biarkan siapa pun tau perasaan nya. Apa lagi untuk menyampaikan perasaannya pada orang yang di sukai. Takut. Mungkin memang benar ia takut, takut jika perasaan nya akan menghancurkan semuanya. Tapi percaya lah si pengecut ini memiliki cinta yang lebih besar dari pada rasa takutnya.
Dia berjalan menyusuri jalan berbatu di taman pinggir kota, langkahnya pelan sedikit ragu. Gadis itu berjalan sedikit menunduk mengaitkan kedua tangannya,dan kedua ibu jarinya saling berputar mengelilingi ibu jari masing-masing dengan gelisa. Dia ada janji di sini, di taman ini, sore ini. Masih ada sekitar tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan. Sengaja datang lebih awal seperti biasanya karena kali ini dia sendiri yang membuat janji untuk bertemu di taman ini. Tapi bukan kah tiga puluh menit adalah waktu yang lama untuk menunggu. Tidak...tidak kali ini tiga puluh menit masih belum cukup untuknya. Terlalu cepat untuk sekarang.
Langkahnya terhenti tepat tiga meter dari bangku taman yang menjadi tujuannya. Bangku taman yang masih sama, yang akan menjadi tempat pertemuan yang ke sekian kalinya. Dia mengeluarkan Smartphone nya dan memasang handsfree di kedua telinganya. Memutar lagu yang bisa memantabkan hatinya. Lagu yang menjadi shountrack salah satu film anime. Lagu yang baru ia download seminggu lalu.
***
Soshite kizuita toki ni kangaeteru no wa kimi no koto de
Aku memikirkanmu ketika aku melihatnya
sore ga sugoku hazukashikattari sugoku iyadattari omoete
Aku merasa sangat malu dan benar-benar benci perasaan itu
sore wa boku ga kimochi o tsutaeru koto ga kowai kara de
Itu karena aku takut untuk menyampaikan perasaanku
Aku selalu memikirkanmu. Aku tau aku sudah menyukaimu sejak saat aku mengenalmu. Tapi aku takut menyampaikan perasaanku. Memikirkan kau akan menjauhiku saat kau mengetahinya membuatku menjadi seorang pengecut.
atama de osae tsukete mo kokoro wa dousuru koto mo dekinakute
Meskipun aku menekannya di kepala, aku tak bisa mencegah hatiku
autabi ni kimi ni satorarenai youni
Aku tak akan membiarkanmu menyadarinya setiap kali kita bertemu
itsumo to kawarinai youni hanashiteru tsumori de
Jadi sama seperti biasa bagaimana aku pergi berbicara denganmu
yoyuu mo nakute kurushikunatta boku wa kimi ni uso o tsuiteshimau.....dakedo
Berpura-pura tenang menjadi menyakitkan, berbohong padamu aku akan menyingkirkannya… tetapi
Sudah ku coba menghilangkan rasa itu, semakin mencobanya semakin besar rasa ku padamu. Dan yang ku lakukan selama ini hanya menyembunyikan perasaanku berpura-pura tidak terjadi apa-apa padaku hingga aku tetap bisa bersamamu. Menjadikan kebersamaan kita begitu menyenangkan sekaligus menyakitkan. Tetapi...
mou sukoshi mou sukoshi kimi no kokoro ni chikazuitara
Sedikit lagi… Sedikit lagi… Jika aku bisa mendekati hatimu
mou sukoshi mou sukoshi ima kono toki ga kienai youni
Sedikit lagi… Sedikit lagi… Sehingga saat ini tak akan hilang
kebersamaan kita juga membawaku sedikit lebih mendekati hatimu. Kebersamaan kita yang membuat ku yakin hanya aku yang mengerti hatimu dan begitu pun sebaliknya. Kebersamaan kita, ku harap tidak akan hilang hanya karena rasa ku.
douka kamisama boku ni yuuki o kudasai
Aku mohon Tuhan, beri aku keberanian
Klik. Gadis itu menghentikan lagunya. Masih berada pada posisi yang sama, ia memejamkan matanya, mendekap smartphone di dadanya mengumpulakan keberanian. Ia akan mencoba menyampaikan perasaannya.
" Raka..." Ucapnya lirih masih dengan mata yang terpejam.
" ...aku menyukaimu." Ucapnya mantab membuka matanya penuh dengan keterkejutan. Dia tidak sendiri lagi saat ini. Seseorang berdiri tepat di depannya.
" Ra...Raka." Semburat merah menjalar mewaranai kedua pipi gadis itu. Sosok yang di tunggu berdiri tepat di depannya.
" Lagu apa yang sedang kau dengarkan ?"

Jumat, 20 Mei 2016

Aku dan Aku yang lain

" Rasanya aku ingin menangis dan membenci semua." Meski aku tau, aku bisa dengan mudah melakukannya tapi kali ini aku ingin mendengar pendapat pada diriku yang lain.
" Siapa ?" Cih. Dia pura-pura tidak tau yang benar saja dia adalah aku dan aku adalah sebagian darinya.
" Aku tau kau mengetahuinya. Aku punya begitu banyak alasan untuk menangis dan membenci." Harusnya dia memang tau jawabannya tanpa harus bertanya.
" Apa perlu aku ingatkan lagi, bukan hanya kau yang pernah mengalami hal sulit dan menyedihkan ada milyaran manusia yang kisahnya lebih menyedihkan darimu." Lagi-lagi itu, aku sudah khatam itu.
" Aku tau itu. Aku sudah memikirkan itu ribuan kali dan setiap aku memikirkannya membuat mulutku bungkam, takut ditertawakan karena mungkin saja kisahku tidak lebih menyedihkan dari kisahnya."
" Hahaha bukan kah itu karena kau juga begitu pada mereka yang berbagi kisah denganmu. Menertawakan seolah kisahmu lah yang paling menyedihkan." Sial dia memang benar. Tapi memang begitu adanya mereka selalu merengek akan satu hal dan tidak memikirkan banyak hal. Sudut pandang misalnya, mereka hanya melihat dari sudut pandangnya sendiri merasakan ke sedihannya sendiri tanpa memikirkan pihak lain yang terlibat. Ironi sekali.
" Meski begitu harusnya kau tidak boleh menghakimi seseorang karena rasa sedih mereka bukan ? Setiap orang berbeda dalam menerima sebuah rasa." Dia terus saja menceramahiku.
" Kau benar, tapi aku tetap tidak bisa membagi kisah ku itu akan lebih membebani mereka. Tapi aku juga tidak tahan jika harus terus bungkam kau tau orang yang diam cenderung memendam benci."
" Haah...itu karena kau belum menemukan orang yang tepat untuk berbagi." Ucapnya sambil menghela nafas.
" Lalu bolehkah aku menangis dan membenci sampai ada orang yang mengatakan 'Semua akan baik-baik saja, aku akan mendengarkanmu.' itu datang ?"
" Menangislah tapi tidak dengan membenci." Jawabnya dan lalu ia menghilang.
" Haah...harusnya dia tau kalau aku menangis rasa benci itu akan muncul." Aku hanya bisa menghela nafas berat.
" Sudah ku putuskan aku tidak akan menangis sampai ada orang yang akan menjadi tempat pecahnya tangisku." 

Jumat, 06 Mei 2016

Dia tetap Bunga

Kadang ada sesuatu yang tampak indah bila di lihat dari jauh, tapi ada pula yang lebih indah bila kita melihatnya dari dekat.

Rabu, 23 Maret 2016

Berawan

Aku suka saat langit berawan di pagi hari. Saat hamparan putih menyelimuti biru begitu serasi. Saat matahari terhalang oleh awan memberikan hangat tapi tidak menyengat. Entah, hanya saja aku merasa matahari yang angkuh dengan sinar nya bisa di takluk kan oleh awan. Aku merasa matahari saat itu sedang tersipu malu. Seperti kekasih yang keras kepala yang luluh dengan kelembutan. Oh...tapi biar bagaimana pun matahari bertugas menyinari bumi, awan tidak bisa terus menghalanginya. Tapi ia bisa mendampinginya jikalau sinar nya terlampau menyengat awan akan menghalanginya. Dan saat itu aku bisa melihat matahari yang tersipu malu. ^_^

Rabu, 16 Maret 2016

Bianglala Pertama

Bianglala pertama. Apa kalian mengingatnya.? Jika kalian bertanya padaku jawabannya Tidak, aku tidak akan lupa. Kalau di pikir-pikir itu adalah satu-satunya kenangan yang kita miliki. Apa kalian juga berfikir begitu.? Apa kalian malah tidak mengingatnya. Hmm...baiklah kalau begitu biar aku ceritakan agar kalian mengingatnya.

Waktu ada pasar malam di dekat rumah kita dulu, apa kau mengingatnya. Saat itu kita ingin sekali ke sana, tapi tidak di ijinkan sampai nekat pergi sendiri. Ya sampai akhirnya kalian di hukum karna pergi tanpa pamit. Apa kalian sudah ingat.? Belum. Waktu itu baru pertama kalinya aku melihat kalian di hukum mengangkat satu kaki dengan kedua tangan menjewer telinga masing-masing. Huft sungguh kesempatan yang langka buat ku.

Karena sedikit kekeras kepalaan, akhirnya kita semua bisa pergi ke sana. Hal yang pertama kali kita tuju adalah penjual es crim. Ahhh...rasanya ingin tertawa setiap kali mengingat alasan es krim nya basi, membodohi anak kecil sudah biasa eh. Yang benar saja, alasan macam apa itu. Tapi apa boleh buat pop cron lah yang ada di tangan.

Roda besar yang berputar dengan kurungan di setiap jari-jarinya menjadi tujuan kita. Begitu besar dan tinggi ada sedikit rasa takut saat kalian mengajak ku menaiki wahana ini. Tapi ku tepis itu semua karena ada kalian berdua di dekatku. Apa kalian sudah mengingatnya.??Apa kalian juga mengingat posisi kita duduk.? Belum.

Baiklah..baiklah. Saat itu aku duduk di samping gadis kecil yang usiannya dua tahun lebih tua dariku dan di depan kita duduk sosok remaja laki-laki entah lah aku tidak tau berapa usianya saat itu. Karena ada kalian berdua aku jadi merasa aman dan terlindungi. Bianglala mulai berputar. Kurungan yang kita naiki pun mulai bergerak naik perlahan. Ada rasa takut saat itu. Tapi melihat pasar malam dari atas bianglala cukup menyenangkan. Sampai kalian mengusik kesenangan ku.

Saat kurungan bianglala terisi penuh, roda besar itu semakin mempercepat putarannya meski dalam batas wajar. Saat itu juga ketakutan ku semakin besar tapi kalian malah tertawa melihatku. Menyebalkan. Apa kalian mengingat saat itu.??

Saat ketakutan ku semakin menjadi, remaja laki-laki di depanku menyuruh gadis di sampingku untuk pindah tempat duduk di samping remaja laki-laki itu. Dia benar melakukannya dan kalian malah tertawa semakin keras saat aku semakin ketakutan. Kalian mengingatnya.??

" Huaaa....abang uni haaaaaa abang uni..." Apa teriakkan ku itu lucu buat kalian.

" Hahahahahaha." Tawa kalian semakin keras tapi gadis kecil tadi pindah duduk di sampingku kembali.

Apa kalian sudah mengingatnya.? Mengingat kenangan manis kita. Ayo lah kapan-kapan kita akan menceritakan semuanya dengan tawa yang lebih keras.

Senin, 14 Maret 2016

Aku Cantik di tangan Ayahku

Orang tua. Hmm aku hanya punya Ayah yang jadi orang tuaku. Kata ayah, ibu sudah di surga bersama malaikat ia pergi tepat saat aku lahir. Ayahku juga bilang kalau aku di tugaskan untuk menemaninya menggantikan ibu. Tapi ku rasa bukan aku, tapi ayahku yang menggatikan peran ibu. Ayahku yang merawatku dari kecil sampai sekarang. Tapi nanti saat aku sudah besar, aku yang akan merawatnya. :)

Setiap hari ayah akan bangun pagi membuatkanku sarapan dan juga bekal untuk makan siang. Aku juga akan membantunya memotong sayur atau sekedar mencuci piring. Masakan ayah benar-benar enak, kalian harus mencobanya. :) Apa lagi oseng kangkungnya. Ayahku hebat, dia bisa melakukan apa saja. Aku sangat bangga dengan ayahku.

Ayahku bukan dokter, bukan polisi, bukan tentara juga bukan pilot. Tapi ayahku hebat, ayahku seorang pengusaha. Dia punya perusahaan kecil yang setiap hari ia dorong. Gerobak yang penuh dengan aksesoris. Ada banyak aksesoris di sana. Ada pita, jepit rambut, bando, sirir, kaca aneka bentuk ada kuncir rambut dan karet rambut beraneka warna dan masih banyak lagi. Di rumah aku juga punya banyak sekali aksesoris seperti itu. Kalian lihat pita yang ada di rambutku. Cantik bukan. Ayahku yang memakaikannya. Setiap hari rambutku di sisir ayah dan di pakaikan aneka aksesoris. Aku bisa memilih sendiri yang mana yang mau aku pakai. Aku bagai tuan putri yang cantik, kata ayahku aku cantik seperti ibu. Setelah besar nanti aku akan menjadi pengantin yang cantik dengan bando berbentuk mahkota di kepalaku. Ayahku yang akan mengias rambutku. Aku akan cantik di tangan ayahku.

Teman-teman jika ingin cantik juga beli aksesoris pada ayahku. Nanti kalian bisa menggantinya setiap hari seperti aku. Nanti aku minta ayahku untuk memakaikannya. :) Terima kasih.

Prok...Prok..Prok

" Cerita yang bagus, Tiara." Ucap Bu Ima sambil mengusap rambut Tiara.

" Kamu boleh duduk, sekarang giliran Dewi." Lanjutnya mempersilahkan Tiara untuk duduk kembali.

" Nanti aku mau beli penjepit rambut pada ayahmu yaa." Bisik Tania teman sebangku Tiara.

" Boleh." Ucap Tiara sambil tersenyum memperlihatkan giginya. Pipi gembulnya meninggi membuat mata  belonya sedikit menyipit.

Jam ke 3-4
Pelajaran Bahasa Indonesia
Kelas 1
SDN Pengasih

Selasa, 01 Maret 2016

Ada kah Yang Lebih Indah dari Mimpiku

Ya Allah adakah yang lebih baik dari apa yang aku impikan selama ini.??
Bukankah mimpiku sudah begitu indah.
Sampai aku pun ingin hidup di dalamnya.
Sampai rela ku tukar dengan dunia nyataku.

Tapi jika memang Engkau menyiapkan yang lebih indah dari mimpiku.
Aku rela menukarkan mimpi indahku untuk rencanamu.
Jadi adakah yang lebih indah dari mimpiku.??

Suka Tanpa ada Tapi

Aneh...
Memang aneh..
Aku suka mawar tapi tidak dengan durinya
Aku suka kopi tapi benci rasa pahitnya
Aku suka hujan tapi tidak dengan petirnya
Aneh memang...

Apa??
Entah apa
Yang aku suka walau melukai
Yang bisa ku rasa tanpa membenci
Yang bisa ku nikmati tanpa takut mati
Apa??Entah apa.

Mencari
Walau tak hilang
Namun belum ku temukan
Sesuatu yang tanpa tapi