Kenapa selalu bintang yang salah (?) Apa salahnya bintang yang berlari ke sana-kemari, dia hanya ingin menerangi seluruh semesta. Bintang yang ceria bintang yang tertawa keras meloncat-loncat berlari dan berteriak, apa salahnya jika ia hanya ingin menghidupkan suasana hening ini. Kenapa Bumi begitu membenci ke hadiran bintang kenapa malam juga tak merangkulnya. Kenapa ? Bukan kah dulu Bumi begitu mengharapkan malam untuk menghadirkan bintang. Tapi kenapa setelah bintang hadir bertaburan di setiap inci kehidupan Bumi dan malam, mereka malah membencinya. Bintang masih begitu mencintai Bumi dan Malam karena ia belum mengerti arti kata membenci.
Lagi-lagi bintang berulah, ia senang sekali menjahili Bulan. Bulan yang tenang dan damai, ia sedikit tidak suka kebisingan tapi pengecualian jika kebisingan itu di ciptakan oleh bintang ia akan bergabung membuat kebisingan itu. Meski sifat mereka berbeda tetapi mereka saling mencintai, Bintang tidak merasa kesepian karena di acuhkan Bumi dan malam jika Bulan hadir. Namun sayang, Bulan tidak bisa selalu menemani Bintang hannya seminggu dalam sebulan ia di izinkan bersama Bulan sisanya Bulan akan berada dalam dekapan Bumi dan juga Malam.
Seperti biasa, kunjungan Bulan menjadi angin segar untuk Bintang kali ini Bumi dan Malam ikut berkunjung. Mengantar Bulan, mungkin.
Bintang sedang mengumpulkan kayu bakar saat Bulan datang mengagetkan nya membuat kayu bakar di dekapan tangan kecilnya jatuh berantakan.
" Bintang, Bulan datang." Sapa Bulan dengan senyum tak bersalahnya.
" Lihat lah kayu bakarnya jadi berantakan lagi, bantu aku." Oceh Bintang. Raut wajahnnya ia tekuk alis menyatu dan bibirnya mengerucut. Ia sudah lelah mengumpulkan kayu untuk membantu nenek Karimah dan sekarang sudah berantakan.
" Tidak mau, weekk." ejek Bulan sambil menjulurkan lidahnya. Bintang geram ia ambil arang bekas api unggun semalam dan mencoretnya ke wajah Bulan. Bulan berteriak mengejar Bintang yang berlari mencari nenek Karimah tempat berlindungnya.
" Ada apa ini teriak-teriak ?" Tubuh Bintang gemetar di balik punggung nenek Karimah mendengar suara Bumi.
" Kenapa muka mu begitu ?" Tanya Bumi pada Bulan yang baru muncul dari samping rumah nenek Karimah. Wajah Bulan tertunduk takut menceritakan kalau ini adalah perbuatan Bintang, ia tidak mau Bintang di marahi.
" Pasti kamu." Dengan marah Bumi menyertet tangan Bintang dari persembunyiannya begitu ringan tangannya memukul tubuh kecil Bintang yang masih bergetar, air matanya deras menganak sungai. Dia meraung menangis meminta ampun agar Bumi berhenti memukul tubuhnya lagi. Bukan hanya tubuhnya yang sakit hatinya juga sakit ada luka yang tak berdarah di sana lebam membiru dan lama-kelamaan akan membusuk.
" Sudah." Teriak nenek Karimah menyelamatkan Bintang dari amukan Bumi. Bintang berlari ketakutan tubuhnya bergetar, air matanya masih mengalir deras, ingusnya juga masih mengalir meski berkali-kali ia seka. Langkahnya terhenti di bawah pohon dekat sungai belakang rumah nenek Karimah. Bintang duduk memeluk lututnya sendiri, wajahnya merah, matanya merah, hidungnya merah, lengannya pun merah akibat pukulan dari Bumi. Tangisnya mereda saat matanya menatap kosong aliran sungai di depannya. Ia ingat mimpinya tadi malam.
***
Sementara itu selepas Bulan yang lari mengejar Bintang. Nenek Karimah sudah geram melihat sifat anak dan menantunya. Sudah berkali-kali dia menasehati untuk tidak pilih kasih kepada kedua putri. Sampai puncaknya tiga bulan lalu dengan tega mereka menyuruh Bintang tinggal bersamanya. Waktu itu Bintang terus menangis meminta agar di bolehkan ikut pulang bersama Bumi dan Malam. Bintang meraung meminta maaf, ia berjanji tidak akan nakal lagi ia berjanji tidak akan mengganggu Bulan lagi asal ia boleh ikut pulang. Bintang ingin bertemu Bulan yang akan keluar rumah sakit setelah seminggu di rawat akibat kecelakaan saat bermain bersama Bintang. Tapi lagi-lagi Bumi dan Malam ingin menghapuskan kehadiran Bintang, ingin memisahkan nya dengan Bulan dengan dalil demi keselamatan Bulan.
" Kenapa kamu pukuli dia? Bintang itu anak yang baik bawalah dia pulang, kasihan." Ucap nenek Karimah pada Bumi dan Malam di hadapannya.
" Dia itu pembuat onar mak, aku gak kuat ngadepin kelakuannya. Biar lah dia tinggal di sini hitung-hitung buat menemani mamak." Kilah Bumi.
" Iya mak, saya takut nanti Bulan terpengaruh sama kelakuan Bintang." Lagi-lagi Malam enggan membela Bintang.
" Mereka itu masih anak-anak." Ucap nenek Karimah lagi.
" Apa mamak lupa siapa penyebab Bulan tertabrak bulan lalu? Kalau Bulan bersama Bintang dia akan dalam bahaya lagi mak."
***
" Semalam aku bermimpi." Ucap lirih Bulan duduk di samping Bintang yang masih memeluk lututnya.
" Kita naik perahu di atas sungai yang airnya seperti madu. Di pinggir sungai banyak pohon apel yang buahnya besar dan merah, kita mencicipi madu yang mengalir di sungai dan memakan apel merah itu banyak sekali." Bulan menjelaskan isi dari mimpinya.
" Aku jugabermimpi seperti itu." Ucap Bintang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar