Minggu, 22 Mei 2016

Sedikit lagi... Sedikit lagi

Pernah dengar jika ada seorang wanita yang sedang jatuh cinta, dia cenderung menyembunyikan perasaannya. Tidak akan dia biarkan siapa pun tau perasaan nya. Apa lagi untuk menyampaikan perasaannya pada orang yang di sukai. Takut. Mungkin memang benar ia takut, takut jika perasaan nya akan menghancurkan semuanya. Tapi percaya lah si pengecut ini memiliki cinta yang lebih besar dari pada rasa takutnya.
Dia berjalan menyusuri jalan berbatu di taman pinggir kota, langkahnya pelan sedikit ragu. Gadis itu berjalan sedikit menunduk mengaitkan kedua tangannya,dan kedua ibu jarinya saling berputar mengelilingi ibu jari masing-masing dengan gelisa. Dia ada janji di sini, di taman ini, sore ini. Masih ada sekitar tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan. Sengaja datang lebih awal seperti biasanya karena kali ini dia sendiri yang membuat janji untuk bertemu di taman ini. Tapi bukan kah tiga puluh menit adalah waktu yang lama untuk menunggu. Tidak...tidak kali ini tiga puluh menit masih belum cukup untuknya. Terlalu cepat untuk sekarang.
Langkahnya terhenti tepat tiga meter dari bangku taman yang menjadi tujuannya. Bangku taman yang masih sama, yang akan menjadi tempat pertemuan yang ke sekian kalinya. Dia mengeluarkan Smartphone nya dan memasang handsfree di kedua telinganya. Memutar lagu yang bisa memantabkan hatinya. Lagu yang menjadi shountrack salah satu film anime. Lagu yang baru ia download seminggu lalu.
***
Soshite kizuita toki ni kangaeteru no wa kimi no koto de
Aku memikirkanmu ketika aku melihatnya
sore ga sugoku hazukashikattari sugoku iyadattari omoete
Aku merasa sangat malu dan benar-benar benci perasaan itu
sore wa boku ga kimochi o tsutaeru koto ga kowai kara de
Itu karena aku takut untuk menyampaikan perasaanku
Aku selalu memikirkanmu. Aku tau aku sudah menyukaimu sejak saat aku mengenalmu. Tapi aku takut menyampaikan perasaanku. Memikirkan kau akan menjauhiku saat kau mengetahinya membuatku menjadi seorang pengecut.
atama de osae tsukete mo kokoro wa dousuru koto mo dekinakute
Meskipun aku menekannya di kepala, aku tak bisa mencegah hatiku
autabi ni kimi ni satorarenai youni
Aku tak akan membiarkanmu menyadarinya setiap kali kita bertemu
itsumo to kawarinai youni hanashiteru tsumori de
Jadi sama seperti biasa bagaimana aku pergi berbicara denganmu
yoyuu mo nakute kurushikunatta boku wa kimi ni uso o tsuiteshimau.....dakedo
Berpura-pura tenang menjadi menyakitkan, berbohong padamu aku akan menyingkirkannya… tetapi
Sudah ku coba menghilangkan rasa itu, semakin mencobanya semakin besar rasa ku padamu. Dan yang ku lakukan selama ini hanya menyembunyikan perasaanku berpura-pura tidak terjadi apa-apa padaku hingga aku tetap bisa bersamamu. Menjadikan kebersamaan kita begitu menyenangkan sekaligus menyakitkan. Tetapi...
mou sukoshi mou sukoshi kimi no kokoro ni chikazuitara
Sedikit lagi… Sedikit lagi… Jika aku bisa mendekati hatimu
mou sukoshi mou sukoshi ima kono toki ga kienai youni
Sedikit lagi… Sedikit lagi… Sehingga saat ini tak akan hilang
kebersamaan kita juga membawaku sedikit lebih mendekati hatimu. Kebersamaan kita yang membuat ku yakin hanya aku yang mengerti hatimu dan begitu pun sebaliknya. Kebersamaan kita, ku harap tidak akan hilang hanya karena rasa ku.
douka kamisama boku ni yuuki o kudasai
Aku mohon Tuhan, beri aku keberanian
Klik. Gadis itu menghentikan lagunya. Masih berada pada posisi yang sama, ia memejamkan matanya, mendekap smartphone di dadanya mengumpulakan keberanian. Ia akan mencoba menyampaikan perasaannya.
" Raka..." Ucapnya lirih masih dengan mata yang terpejam.
" ...aku menyukaimu." Ucapnya mantab membuka matanya penuh dengan keterkejutan. Dia tidak sendiri lagi saat ini. Seseorang berdiri tepat di depannya.
" Ra...Raka." Semburat merah menjalar mewaranai kedua pipi gadis itu. Sosok yang di tunggu berdiri tepat di depannya.
" Lagu apa yang sedang kau dengarkan ?"

Jumat, 20 Mei 2016

Aku dan Aku yang lain

" Rasanya aku ingin menangis dan membenci semua." Meski aku tau, aku bisa dengan mudah melakukannya tapi kali ini aku ingin mendengar pendapat pada diriku yang lain.
" Siapa ?" Cih. Dia pura-pura tidak tau yang benar saja dia adalah aku dan aku adalah sebagian darinya.
" Aku tau kau mengetahuinya. Aku punya begitu banyak alasan untuk menangis dan membenci." Harusnya dia memang tau jawabannya tanpa harus bertanya.
" Apa perlu aku ingatkan lagi, bukan hanya kau yang pernah mengalami hal sulit dan menyedihkan ada milyaran manusia yang kisahnya lebih menyedihkan darimu." Lagi-lagi itu, aku sudah khatam itu.
" Aku tau itu. Aku sudah memikirkan itu ribuan kali dan setiap aku memikirkannya membuat mulutku bungkam, takut ditertawakan karena mungkin saja kisahku tidak lebih menyedihkan dari kisahnya."
" Hahaha bukan kah itu karena kau juga begitu pada mereka yang berbagi kisah denganmu. Menertawakan seolah kisahmu lah yang paling menyedihkan." Sial dia memang benar. Tapi memang begitu adanya mereka selalu merengek akan satu hal dan tidak memikirkan banyak hal. Sudut pandang misalnya, mereka hanya melihat dari sudut pandangnya sendiri merasakan ke sedihannya sendiri tanpa memikirkan pihak lain yang terlibat. Ironi sekali.
" Meski begitu harusnya kau tidak boleh menghakimi seseorang karena rasa sedih mereka bukan ? Setiap orang berbeda dalam menerima sebuah rasa." Dia terus saja menceramahiku.
" Kau benar, tapi aku tetap tidak bisa membagi kisah ku itu akan lebih membebani mereka. Tapi aku juga tidak tahan jika harus terus bungkam kau tau orang yang diam cenderung memendam benci."
" Haah...itu karena kau belum menemukan orang yang tepat untuk berbagi." Ucapnya sambil menghela nafas.
" Lalu bolehkah aku menangis dan membenci sampai ada orang yang mengatakan 'Semua akan baik-baik saja, aku akan mendengarkanmu.' itu datang ?"
" Menangislah tapi tidak dengan membenci." Jawabnya dan lalu ia menghilang.
" Haah...harusnya dia tau kalau aku menangis rasa benci itu akan muncul." Aku hanya bisa menghela nafas berat.
" Sudah ku putuskan aku tidak akan menangis sampai ada orang yang akan menjadi tempat pecahnya tangisku." 

Jumat, 06 Mei 2016

Dia tetap Bunga

Kadang ada sesuatu yang tampak indah bila di lihat dari jauh, tapi ada pula yang lebih indah bila kita melihatnya dari dekat.