Sabtu, 14 Januari 2017

Kembalikan Tawa Nara

Nara, wanita itu hanya duduk termenung melihat keluar jendela kaca di kamarnya. Hujan sedang mengguyur seluruh kota tempat ia tinggal memberikan kesejukan tersendiri. Tapi tidak dengan hati Nara, ia tidak perlu sesuatu untuk menyejukan hatinya karna hatinya telah membeku. Pandangannya menerawang jauh membelah tirai hujan di luar sana. Seolah mencari kepingan masa lalunya lewat tetesan hujan. Ya dari tetesan-tetesan itu ia mampu mengingatnya.
Ayah, Nara mau naik kincir-kincir itu.?" Nara kecil menarik tangan ayahnya menuju wahana bianglala di sebuah karnaval dekat rumahnya. Raut wajah gadih berumur 5 tahun itu tampak bergembira pipi bulatnya tertarik keatas tak kala ia tersenyum lebar memperlihatkan gigi ompongnya.
"Memang Nara tidak takut itu kan tinggi.?"tanya wanita yang berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Nara kecil.
Tidak. Nara tidak takut Nara pemberani.? "Jawabnya girang sambil menepuk dadanya sendiri.
"Hahahahah...?" Terdengar gelak tawa di sana.
"Baiklah tapi sama abang Ryan ya.?"Sang ayah memberikan izin Nara kecil naik bianglala bersama kakak laki-lakinya.
Yeeee....?"teriaknya girang.
"Jaga adikmu yan.?" Kata ayah pada Ryan.
"Siap yah.?" Ryan memberi hormat layaknya prajurit pada kaptennya.
Ayah sama ibu tunggu di bawah ya, hati-hati.?" Ucap ibu sambil melambaikan tangannya saat bianglala mulai berputar.
Nara tersenyum kecil.
Senyum Nara kecil tak pernah luntur dari wajah imutnya tak kala ia melihat karnaval dari atas bianglala. Banyak lampu-lampu warna-warni dari atas bianglala ia bisa melihat semua yang ada di karnaval itu. Wahana ini, wahana itu ia tak berhenti berceloteh sambil menunjuk wahana yang ada, ia ingin menaiki semuanya. Pikirnya.
Tiga kali putaran, kurungan yang Nara kecil naiki tepat berada di puncak, bianglala berhenti menurunkan penumpang yang habis waktunya dan di ganti dengan penumpang yang lain.
Abang kenapa berhenti.?" Tanya Nara kecil wajah polosnya ketara sekali bahwa ia sedang takut. Melihat itu Ryan berniat mengerjai adiknya. Remaja umur 12 tahun itu menggoyang-goyangkan kurungan yang ia naiki bersama adiknya.
 "Huaaa....abang abang jangan di goyang-goyang."Teriak Nara kecil ketakutan.
"Hahahahaha katanya pemberani. "Kata Ryan mengejek.
Nara kembali tersenyum kali ini lebih lebar sampai memperlihatkan giginya. Matanya ikut menyipit namun tatapannya tetap tajam melihat rinai hujan yang semakin deras di luar sana. Masih ada jutaan tetes hujan yang menyimpan semua kenangan Nara. Kali ini Nara memilih tetesan hujan yang semakin besar yang diturunkan dari langit. Tetesannya semakin besar jatuhnya pun semakin cepat, memberikan riak yang semakin besar pada genangan di halaman rumahnya. Ia kembali teringat masa itu, masa yang tidak akan pernah ia lupakan meski ia menginginkannya.
"Apa yang kau lakukan.??" teriak sang ayah pada ibunya.
"Aku mau pergi dari sini aku mau pulang." jawab ibu tak kalah kencang dengan teriakan ayah. Ibunya masih sibuk memasuka pakaian dalam koper tidak mempedulikan teriakan-teriakan ayah bahkan dia juga tidak menghiraukan tangisan Nara kecil yang baru berusia 6 tahun itu.
Prakk...prakk
Brukkk...
Bunyi benda-benda menghantam lantai. Di sudut kamar Nara meringkuk menekuk kedua lututnya dan kedua tangannya menutup telinganya berharap tidak ada suara yang masuk indra pendengarannya. Wajahnya sudah basah dengan air mata tubuhnya menggigil ketakutan.
"Hiks..hiks ibu kita mau kemana.?? "dengan isakan Nara kecil bertanya pada ibunya yang menarik tangannya.
Nara ikut ibu ya.? "Hanya itu yang di ucapkan ibunya. Air matanya terus mengalir bagai anak sungai.
"Jangan bawa anak ku.? "Teriak ayahnya dari ruang tengah. Tak dihiraukan ibunya semakin mempercepat langkahnya keluar dari rumah itu dengan Nara kecil yang ia gandeng.
Nara tidak tau apa yang terjadi pada kedua orang tuannya, Nara tidak pernah tau sampai sekarang pun ia tetap tidak tau. Nara kecil terus betanya kemana ia akan pergi bersama ibunya. Mengapa ia harus pergi. Bagaimana kalau abang Ryan mencarinya sepulang sekolah. Bagaimana dengan ayahnya. Kemana, kemana ia akan pergi. Pertanyaan demi pertanyaan muncul namun tak ada jawaban dari ibunya. Nara melihat ibunya masih menangis sesekali ibunya menghapus air matanya namun tetap saja air mata itu mengalir lagi dari mata sembabnya. Nara kecil memang tidak tau apa-apa tapi yang pasti ia tidak mau semua ini terjadi. Ia tidak mau.
"Hemppt..."Nara kecil dibekap dari belakang dan di paksa menjauh dari ibunya. Ayahnya menggendong Nara kecil dan menjauh dari ibunya. Ibunya tidak berusaha merbutnya ia tetap melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti kini ia berjalan seorang diri dengan air mata yang semakin deras keluar dari mata sayunya.
"Aaaaaa ibu...ibu...ibu jangan pergi.?"teriak Nara kecil dari gendongan ayahnya.
" Hiks ayah turun Nara ingin ikut ibu hiks hiks.? "Tangisnya pilu.
Sang ayah membawa Nara kecil kembali ke rumah. Nara masih menagis, tangisannya semakin menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Nara terus memanggil ibunya dalam tangisannya.
"Hiks hiks ibu..ibu hiks ibu hiks ibu ibu..." tangisannya semakin pilu.
Saat ia sampai di rumah Ryan sudah ada di sana. Tatapannya tajam penuh dengan kebencian melihat ayahnya hanya membawa Nara kecil kembali tanpa ibunya.
"Hiks...abang ibu ibu bawa pulang ibu bang." Pintanya pada sang kakak. Sang kakak langsung pergi mengejar ibunya. Nara hanya bisa berharap kakaknya bisa membawa kembali ibunya dalam pelukannya. Ya pelukan, Nara amat sangat membutuhkannya saat itu. Jiwanya begitu rapuh, ia amat terpukul di usianya yang masih belia harus menghadapi pemandangan seperti ini.
Nara tidak tau apa yang terjadi dulu sampai sekarang pun ia tidak tau. Tapi dia bisa bernafas lega karna saat itu kakaknya berhasil membawa ibunya kembali. Entah apa yang membuat kakaknya mampu membujuk ibunya untuk kembali, Nara tidak mempedulikannya yang penting ibunya kembali. Kembali memberikan pelukan hangat pada tubuh kecil Nara yang menggigil.
Nara tersenyum kecut. Matanya masih menatap hujan dari balik jendela. Kenangan itu membuat hatinya serasa diremas kuat menyebabkan nyeri yang begitu hebat di dadanya. Karna ia tau setelah kejadian itu semuanya berubah. Nara kecil tak lagi menunjukan senyumannya. Kehidupanna telah berubah. Ayahnya pergi dengan alasan bekerja di luar kota. Ayahnya hampir tidak pernah pulang, tapi Nara tidak mengharapkannya karna ia tau saat ayahnya pulang pasti aka ada pertengkaran. Dan Nara benci itu.
Nara sudah kehilangan sosok ayahnya dulu. Ayah yang selalu melindunginya, menjaganya, menyayanginya sudah tidak ada lagi. Ayah yang sangat ia banggakan sudah hilang, hilang bersama kenangan. Hidupnya kini hanya ada kakak dan ibunya. Yang entah kenapa pula sosok kakaknya pun telah berubah. Dia bukan kakaknya yang dulu. Nara kembali mengingat masa lalunya lewat tetesan hujan. Masa di mana ia kehilangan sosok kakaknya.
Dasar adik sialan, masuk sana aku tidak mau teman-temanku melihatmu." Kata-kata kasar, menghina bahkan pukulan sekarang menjadi hal biasa buat Nara. Ia tidak pernah melawan tapi hatinya menyimpan kebencian.
"Minggir, kau merusak pandanganku."Ryan dengan tega mendorong tubuh Nara hingga terjatuh.
" Ryan.." teriak ibunya saat melihat apa yang di lakukan Ryan pada Nara.
" Kenapa denganmu.?Dia adikmu." Lanjutnya sambil memeluk Nara yang masih terduduk di lantai.
" Persetan dengan adik. Persetan dengan keluarga." Teriak Ryan sambil berlalu pergi.
" Nara....Nara yang sabar ya nak." Kata ibunya sambil membelai rambut Nara.
Nara tak bersuara dia hanya diam bahkan dia tidak menangis meski tubuhnya merasakan sakit akibat hantaman keras saat ia terjatuh tadi. Dia hanya diam tapi matanya memancarkan kebencian, tak ada lagi cahaya di sana hanya gelap. Nara tau kenapa sosok kakaknya berubah seperti itu dia amat tau. Tapi apa semua ini salah Nara.? Apa pertengkaran orang tuanya itu salahnya.?Apa kepergian ayahnya juga salahnya.? Bukan. Ini bukan salah Nara. Nara juga tidak menginginkan semua ini terjadi. Lalu kenapa Ryan amat membencinya.? Entahlah. Nara pun tidak tau jawabannya.
Raut wajah Nara berubah kini ia tidak menangis lagi tatapannya tajam seolah bisa membunuh siapa saja yang melihatnya. Mengingat kenangan itu kebenciannya muncul kembali hingga tak sadar ia mengepalkan tangannya erat. Pertannyaan mengapa kakaknya membencinya tak pernah ia dapatkan jawabannya. Masih melihat hujan di luar sana yang masih belum menunjukan akan reda, Nara kembali mencari kepingan-kepingan yang lain.
" Lihat gadis itu apa kau berani mendekatinya."
" Yang benar saja."
" Hahahha kau bayar pun aku tidak sudi berteman dengannya."
" Benar, lihat saja matanya penuh dengan intimidasi."
" Hahahah dasar gadis aneh."
Nara hanya duduk di kursi barisan paling belakang tepat di samping jendela. Pandangannya tertuju pada barisan pohon yang ada di taman belakang sekolahnya. Dia mendengar semua bisik-bisik itu tapi ia memilih untuk diam meski ia tau semua bisik-bisik itu tertuju untuknya. Manusia Es, gadis aneh, menakutkan, dan masih banyak lagi julukan untuknya tapi Nara tetap tidak peduli. Ia memang memilih seperti ini. Menjauh dari semuanya menyendiri ia tidak butuh siapa-siapa. Pikirnya. Karna Nara tidak mau percaya dan berharap pada orang lain lagi. Nara pernah berharap dan percaya pada ayah dan kakaknya tapi harapan dan kepercayaannya telah hancur tak bersisa. Kini tinggal Nara sendiri, ia sendiri di dunia ini.
Nara kembali mematung, tatapannya menjadi kosong. Nara berfikir bahwa selama ini ia tidak bisa menikmati masa remajanya dulu. Tapi tidak juga, ia pernah sangat-sangat bahagia rasanya Nara ingin tertawa mengingat itu. Sampai sebuah teriakan mebangunkan lamunannya. Hujan juga sudah reda entah sejak kapan.
" Mama..."

Selasa, 23 Agustus 2016

Perjalanan Melepas Penat

Untuk parapendaki yang masih pemula seperti saya sangat di rekomendasi kan untuk mendaki di gunung-gunung yang tidak terlalu tinggi dulu sebagai pemanasan. Dan untuk yang tinggal di daerah perkotaan seperti jakarta tentu sangat sulit menemukan gunung, jangan gunung lahan penghijauan pun jarang. Setelah penat dengan segala aktivitas rutin sebagai karyawan kantoran tentu kita sanggat memerelukan refreshing diri dan wisata alam adalah tujuan nya. Kali ini saya akan membahas pengalaman saya berwisata alam ke gunung munara di wilayah bogor jawa barat.

Biayanya saya akan ngetrip bersama teman kerja. Saya yang bisa di bilang penduduk baru di jakarta sangat-sangat bosan dengan ke hidupan di sini. Di mana-mana kendaraan, gedung pencakar langit, macet, polusi, dan panas sungguh berbanding terbalik dengan tempat tinggal saya di kampung di mana udara nya masih bersih dan sejuk, dengan mudah saya bisa berteduh di bawah pohon bukan di bawah beton. Untung saja teman kerja mengajak saya refreshing wisata alam bukan refreshing ke mall atau pusat pembelajaan lain nya. Pertama kali saya berwisata alam bersama teman kerja ya itu ke curug cibeureum di kabupaten cianjur, Jawa barat. Pemandangan di sana cukup membuat mata menjadi fresh dengan pemandangan hutan yang hijau dan germicik sungainya sangat menenangkan. Perjalanan menuju curug cibeureum cukup melelah kan karena jalan menanjak dengan jarak sekitar 7-8 km, untuk pemula seperti saya tentu membuat saya ngos-ngosan tapi tenang pemandangan selama perjalanan bisa menjadi obatnya dan setelah sampai rasa lelah pun hilang bersama sejuknya air terjun yang mengalir membasahi wajah.
                                                   
Perjalanan ke curug cibeureum
Curug Cibeureum ada 2 ini salah satunya
Percaya deh jalannya gak cuma jalan datar saja itu juga ada jalan nanjak dan turunan juga, tapi di jalan yang ada di gambar bisa untuk istirahat, foto selfie juga nih dan bisa juga buat foto prewedding dengan tema alam (bagi yang niat).

Perjalanan kedua saya ke curug cigamea, karena letak curug nya berada di bawah saya harus menuruni anak tangga dengan jarak sekitar 2 km. Pemandangan nya lumayan bagus meski sudah banyak bangunan warung kecil tapi pemandangan alam nya masih asri dan juga bersih. Derasnya air terjun membuat saya puas bermain air di sungai. Begitu menyenangkan setelah penat dengan kehidupan kota saya di suguhkan pemandangan alam seperti ini membuat saya ingin berlama-lama di sini.

Masih Asri banget kan
pemandangan curug cigamea
Asli puas banget main airnya
Ini deser loo air terjunnya 























Saat saya datang belum ada pengunjung lain jadi puas main air serasa milik kita sendiri, hihihi. Yaa kalau mau seperti saya harus bisa mengatur waktu keberangkatan dan sampainya. Dan berubung saya punya teman yang pernah ke sini jadi dia sudah tau betul jadwal yang tepat untuk berwisata alam ke curuk cigamea ini.

Nah yang satu ini sedikit berbeda dengan perjalanan sebelumnya. Ini perjalanan yang baru saya lakukan, jika biasanya berefreshing ke air terjun kali ini saya di ajak teman kerja naik salah satu gunung yang ada di bogor yaitu gunung Munara. Gunung Munara memang tidak terlalu tinggi hanya sekitas 1119 Mdpl tapi tentu saja dengan medan menanjak dan jalan yang masih berupa tanah belum ada jajaran batu yang membentuk anak tangga membuat perjalanan ini cukup sulit karena jika terpeleset sedikit saja bisa-bisa kita main prosotan seperti saat masih taman kanak-kanak bedanya medianya tanah dan lebih curam juga panjang.

Setelah sampai atas kita akan melihat bebatuan besar yang warga sekita menyebutnya dengan nama batu belah karena batu besar yang terpisah membentuk jurang selebar 3-4 meter. Di sini saya mencoba mendaki salah satu batu belah hanya dengan seutas tali. Awalnya saya kira di puncaknya luas dan bisa untuk banyak orang ternyata batunya berbentuk kerucut jadi hanya bisa di tempati empat orang saja. Jika tidak hati-hati bisa-bisa jatuh ke jurang yang kalau saya lihat dari atas sudah bikin kepala pusing.
Naiknya lumayan gampang,
tapi turunnya ngeri euuy
.
 Di balik batu itu udah jurang dan di puncaknya cuma bisa buat duduk empat orang doank. Bikin adernalin makin tinggi kalo kaya gini. Tapi ini masih belum sampai puncak ya teman-teman, masih sekitar 15 menit dari batu belah untuk sampai puncak gunung munara. Meski panas dan tidak ada air terjun seperti perjalanan sebelumnya tapi tetap saja pemandangan yang di berikan dari atas ini begitu indah. Mungkin kalau berangkat lebih pagi bisa sedikit sejuk soalnya waktu saya ke sana sempat nyasar juga jadi kesiangan deh.

Puncak Gunung Munara

Sampai di puncak kita bisa lihat bendera merah putih nih. Kita bisa hormat dulu lah sebelum berselfie ria. Meski terlihatnya begitu panas tapi sebenarnya tidak begitu namanya juga gunung ya pasti ada sejuknya lah. Perjalanan nya juga melewati hutan bambu, kebun dengan pohon yang tinggi-tinggi jadi jangan takut terkena terik matahari.

Lelah dan letih pasti terbayar saat melihat pemandangan dari ketinggian. Serasa terbayar tuntas.
Dan perjalanan ke gunung Munara saya tidak mengeluarkan biaya sepeser pun karena semua sudah di bayarin teman saya, hihihihi. Lumayan liburan gratis makan pun gratis. Katanya "ini kado ualng tahunmu, maaf kalo jadi capek." Hahaha meski telat tapi gpp lah makasih aja yaa.

Bintang dan Bulan di Sungai Madu

Kenapa selalu bintang yang salah (?) Apa salahnya bintang yang berlari ke sana-kemari, dia hanya ingin menerangi seluruh semesta. Bintang yang ceria bintang yang tertawa keras meloncat-loncat berlari dan berteriak, apa salahnya jika ia hanya ingin menghidupkan suasana hening ini. Kenapa Bumi begitu membenci ke hadiran bintang kenapa malam juga tak merangkulnya. Kenapa ? Bukan kah dulu Bumi begitu mengharapkan malam untuk menghadirkan bintang. Tapi kenapa setelah bintang hadir bertaburan di setiap inci kehidupan Bumi dan malam, mereka malah membencinya. Bintang masih begitu mencintai Bumi dan Malam karena ia belum mengerti arti kata membenci.
Lagi-lagi bintang berulah, ia senang sekali menjahili Bulan. Bulan yang tenang dan damai, ia sedikit tidak suka kebisingan tapi pengecualian jika kebisingan itu di ciptakan oleh bintang ia akan bergabung membuat kebisingan itu. Meski sifat mereka berbeda tetapi mereka saling mencintai, Bintang tidak merasa kesepian karena di acuhkan Bumi dan malam jika Bulan hadir. Namun sayang, Bulan tidak bisa selalu menemani Bintang hannya seminggu dalam sebulan ia di izinkan bersama Bulan sisanya Bulan akan berada dalam dekapan Bumi dan juga Malam.
Seperti biasa, kunjungan Bulan menjadi angin segar untuk Bintang kali ini Bumi dan Malam ikut berkunjung. Mengantar Bulan, mungkin.
Bintang sedang mengumpulkan kayu bakar saat Bulan datang mengagetkan nya membuat kayu bakar di dekapan tangan kecilnya jatuh berantakan.
" Bintang, Bulan datang." Sapa Bulan dengan senyum tak bersalahnya.
" Lihat lah kayu bakarnya jadi berantakan lagi, bantu aku." Oceh Bintang. Raut wajahnnya ia tekuk alis menyatu dan bibirnya mengerucut. Ia sudah lelah mengumpulkan kayu untuk membantu nenek Karimah dan sekarang sudah berantakan.
" Tidak mau, weekk." ejek Bulan sambil menjulurkan lidahnya. Bintang geram ia ambil arang bekas api unggun semalam dan mencoretnya ke wajah Bulan. Bulan berteriak mengejar Bintang yang berlari mencari nenek Karimah tempat berlindungnya.
" Ada apa ini teriak-teriak ?" Tubuh Bintang gemetar di balik punggung nenek Karimah mendengar suara Bumi.
" Kenapa muka mu begitu ?" Tanya Bumi pada Bulan yang baru muncul dari samping rumah nenek Karimah. Wajah Bulan tertunduk takut menceritakan kalau ini adalah perbuatan Bintang, ia tidak mau Bintang di marahi.
" Pasti kamu." Dengan marah Bumi menyertet tangan Bintang dari persembunyiannya begitu ringan tangannya memukul tubuh kecil Bintang yang masih bergetar, air matanya deras menganak sungai. Dia meraung menangis meminta ampun agar Bumi berhenti memukul tubuhnya lagi. Bukan hanya tubuhnya yang sakit hatinya juga sakit ada luka yang tak berdarah di sana lebam membiru dan lama-kelamaan akan membusuk.
" Sudah." Teriak nenek Karimah menyelamatkan Bintang dari amukan Bumi. Bintang berlari ketakutan tubuhnya bergetar, air matanya masih mengalir deras, ingusnya juga masih mengalir meski berkali-kali ia seka. Langkahnya terhenti di bawah pohon dekat sungai belakang rumah nenek Karimah. Bintang duduk memeluk lututnya sendiri, wajahnya merah, matanya merah, hidungnya merah, lengannya pun merah akibat pukulan dari Bumi. Tangisnya mereda saat matanya menatap kosong aliran sungai di depannya. Ia ingat mimpinya tadi malam.
***
Sementara itu selepas Bulan yang lari mengejar Bintang. Nenek Karimah sudah geram melihat sifat anak dan menantunya. Sudah berkali-kali dia menasehati untuk tidak pilih kasih kepada kedua putri.  Sampai puncaknya tiga bulan lalu dengan tega mereka menyuruh Bintang tinggal bersamanya. Waktu itu Bintang terus menangis meminta agar di bolehkan ikut pulang bersama Bumi dan Malam. Bintang meraung meminta maaf, ia berjanji tidak akan nakal lagi ia berjanji tidak akan mengganggu Bulan lagi asal ia boleh ikut pulang. Bintang ingin bertemu Bulan yang akan keluar rumah sakit setelah seminggu di rawat akibat kecelakaan saat bermain bersama Bintang. Tapi lagi-lagi Bumi dan Malam ingin menghapuskan kehadiran Bintang, ingin memisahkan nya dengan Bulan dengan dalil demi keselamatan Bulan. 
" Kenapa kamu pukuli dia? Bintang itu anak yang baik bawalah dia pulang, kasihan." Ucap nenek Karimah pada Bumi dan Malam di hadapannya.
" Dia itu pembuat onar mak, aku gak kuat ngadepin  kelakuannya. Biar lah dia tinggal di sini hitung-hitung buat menemani mamak." Kilah Bumi.
" Iya mak, saya takut nanti Bulan terpengaruh sama kelakuan Bintang." Lagi-lagi Malam enggan membela Bintang.
" Mereka itu masih anak-anak." Ucap nenek Karimah lagi.
" Apa mamak lupa siapa penyebab Bulan tertabrak bulan lalu? Kalau Bulan bersama Bintang dia akan dalam bahaya lagi mak."
***
" Semalam aku bermimpi." Ucap lirih Bulan duduk di samping Bintang yang masih memeluk lututnya.
" Kita naik perahu di atas sungai yang airnya seperti madu. Di pinggir sungai banyak pohon apel yang buahnya besar dan merah, kita mencicipi madu yang mengalir di sungai dan memakan apel merah itu banyak sekali." Bulan menjelaskan isi dari mimpinya.
" Aku jugabermimpi seperti itu." Ucap Bintang.

Jumat, 29 Juli 2016

Tak ku Temukan Ragu di Matamu

" Malam ini aku ingin tidur dengan ibu." Ucapku pada kedua orangtuaku yang sedang mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah seharian ini  di sofa ruang tengah. Pukul sepuluh malam, sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu saudara-saudaraku dan beberapa tetangga meninggalkan rumah ini setelah menyelesaikan tugas mereka masing-masing secara sistematis.
" Kenapa ?" Tanya Ayah yang mengisyaratkan aku untuk duduk di antara mereka. Lampu ruangan ini sudah di matikan membuat pencahayaannya hanya bergantung pada televisi yang masih menyala tanpa ada satu orang pun yang berniat melihatnya. Aku berjalan pelan dan duduk di antara kedua orang yang paling aku sayangi, nyaman adalah kata yang paling tepat untuk apa yang ku rasakan saai ini.
" Hanya ingin saja, Ayah." Jawabku sambil menyenderkan kepalaku pada bahu Ibu. Kali ini Ayah harus mengalah membiarkan ku tidur dengan Ibu.
"Sebaiknya kalian tidur sekarang." Tidak perlu menunggu perintah untuk kedua kalinya, aku dan ibu bergegas ke kamarku karena memang tubuh kami sudah lelah seharian ini. Seperti biasa saat ayah bekerja keluar kota, ibu akan tidur sambil memelukku di kamarku yaa setidaknya sampai malam ini, kamar ini masih menjadi miliku.
" Bu..." Ucapku lirih. Aku tau ibu juga sama lelahnya denganku mungkin lebih, tapi aku belum bisa memejamkan mata untuk tidur. Aku harap ibu mau menemaniku sejenak setidaknya sampai aku benar-benar tenang.
" Ada apa, sayang ?"
" Aku takut, bu -
- aku takut untuk besok." Lanjutku yang sempat terputus, sebenarnya aku sendiri tidak tau apa yang mau aku bicarakan.
" Apa yang kamu takutkan ?" Belaian lembut pada rambutku yang sengaja ku urai saat tidur membuatku merasakan kenyamanan tersendiri.
" Aku takut setelah besok, aku tidak bisa tidur seperti ini lagi. Tidak bisa tidur dengan aku di pelukanmu seperti ini, Bu." Aku membalas pelukan ibu lebih erat seakan tidak ada lagi kesempatan untuk merasakannya.
" Nak, setelah ini kamu tidak perlu pelukan ibu lagi saat tidur."
" Tapi aku takut, bu ?"
" Tidak ada yang perlu ditakutkan, percaya pada ibu." Masih dengan membelai rambutku ibu menyakinkanku bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku percaya pada ibu karena mungkin ibu juga pernah merasakan apa yang aku rasakan saat ini, tapi entah mengapa aku masih sedikit ragu.
" Aku takut dia akan menyesal, bu. Aku tidak mau gagal, bu. Aku takut setelah ini dia akan berfikir ingin meninggalkanku setelah mendapatkanku. Aku tidak mau, bahkan jika hanya sepintas terlintas dalam fikirannya." Sebenarnya masih banyak lagi yang membuatku takut dan berakhir menjadi keraguan. Aku sedang berada dalam zona abu-abu yang ku buat sendiri. Bisakah ibu merasakan semua ragu dan takutku, bu.
" Kamu fikir dia memilihmu tanpa mempertimbangkan semuanya. Ibu yakin dia laki-laki yang baik, nak. Jika kamu tidak mau dia berfikir akan meninggalkanmu, buatlah dia berfikir bahwa dia beruntung memilikimu dengan begitu dia tidak akan meninggalkanmu."
Mendengar nasihat ibu membuatku sedikit lebih tenang. Peluk dan belaiannya membuatku nyaman dalam dekapannya, tiba-tiba aku merasakan kantuk yang tidak bisa ku lawan untuk tetap terjaga. Biarkan untuk malam ini saja aku ingin merasakan peluk hangatmu, bu sama seperti dulu saat aku dalam rahimmu.
***
Sepertinya malam ini tiga kali lebih cepat dari biasanya. Setelah sholat subuh berjama'ah dengan ayah dan ibu, kami memutuskan untuk memeriksa kembali persiapan yang sudah dari seminggu lalu di siapkan. Aku memang meminta agar tidak meramaikan acara pernikahanku, hanya ijab qobul tanpa ada acara hiburan. Bahkan tamu undangan hanya dari saudara, teman dekat dan tetangga saja, jadi tidak ada tenda besar yang menutup jalan hanya sampai halaman depan saja sudah cukup.
Beberapa tetangga dan saudaraku sudah ada yang datang untuk membantu persiapan pernikahanku. Aku sendiri hanya duduk di depan meja rias di kamarku yang di sulap menjadi ruang make up pengantin. Ada ibu, mbak Shella istri dari kakak laki-lakiku dan Juang keponakanku yang berusia lima tahun yang menemaniku berhias. Aku meminta penata rias agar tidak membuat dandanan ku mencolok cukup dengan lebih mempertegas bagian mata saja. Karena dia pernah bilang bahwa mataku sangat indah, aku ingin menjadikannya lebih indah.
Acara mulai pukul delapan pagi, masih ada waktu sekitar satu jam dan aku sudah siap dengan gaun soft pink ku. Gaun hasil karya ku sendiri dan Ayah sebagai penjahit profesionalnya. Aku cukup puas dengan hasil gaunku, semoga saja dia juga puas dengan baju pengantin yang ku buat.
" Aku ingin bicara dengan ayah, bu." Ibu yang juga sudah siap dengan kebayanya melangkah keluar untuk memanggil ayah.
" Ayah..." Ucapku saat melihat pria paruh baya itu masuk ruangan. Pria pertama yang aku cintai duduk di sampingku menggenggam tanganku erat. Merasa mengerti bahwa kami memerlukan waktu untuk bicara berdua, semua orang yang ada di dalam kamarku keluar meninggalkan kami berdua.
" Apa yang harus aku lakukan, yah ? Rasanya aku belum siap."
" Tidak ada yang tau seseorang sudah siap atau belum sebelum mereka menjalaninya, sayang. Apapun yang terjadi kamu tetap jadi putri satu-satunya ayah." Ada genangn air di pelupuk matanya saat ia mengatakan itu, tapi ia juga tersenyum membuat kumisnya terangkat sedikit.
" Apa yang harus aku lakukan ?" Ku ulangi pertanyaanku.
" Jadilah istri seperti ibumu, dan jadilah ibu seperti ibumu. Ayah tidak bisa memberi contoh selain ibumu, nak."
" Ayah membuatku ingin menikah dengan ayah saja." Ucapku memeluknya erat. Aku tidak boleh menangis di acara bahagia ini.
" Cie yang mau nikah cie." Candaan dari bang Dani yang tiba-tiba masuk ke kamarku.
" Tidak mau mengucapkan sesuatu untuk adikmu yang sebentar lagi jadi istri orang hem ?" Sindirku.
" Gak nyangka ternyata adek ku udah gede. " Ucapnya sambil melangkah masuk lebih dalam lagi.
" Kalian ngobrol aja dulu ayah mau ke depan." 
" Buatlah suamimu beruntung memilikimu, dek. Dengan begitu dia tidak akan menyakiti apalagi meninggalkanmu" Ucap bang Dani serius.
" Bang, apa abang pernah berfikir ingin meninggalkan mbak Shella ?"
" Abang tidak ingat. Meskipun pernah itu hanya emosi sesaat, dek. Tidak mudah menyatukan dua kepribadian yang berbeda untuk tetap satu jalan tapi itulah tantangan yang sebenarnya."
" Abang membuatku takut." Sedikit merinding mendengar ucapan bang Dani tapi sepertinya itu bukan masalah besar melihat ekspresinya.
" Hahahaha sudah sudah acara mau mulai. Persiapkan dirimu !" Ucapnya lagi sambil membelai kepalaku lalu berlalu menginggalkan kamarku. Ku lihat jam dinding sudah menunjukan pukul delapan kurang lima menit. Seharusnya rombongan dia sudah datang. Ini membuat perutku mulas, kebiasaan saat aku sedang tegang aku masih takut, aku masih ragu. Aku tidak tau kemana keyakinan sebulan lalu saat menerima lamarannya, rasanya aku belum siap untuk ini.
Ibu menuntunku ke ruang tamu yang sudah penuh dengan tamu undangan. Ku lihat para tamu duduk di kursi yang sudah di tata mengelilingi satu meja di tengah ruangan, tiga kursi sudah di duduki tiga laki-laki tinggal satu kursi lagi yang masih kosong. Aku melangkah pelan dan duduk di kursi yang tersisa dan Ibu duduk di dekat ayah agar bisa melihatku katanya. Di depan ku sudah ada bapak penghulu dan Ayah di sampingnya sedangankan di sebelah kiriku ada laki-laki yang akan menjadi suamiku. Ku beranikan melihatnya sebentar, ingin melihat adakah keraguan di matanya.
Dengan balutan tuksedo putih sedikit aksen pink soft membuat dia terlihat em tampan. Dia  juga menatapku dan tersenyum menenangkan, tak ku lihat ragu di matanya. Tidak biasanya dia bisa tersenyum seperti itu  seketika keraguanku pun menguap begitu saja. Senyumnya menyelamatkanku dari keraguanku sendiri. Pria ini lah yang aku inginkan untuk menjadi imamku. Pria yang pertama kali ku temui di sebuah program Tafidz Qur'an di salah satu pondok pesantren di Jawa Tengah. Selama karantina kurang lebih sekitar satu tahun untuk pemula sepertiku, dia lah yang menjadi tutor ku dan beberapa peserta lainnya. Dia selalu menerangkan beberapa ayat yang ada kaitannya dalam kehidupan sehari-hari agar kita bisa menghafalnya dengan mudah. Suatu hari dia memberiku sebuah rekaman suara bacaan beberapa potong ayat Al-Qur'an metode mendengarkan akan mempermudah menghafal, katanya. Setiap seminggu sekali dia akan memberiku rekaman ayat baru yang telah ku ketahui bahwa dia lah yang membuat rekaman itu sendiri. Suaranya yang merdu, jelas dengan intonasi yang lambat membuatku mudah untuk mengikuti sambil menghafalnya. Seperti saat aku menghafal lagu-lagu barat atau jepang aku juga lebih mudah menghafal Al-Qur'an dengan mendengarkan. Sampai akhirnya aku menjadi seorang Hafidzah.
Masih ingat jelas saat aku akan pulang kembali ke rumah dia juga memberiku rekaman. Jangan di dengarkan sebelum sampai di rumah, begitu katanya. Dua bulan lalu aku mendengarkan isi rekaman itu dan sejak saat itu setiap hari ku habiskan untuk menunggu. Rekaman itu berupa potongan surah Ar- Ruum ayat 21 dan sebuah pesan untuk  menunggu.
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Ruum : 21)
" Alya, awalnya aku tidak begitu menyukaimu yang bahkan membaca Al-Qur'an pun kamu tidak bisa, tapi aku senang dengan semangatmu untuk menghafal Al-Qur'an. Meski kemampuanmu membaca Al-Qur'an kuang dari pada peserta lainnya yang bahkan usianya jauh di bawahmu tapi kamu tetap berusaha tidak peduli aku yang dulu selalu menyindir dan meremehkanmu. Maafkan aku untuk itu."
" Alya, aku hanya ingin kamu tau entah kenapa aku selalu merasa nyaman jika bersamamu meski selalu ada perdebatan diantar kita, kalau boleh jujur aku memang sengaja membuatmu jengkel, senang rasanya melihat wajah cemberutmu. Maafkan aku juga untuk ini."
" Alya, maukah kamu melengkapi iman ku dan menikah denganku? Aku akan berkunjung ke rumah orang tua untuk menanyakannya langsung padamu. Aku harap kamu mau menungguku."
" Alya, jaga hafalan Qur'an mu dan perbaiki hafalanmu surah Asy Syu'ara, hafalanmu masih buruk di surah itu. Dan satu lagi hapus rekaman ini setelah kamu mendengarkannya, aku tidak mau kamu menggunakan ini untuk mengejek ku. Riski Subuh. Wassalamu'alaikum."
Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum saat mendengarkannya. Aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia berhasil membuatku gila selama satu bulan menunggu. Kegilaan ku mereda atau malah menggila saat dia benar-benar datang ke rumah bersama Bapak Kyai beserta istrinya, mas Frizqi putra pertama dari pak Kyai dan Aisyah putri bungsunya sekaligus temanku di pondok dan juga Bilal adik laki-lakinya yang seumuran denganku. Dia meminta Pak Kyai untuk melamarku menggantikan kedua orangtuanya yang telah lama meninggal. Jantungku hampir copot, saat ku kira Pak Kyai mau melamarku untuk mas Frizqi, dia benar-benar jago membuat kejutan.
Tapi entah kenapa setiap melihatnya aku selalu yakin bahwa dia lah takdir untuk ku, menghapuskan semua keraguanku melenyapkan ketakutanku. Senyumannya begitu menenangkanku. Semoga dengan pernikahan ini semakin mendekatkanku pada Allah dan menyempurnakan Agamaku. 
Aku kembali menghadap kedepan, mencoba menetralkan detak jantungku saat melihat dia berjabat tangan dengan Ayah. Ayah sendiri yang menikahkanku di pandu dengan bapak pehulu. Rasa lega yang begitu besar ku rasakan saat Ijab Qobul selesai ia ucapkan dengan satu tarikan nafas tanpa ada kesalahan. Dan sekarang aku sudah sah menjadi seorang istri dari laki-laki yang ku cintai karna Allah, Riski Subuh.

Senin, 13 Juni 2016

Skill of Introvert

Menjadi seorang yang memiliki kepribadian introvert tentu bukan pilihanku. Di dunia ini tidak banyak yang bisa kau lakukan jika kau hanya diam larut dalam duniamu sendiri tanpa bisa menyampaikan apa yang mau kau sampaikan. Karena pada dasarnya mereka menganggap introvert adalah makhluk yang tidak bisa bersosialisai, sehingga introvert hanya akan menjadi anak bawang dalam suatu organisasi atau kelompok. Mereka hanya tertuju pada orang yang aktif dalam organisasi dan menganggap orang yang pasif seperti introvert tidak layak menjadi pemimpin. Tentu saja mereka benar, jika yang mereka maksud orang yang layak menjadi pemimpin adalah orang yang banyak bicara di depan umum. Bagaimana mungkin aku memilih menjadi seorang introvert di dunia yang seperti itu.

Aku hanya seorang introvert yang berpura-pura menjadi orang lain. Aku tidak bisa mematahkan omong kosong mereka, tapi aku bisa membuktikan bahwa opini mereka selama ini tentang introvert itu salah. Karena orang yang diam bukan berarti tidak berfikir dan orang yang banyak bicara belum tentu tau segalanya.


" Bagaimana Yas ?" Aku suka suasana ruang bimbingan konseling yang sunyi ini, tapi aku benci situasi di dalamnya. Di mana aku harus duduk berhadapan dengan dua orang guru. Yang satu Ibu Susy guru bimbingan konseling, aku kenal dia aku sering mengobrol dengannya di perpustakaan saat jam istirahat. Dia salah satu guru yang di takuti tapi bagiku dia adalah sosok penyayang dan menyabar yang tegas sangat cocok dengan bidangnya. Mungkin mereka salah beranggapan bahwa tegas adalah kata lain dari galak. Dan yang satu lagi Pak Hery wali kelasku. Dia adalah sosok yang amat peduli pada siswanya. Mereka ah tidak, kami sedang membahas tentang beasiswa yang minggu lalu aku ajukan. Menurut syarat pengajuan beasiswa aku jelas berhak menerimanya tapi hanya satu yang menjadi masalah. Aku merupakan siswa yang kurang mampu, aku bahkan harus bekerja paruh waktu di percetakan untuk membantu kedua orangtuaku. Aku juga jadi juara satu di kelas tentu saja nilai rata-rataku di atas angka delapan. Dua syarat sudah ku kantongi, tinggal satu syarat lagi. Syarat yang menurutku tidak masuk akal. Bagaimana bisa aktif dalam organisasi siswa menjadi salah satu syarat mutlak untuk dapat beasiswa. Ini bukan tentangku yang seorang introvert meski itu jadi salah satu alasanku, tapi tentang waktu yang terbuang dalam organisasi. Jika mendapat beasiswa berarti harus berhenti bekarja bukan kah itu sama saja (?) Jika aku mampu aku tidak perlu bekerja paruh waktu dan aku juga tidak akan butuh beasiswa itu.


" Apa tidak bisa syarat itu di kecualikan, pak ?"


" Tidak bisa Yas, semua yang mengajukan beasiswa adalah siswa yang aktif dalam organisasi. Siswa yang aktif lebih di prioritaskan." Tentu saja aku tau itu, tapi mereka siswa yang tidak perlu bekerja paruh waktu.


" Ikut saja satu kegiatan yang tidak banyak menyita waktu.Selama ini kamu juga tidak ikut ekstrakulikuler, apa kamu tau berapa poin untuk siswa yang tidak ikut ekskul apa perlu ibu tulis di buku poinmu sekarang ?" Ah..Ibu Susy tau betul caranya membuatku berkata 'iya' selama ini dia yang paling mengerti, aku memang siswa pengecualian yang boleh tidak ikut ekskul tanpa takut dapat poin tapi itu juga tidak geratis sebagai gantinya setelah makan siang aku harus membantunya menjaga perputakaan, tentu saja aku menyanggupinya perpustakaan adalah tempat yang sempurna. 


"Baiklah aku akan ikut ekstrakulikuler taekondow." Walau sedikit ragu, tapi aku tau ini adalah satu-satunya kegiatan yang tidak banyak  menyita waktu ku bekarja. Latihannya hanya satu sampai dua jam sehari. Meski akan memakan banyak tenaga tapi aku masih bisa bekerja setelahnya. Jika ini satu-satunya jalan agar aku bisa dapat beasiswa, aku akan lakukan.


***

Tidak banyak yang mengikuti ekstrakulikuler ini, hanya ada enam siswa baru termaksud aku dan tiga orang senior. Taekondow memang tidak begitu popular seperti ekskul lainnya seperti PMR dan Pramuka. Meski tidak begitu banyak tapi tetap saja membuatku sedikit tidak nyaman untung saja kegiatannya berkaitan gerak tubuh bukan gerak mulut. Senior yang merangkap menjadi pelatih memberi intruksi untuk menjaga jarak. Kami akan melakukan tendangan, tentu saja. Tendang, loncat tandang, putar, tendang, tangkis, pukul, tendang. Terus seperti itu gerakan dasar dilakukan dari ujung ruangan ke ujung yang lain. Melelahkan memang tapi menyenangkan juga. Meski awalnya terpaksa lama-lama aku jadi terbiasa dengan ini. Mereka menerimaku dengan baik aku tidak hanya jadi anak bawang di sini tidak mendiskriminasikan walau tidak waktu sparing. Lima perempuan empat laki-laki mau tidak mau aku yang harus sparing dengan perempuan karena postur dan berat tubuhku yang paling sesuai. Tapi aku juga tidak bisa menanggap remeh kemampuan Devy lawan sparingku, dia memiliki teknik dan kekuatan di atas rata-rata perempuan biasanya.

" Latihannya cukup, semuanya kumpul."


" Teman-teman bagaimana kalo ekskul taekondow juga mengadakan seragam semacam kaos identitas seperti ekskul yang lainnya.?" Salah satu senior bertanya mengenai kaos identitas. Ini juga yang membuatku enggan mengikuti kegiatan di sekolah, terlalu membuang-buang uang.


" Tapi minimal pemesanan kaos itu kan satu lusin, sedangkan kita cuma sembilan orang."


" Iya juga sih, kalo kita buat sendiri bagaimana ?"


"Maksudnya sablon ? lalu desainnya gimana ?"


" Ah...aku bisa buat desainnya dan nanti kita bisa mencetaknya di tempatku bekerja." Tiba-tiba semuanya diam. Mungkin terkejut dengan suara yang keluar dari mulutku oh ayolah aku juga masih bisa bicara.


"Waw...iya aku tau Ilyas kan kerja di pecetakan dan kamu juga bisa desain grafis kan ? Aku udah lihat karya typography dan doodle art-nya juga keren-keren." 


" Baiklah kalo begitu sudah di putuskan. Ilyas tolong buatkan desain yang paling bagus yaa sebagai gantinya kamu bebas biaya untuk pembuatan kaosnya."


***


Entah kenapa aku jadi senang hati membantu mereka membuat desain kaosnya. Rasanya baru pertama kalinya ada orang yang mempercayakan sesuatu padaku. Di tempatku bekerja merupakan tempat yang paling sempurna, aku bisa menyendiri menepi di sudut ruang bersama meja lengkap dengan komputer, buku sketsa dan beragam jenis dan ukuran pen. Aku sungguh beruntung di perbolehkan kerja paruh waktu di sini. Mas Fajar pemilik percetakan ini dengan senang hati menerimaku bekerja dengannya setelah dia tau aku adalah memilik aku Instragram @YasArt. Dia bilang kapan lagi punya pekerja yang bisa desain dengan bayaran yang murah. Aku tidak ambil pusing dengan alasan itu, aku tau dia hanya bercanda karena memang seperti itu lah dia. Aku bekarja di sini juga karena aku memang membutuhkan pekerjaan, lagi pula ini cocok dengan keahlianku dan aku juga masih bisa menerima pesanan untuk typography dan doodle lewat akun media sosialku.


" Yas udah jam sembilan kamu gak pulang ?"


" Belum mas, aku gak enak sering telat." Karena harus ikut ekstrakulikuler aku jadi sering telat masuk kerja, sebenarnya Mas Fajar sendiri juga tidak keberatan yaa mana mungkin dia mau kehilangan desainer grafis 'murah' nya. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak Mas Fajar sudah begitu baik padaku.


" Hahahha...bagus lah kalo merasa begitu."


" Ooo iya Yas, 'Snowgirl' lagi ngadain lomba grafis loh. Kamu ikutan aja typograpy dan doodle juga diperbolehkan."


" Hadiahnya apa ?"


" Hhahaha udah aku tebak pertanyaanmu bakalan kaya gitu. Juara pertama akan dapat beasiswa kuliah jurusan desain sampai lulus kan lumayan Yas kamu bisa sekolah gratis lagi Hahhaha." Apanya coba yang lucu, wajar kan kalo orang tanya hadiah dalam lomba, kalo hadiahnya gak menarik ngapain harus ikut. Tapi Beasiswa untuk kuliah desain sampai lulus mah bukan lumayan lagi kali mas itu luar biasa. Walau kemungkinan menangnya kecil tapi tetap harus coba dulu kan toh tidak ada ruginya.


***


Tema lomba yang di adakan 'Snowgirl' adalah tentang 'Negri tanpa Garuda' sedikit sulit untuk menuangkan temanya dalam sebuah grafis. Aku mencoba menuangkan tema dengan ide-ide yang ada di kepalaku. Typography dengan sedikit doodle art mungkin akan mempertegas temanya, itu yang aku pikirkan. Peserta lomba tidak sampai 150 orang bisa dibilang sedikit jika mengingat hadiah yang di berikan mungkin karena tidak banyak yang tau tentang lomba ini. Jika di lihat dari semua pesertanya kemungkinan aku menang akan lebih besar.


Pemenang lomba akan di umumkan lewat website resmi milik 'Snowgirl' dua minggu setelah perlombaan. Dan hari ini adalah hari pengumumannya, Mas Fajar langsung membuka website untuk melihat apakah aku menang atau tidak. Sebenarnya aku sudah melihatnya tadi siang, tapi melihat Mas Fajar begitu antusias dan penasaran aku pura-pura tidak tau. Melihat ekspresi Mas Fajar yang kaget sekaligus bahagia membuatku ikut tersenyum senang. Pengumuman pemenang lomba grafis dengan tema ' Negri Tanpa Garuda' juara pertamanya adalah 'Muhammad Ilyas Saputra' di tulis dengan huruf Capital Bold. Aku juga tidak menyangka akan menang, dengan begini sebelum aku lulus SMA uang kuliahku sudah terjamin jadi aku cukup fokus membantu orangtuaku untuk sekolah Alya adik bungsu ku saja.


Aku seorang introvert dari kecil belum pernah merasa seberhasil ini meski belum mencapai sukses. Dengan begini aku bisa mematahkan omong kosong mereka yang memandang sebelah mata introvert. Kami para introvert memang lebih nyaman menyendiri tapi bukan berarti kami tidak bisa bersosialisasi. Kami para introvert memang lebih suka diam tapi bukan berati kami tidak berfikir, sebaliknya kami akan berfikir terlebih dahulu sebelum berucap. Kami para introvert juga bisa berguna dalam suatu kelompok jika di dalamnya tidak ada kata diskriminasi. Kami para introvert memang tidak pandai berbicara di depan umum tapi bukan berarti kami tidak layak menjadi pemimpin. Sebagai pemimpin kita di tuntut untuk bertindak bukan berbicara banyak janji dan alasan mengingkari. Aku adalah seorang introvert yang nyaman menyendiri yang hobi menulis terutama grafis dan sedikit bela diri. Tendang, putar, tendang. Dan K.O

Jumat, 10 Juni 2016

Sapa

Sepeda putih itu setiap hari melewati depan rumahku. Yang mengendarai adalah bidadari beransel. Rok panjang dan lebarnya melambai-lambai di setiap kayuhan. Satu dua satu dua kayuhannya berhenti jalan yang sedikit menurun membantu roda-roda itu melaju. Duhai, kain apa yang kau gunakan menutupi mahkotamu itu begitu halus berkibar tertiup angin sejuk setiap pagi dan sore. Ah...aku membayangkannya seperti tirai di balik jendela kaca bening ketika jendela itu terbuka hembusan angin menyapa. Tapi tentu saja kau tidak sama dengan jendela. Perumpamaanku buruk sekali. Tapi bolehkah aku jadi orang yang menyambut angin di balik jendela itu ? Sudah lupakan saja.
" Monggo mbah." 
Selalu seperti itu. Sedikit mengurangi kecepatan lajunya kau selalu menyapa setiap orang tua yang duduk di beranda rumah mereka. Menyapa dengan sedikit meninggikan suaramu aku tau bukan maksudmu berteriak tapi karena jarak halaman rumah dengan jalan itu dan semua juga tau kemampuan pendengaran orang tua mulai berkurang terutama embahku ini. Ah harusnya kau tidak perlu berteriak untuk menyapanya cukup dengan angukan sopan semua juga tau apa maksudmu. Tidak masalah jika kau berjalan kaki seperti dulu sebelum kau punya sepeda putih itu, dengan begitu embahku bisa menyuruhmu untuk mampir sebentar dan aku jadi punya kesempatan untuk mimbrung.
" Ngati-ngati nduk."
Satu doa lagi yang mengiringimu pagi ini. Aku penasaran sudah berapa banyak doa yang kau kantongi sepanjang perjalananmu. Selalu seperti itu. Tersenyum manis sekali saat kau mendapatkan doa-doa itu. Apa jika embahku tidak menjawab sapaan mu kau akan berhenti barang sejenak. Jika iya aku akan memintanya untuk menunda mendoakanmu sampai kau memintanya sendiri. Barang kali aku bisa membuatkanmu teh hangat yang katanya adalah teh ternikmat. Itu kata embahku.
" Mbah aku juga berangkat. Wassalamu'allayikum." Mau tidak mau aku harus bergegas juga menyusulmu yang telah dulu.
" Wa'alaikumssalam ngati-ngati le." Ah ternyata aku masih dapat jatah doanya.
Pagi-pagi aku sudah dibuatnya berkeringat setelah tadi membuatku melayang tertiup angin sejukmu. Perasaan tidak terlampau lama aku bergegas darinya, tapi dia sudah jauh di depan. Apa karena jalur persawahan ini sudah tidak ada perumah lagi sampai kau tidak mengurangi lajumu untuk menyapa dan meminta doa. Kau ini benar-benar. Kau kan juga bisa menyapa petani di tengah sawah itu. Cukup berteriak lebih keras dari sebelumnya aku yakin petani itu akan mendengarnya.
" Kau...kau cepat sekali ?"
" Memang kenapa ?"
" Tidak apa."
Anggun sekali pemandangan di depanku. Matahari di timur merona menjadi bingkai yang tepat. Serasi. Meski harus ku akui matahari pagi ini kalah anggunnya denganmu. 
" Kenapa kau melakukan itu ?"
" Melakukan apa ?"
" Menyapa setiap orang yang kau temui."
" Kamu berlebihan, aku tidak melakukannya ke semua orang."
" Tunggu dulu, apa mbah kamu tidak menyukai ini ?"
" Hahahaha lebih dari sekedar tidak menyukai."
" Benarkah ? Kenapa ?"
" Karena dia mau kau menyapanya setiap pagi di dalam rumah tidak berteriak dari pinggir jalan."
" Apa maksudnya ?"
" Ah tidak ada, lain kali aku yang akan menyapa orang tuamu."
Ya dengan angin yang kau bawa akan mengantarkanku di depan rumah orang tuamu. Menyapa seluruh kerabatmu dan menanyakan apa kau mau ku bonceng dengan sepedaku atau sepedamu terserah mana yang kau pilih.