Hal paling merepotkan adalah jika kau
memiliki kekasih seumuran dengan adikmu. Apa lagi jika dia juga teman
sekolah adikmu atau lebih tepatnya musuh adikmu. Itu akan membuat
kalian terus menerus mengucapkan kata merepotkan benar-benar
merepotkan. Tapi itu lah yang terjadi pada ku. Memiliki kekasih tiga
tahun di bawahku yang merupakan siswa Konoha High School tahun ke
tiga. Mungkin tidak masalah jika yang lebih tua dari pihak laki-laki,
tapi sayangnya itu kebalikannya. Yang lebih merpotkan lagi dia selalu
saja bermasalah dengan kedua adik laki-laki ku. Benar-benar
merpotkan, seperti sekarang ini.
“ Apa yang kau pikirkan,
kankuro.?berkelahi lagi.” geram sekali aku dengan bocah ini. Yang
benar saja aku harus ijin dari tempatku bekerja hanya karna adik ku
lagi-lagi membuat masalah di sekolahannya.
“ Dia yang memulainya nee-chan.”
belanya sambil menunjuk anak laki-laki yang juga berada di ruangan
bimbingan konseling ini. Agak heran saat aku melihatnya, aku kenal
dia sangat mengenalnya. Dia Nara Shikamaru kekasihku, dia bukan tipe
orang yang suka berkelahi lebih tepatnya dia terlalu malas untuk hal
yang merepotkan seperti ini jika tidak ada alasannya. Jadi sudah
jelas siapa biang keladinya. Langsung saja aku memberikan tatapan
tajam pada kankuro, aku tidak bisa di bohongi oleh bocah ini.
“ Di mana orang tuamu Shikamaru.?”
Tanya Asuma sensei.
“ Hoam...mereka tidak akan datang
sensei, aku sudah bilang mereka tidak akan mau terlibat masalah yang
merepotkan seperti ini.” Jawabnya santai sambil menguap lebar.
Sudah ku duga.
“ Baiklah...baiklah jadi bisa kalian
jelsakan semua ini Shikamaru Kankuro.?” Tanya Asuma sensei lagi.
Dari penjelasan mereka berdua aku bisa
mengambil kesimpulan. Pertama Kankuro mengganggu teman perempuannya
yang bernama Yamanaka Ino. Kedua Shikamaru melihat kejadian itu
langsung menghajar Kankuro. Ketiga Kankuro tidak terima lalu
menyerang Shikamaru. Keempat Shikamaru tidak melawannya hanya
menghindar. Kelima saat Shikamaru menghindari pukulan Kankuro tanpa
sengaja pukulannya mengenai kaca sampai pecah berantakan. Pantas ku
lihat tangan kanan Kankuro di perban dengan wajah memar di ujung
bibirnya, sedangkan Shikamaru tidak terluka sedikit pun. Aku merasa
tidak enak pada Asuma sensei lagi-lagi adik ku membuat masalah. Aku
juga tidak enak pada Shikamaru, tapi siapa Yamanaka Ino itu samapi
dia rela terlibat masalah hanya karna menolong perempuan itu. Dia
tipe orang yang tingkat kepeduliannya di bawah rata-rata berbeda
terbalik dengan tingkat kejeniusannya. Jadi siapa Yamanaka Ino itu
sampai membuat orang seperti Shikamaru bertindak di luar karakernya.
Aku curiga dan ya aku akui aku sedikit cemburu hanya sedikit.
“ Jadi begitu, baiklah karna kalian
berdua berkelahi dan mengganggu siswa lain kalian di skorsing dua
hari kalian tidak boleh mengikuti pelajaran sebagai gantinya kalian
akan membersihkan seluruh sekolah kebetulan tukang kebun kita sedang
cuti dua hari. Apa kalian mengerti.?” jelas Asuma sensei memberi
hukuman pada mereka berdua.
“ Ha'i.” Jawab mereka berdua
kompak.
“ Ku harap kalian bisa bekerja sama
besok aku tidak mau kejadian ini terulang kembali dan kau Shikamaru
karna orang tuamu tidak hadir setelah jam pelajaran selesai kau harus
membersihkan lorong kelas sampai bersih. Kalian berdua boleh pergi.”
Perintahnnya pada Shikamaru dan Kankuro. Setelah mereka berdua keluar
aku jadi semakin tidak enak pada Asuma sensei.
“ Maafkan kelakuan adik saya Asuma
sensei, aku akan ganti kerusakan kacanya.” Ucapku sambil
membungkuk.
“ Tidak usah khawatir Temari-san, ku
tau ini pasti sulit untukmu.” Ucapnya padaku. Ku rasa memang benar
setelah kedua orang tuaku meninggal aku harus kuliah sambil bekerja
untuk mencukupi kebutuhan dan juga biaya sekolah kedua adik ku.
Untung saja tempatku bekerja bisa mengikuti jadwal kuliah ku. Jika
aku masuk kuliah pagi maka sorenya aku bekerja dan begitu sebaliknya.
Biasanya hari minggu aku libur kuliah tapi aku tetap mengambil lembur
di tempat kerja. Masalah seperti ini memang membuatku pusing.
“ Terima kasih sensei, aku akan
bilang pada mereka agar tidak membuat masalah lagi.” Ucapku sambil
membungkuk lagi.
“Hahahaha tapi dengan begini aku jadi
punya alasan untuk menghukum bocah pemalas itu.” Ucapnya sambil
tertawa.
“ Maksud anda Shikamaru.?” tanya ku
heran.
“ Ya siapa lagi, tidak kah kau lihat
dia seperti tidak memiliki gairah hidup aku hanya ingin memberinya
sedikit pelajaran.” ucapnya lagi. Oh Asuma sensei tiadak tau saja
anda setiap hari aku selalu melihat tampang malasnya yang selalu
menguap lalu mengucapkan kata favoritnya 'mendokusi' itu. Anda benar
mungkin dia memang perlu di beri sedikt pelajaran karna ku tau
setelah ini dia akan di marahi habis-habisan oleh ibunya.
“ Baiklah Temari-san kau boleh pergi,
maaf telah mengganggu waktumu.” Ucapnya sambil tersenyum membuatku
semakin tidak enak saja.
“ Aku yang seharusnya minta maaf,
baiklah kalau begitu aku permisi sensei.” Aku membungkuk sekali
lagi sebelum pergi.
**
“ Aaaww....sakit nee-chan pelan-pelan
sedikit.” rengek Kankuro saat aku membersihkan luka di wajahnya.
“ Bagaimana mungkin kau yang
mengajaknya berkelahi tapi kau sendiri yang babak belur?” tanya
Gaara adik bungsu ku yang masih duduk di kelas 2 SMA. Ia duduk di
sofa di sampingku yang sedang mengobati luka Kankuro.
“ Urusai...aaaaww.” Teriak Kankuro.
“ Dia bahkan tidak melukai lawannya
sama sekali.” Sindirku.
“ Jadi nee-chan ingin aku sampai
melukainya baik aaaaw.” Teiaknya lagi kali ini aku memang sengaja
mengikat perban di tangan kanannya dengan kencang.
“ Jangan coba-coba kalau kau tidak
mau kehilangan tanganmu.” Ancamku tepat saat aku menggunting perban
di tangannya. Ku rasa ancamanku cukup ampuh.
“ Aku juga tidak pernah mengajarimu
mengganggu seorang gadis kan. Ahh kenapa kalian selalu membuat
masalah, kalian tau aku tidak punya cukup waktu untuk mengurusi
masalah seperti ini.” ucapku sambil merapikan alat-alat P3K ke
dalam kotak.
“ Kenapa kau juga menyalahkanku.?”
Protes Gaara.
“ Aku tidak menyalahkanmu.”
Jawabku.
“ Tadi kau mengatakan 'kalian'.”
Ucapnya sambil menatapku tajam. Oh bocah ini memancing emosiku.
“ Oh benarkah.?? kalau begitu apa kau
lupa minggu lalu aku juga dapat panggilan karna hal yang sama.?”
Sebenarnya aku tidak mau mengungkit masalah ini lagi. Tapi dia
benar-benar membuatku kesal.
“ Tiga orang masuk rumah sakit dan
dua diantaranya mengalami patah tulang, apa kau tidak ingat itu
Gaara.?” Itu memang bukan pertanyaan yang perlu di jawab, aku hanya
mengingatkan masalah yang di lakukan Gaara minggu lalu. Yang benar
saja tiga orang masuk rumah sakit dan dia marah karna aku bilang dia
membuat masalah. Bukan kah itu memang masalah. Oh dulu adik-adik ku
tidak seperti ini, setelah orang tuaku meninggal emosi mereka jadi
tidak terkendali. Apa lagi Gaara, mungkin dari luar ia tampak seperti
anak baik yang pendiam tapi jangan salah jika ada yang membuatnya
marah dia akan sangat berbahaya.
“ Aku tidak punya waktu hanya untuk
mengurusi masalah kalian di sekolah.” Ucapku sambil membawa kotak
P3K ke arah dapur.
“ Tapi kau selalu punya waktu untuk
bocah pemalas itu.” Ucap Kankuro seketika menghentikan langkahku.
Aku sadar, aku telah salah bicara pada mereka. Tapi tunggu dulu bocah
pemalas, apa Kankuro sudah mengetahuinya.
“ Bersikaplah dewasa.” Ucapku
sambil meneruskan langkahku ke dapur. Aku harus menyiapkan makan
malam.
“ Kankuro, aku tidak mau tau kau
harus minta maaf pada temanmu dan kau Gaara kerjakan PRmu.” Titah
ku dari dalam dapur. Sungguh sebenarnya aku merasa bersalah pada
mereka berdua. Yang di ucapkan kankuro memang benar aku jarang sekali
menghabiskan waktu untuk mereka. Yang ada di fikiranku hanya
bekerja,bekerja dan bekerja tapi semua itu juga untuk mereka bukan.
Apa mungkin yang di katakan Shikamaru itu benar, mereka berbuat onar
hanya karna mereka merasa tidak di perhatikan lagi oleh ku. Apa yang
harus aku lakukan.
Ting Tong Ting Tong
“ Gaara tolong
buka kan pintunya.” Teriaku dari dalam dapur.
“ Kankuro saja
yang buka.” yang di suruh malah ganti menyuruh Kankuro.
“ Tidak mau kau
yang di suruh cepat buka sana.” Bukannya membukakan pintu mereka
malah asik berdebat. Apa boleh buat aku mengalah kali ini mungkin
mereka masih marah padaku.
“ Kau..” Saat
aku melihat Shikamaru berdiri di depan pintu.
“ Ada perlu apa
kau kemari.?” Tanya ku heran.
“ Aku di paksa
ibuku memberikan obat tradisional keluara Nara untuk adikmu.”
Ucapnya sambil menyerahkan paper bag kecil padaku.
“ Terima kasih
Shikamaru ini pasti merepotkanmu kan.”
“ Hoam...” dia
hanya menguap.
“ Sebaiknya kau
masuk dulu, aku baru selesai masak kita bisa makan malam bersama.”
Ajak ku sambil menarik pergelangan tangannya.
“
Ck...mendokusai.” Grutunya tapi dia tidak menolak ajakkan ku.
“ Nee-chan
kenapa kau bawa dia masuk.?” tanya Kankuro geram.
“ Kankuro
sepertinya aku sudah memperingatkanmu tentang ini, lagi pula dia
berniat baik membawakanmu obat.” Ucapku sambil memberikan obat yang
Shikamaru bawa padanya.
“ Ck.”
lagi-lagi aku harus mendengar kata itu lagi.
“ Shikamaru kau
duduk saja dulu aku akan siapkan makan malamnya.” Ucapku sambil
meninggalkan mereka bertiga di ruang tengah. Aku harus melanjutkan
pekerjaan ku, ku harap mereka tidak memulai perang lagi.
“ Terima kasih
Temari.” Ucap Shikamaru sambil memberikan senyumannya padaku
Tanpa di ketahui Temari,
perbincangan hangat terjadi di antara mereka bertiga.
“ Temari eh,
harusnya kau memanggilnya Temari-nee.” Gaara mendelik manatap
Shikamaru.
“ Aku tidak
peduli dia itu kakak kalian bukan kakak ku.” Jawabnya santai.
“ Ck...jangan
kau pikir kami tidak tau Shikamaru.” ucapnya Gaara lagi dengan
tatapan lebih tajam.
“ Hehehe aku
memang tidak berniat menyembunyikannya dari kalian.” Dengan tampang
bodohnya ia berusaha mencairkan suasana. Ia merasa di intrograsi oleh
kedua adik Temari.
“ Jangan kau
pikir kau akan mudah mendapatkannya.” Kali ini Kankuro yang
menyudutkan Shikamaru.
“ Kau benar
sangat sulit menyakinkannya untuk menerimaku.” Jawabnya santai.
“ Kami tidak
sedang bercanda Shikamaru. Jika kau berani menyakiti dia kami tidak
akan diam.” Ancaman Kankuro.
“ Kalian tenang
saja aku sangat mencintainya tidak mungkin aku akan menyakitinya.”
Jawabnya tegas.
“ Kita lihat
saja, sampai ku lihat dia mengeluarkan air mata setetes saja karenamu
habis kau.” Kali ini ancaman dari Gaara sedikit memberikan seringai
licik andalannya.
“ Oh iya...ku
rasa dia akan menanyakan tentang Ino padamu. Kau tau sendiri
bagaimana menyakinkannya bukan.” Kankuro menambahi.
**
“ Kalian sedang
apa.?” Tanya ku heran melihat mereka duduk mengampit Shikamaru.
“ Ahh...aku
hanya meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Benarkan Shikamaru?”
Ucap kankuro buru-buru.
“ Hm.” Jawab
Shikamaru.
“ Bagus kalau
begitu. Makan malam sudah siap.” Ucapku sambil menyuruh mereka
untuk ke ruang makan.
“ Selamat
makan.” Ucap semuanya.
“ Oh iya
Shika-chan, bagaimana ibumu bisa tau kalau kau berkelahi.?” Tanyaku
di sela makan malam.
“ Uhuk Shika.”
“-chan. Yang
benar saja.” Ku lihat Gaara dan Kankuro terkekeh kecil dan
Shikamaru tersedak minumannya. Apa aku salah bicara lagi.
“ Asuma sensei
yang memberitahukannya.” Jawab Shikamaru dengan wajah memerah. Ada
apa dengannya apa dia sakit.
“ Salam untuk
ibumu ya dan terimakasih.” ucapku sambil tersenyum. Selanjutnya
kami hanya makan dalam diam.
“ Kau tidak
pulang Shika-chan.? Nanti ibumu mencarimu.” Ucap Kankuro seperti
sindiran.
“ kankuro
sopanlah sedikit.”
“ Tidak apa lagi
pula aku memang harus pulang.” Jawab Shikamaru.
“ Baiklah aku
antar sampai depan.”
**
“ Shika-chan
yang benar saja Temari kau mau mempermalukanku di depan adikmu.?”
Ucapnya saat sampai di halaman depan.
“ Kenapa kau
marah padaku. Aku hanya tidak ingin mereka tau hubungan kita itu
saja.” Jawabku sambil menunduk.
“ Memang kenapa
kalau mereka tau.?” Tanyanya lagi.
“ Itu akan sulit
untukmu.”
“ Akan lebih
sulit jika kita terus menyembuyikannya. Lagi pula aku tidak mau kau
perlakukan seperti bocah apa lagi di depan mereka.” Ucapnya sedikit
berteriak.
“ Kenapa kau
berteriak.?”
“ Aku tidak
berteriak.”
“ Kau
berteriak.”
“ Tidak.” “
Iya”
“ Lagi pula
siapa itu Ino.?” tanyaku mengenai gadis yang di ganggu Kankuro tadi
pagi.
“ Dia hanya
temanku dari kecil.” Jawabnya santai
“ Teman.? Aku
tidak pernah tau kau punya teman wanita.”
“ Aku punya
banyak teman wanita apa perlu aku sebutkan satu-satu.” Jawabannya
membuatku marah tapi yang ku lakukan hanya diam.
“ Ino, Sakura,
Hinata, Tenten, Shion, Tayuya dan masih banyak lagi. Apa kau pikir
aku ini homo hanya punya teman laki-laki.” Jawabnya menyebutkan
satu persatu teman perempuannya.
“ Pertama kali
eh.? Ino kau menyebutnya pertama kali.” aku tidak bisa menahan
emosiku lagi.
“ Ya ampun
perempuan memang merepotkan.” Bukannya menenangkanku dia malah
mengejekku. Aku sudah tidak berniat berdebat dengannya, aku hendak
masuk dalam rumah tapi pergelangan tanganku di tahan olehnya.
Aku merasa hangat
saat tubuhku di pelukknya. Air mataku tanpa di perintah sudah menetes
dengan sendirinya. Ada apa denganku aku tidak pernah menangis
sebelumnya.
“ Jangan menagis
Temari, itu akan membuatku dalam masalah.” Ucapnya sambil membelai
rambutku.
Sedangkan di dalam rumah.
“ Jangan
sekarang Gaara. Ini belum waktunya.” Kankuro mencegah adiknya yang
berniat keluar dan menghajar Shikamaru.
**
“ Maafkan aku
Temari tapi jujur Ino hanya temanku dari kecil. Aku, Choji dan Ino
berteman dari kecil kami selalu bersama aku sudah menganggap mereka
seperti saudaraku sendiri. Jika ada yang menyakiti mereka aku akan
marah, sama hal jika ada yang menyakitimu aku pun akan marah. Meraka
dan kau itu sama-sama berharga bagiku, tapi kau itu beda. Kau tau
maksudku kan.” Dia menjelaskannya padaku sambil terus memelukku,
aku hanya bisa menganggukan kepakaku dalam dekapannya.
“ Sekarang hapus
air matamu sebelum aku mendapatkan masalah.” Ucapku sambil
melepaskan pelukannya. Aku hanya bisa menuruti ucapannya. Tapi
tiba-tiba.
Brukk..
Gaara tiba-tiba
menghantam wajah Shikamaru sampai ia terjatuh. Ku lihat Kankuro
berlari dari dalam rumah.
“ Aku sudah
memperingatkanmu Shika-chan.” Ucap Gaara masih melayangkan tinjunya
pada Shikamaru yang tersungkur.
Brukk..brukk..
“ Gaara apa yang
kau lakukan.? Hentikan.” aku mencoba menghentikannya.
“ Diam lah
nee-chan ini urusanku dengannya.” Gaara sama sekali tidak
menghiraukanku.
“ Kankuro
lakukan sesuatu.”
“ Aku juga ingin
memukulnya nee-chan tanganku masih terluka.” Jawab Kankuro enteng.
“ Kankuro...”
teriakku.
Brukk..brukk..
Kankuro mencoba
menghentikan Gaara tapi tetap tidak bisa. Gaara semakin menjadi
menghajar Shikamaru.
“ Gaara
hentikan.”
“ Hentikan...ku
mohon hentikan Gaara.” Teriaku memohon. Nampaknya Gaara
mendengarkanku. ku lihat dia bengkit dari atas tubuh Shikamaru yang
babak belur. Langsung saja aku mendekapnya dalam pelukanku.
“ Shikamaru kau
dengar aku.” Shikamaru hanya menjawab dengan suara tak jelas. Ku
rasa dia hampir kehilangan kesadarannya.
“ Apa yang kau
lakukan Gaara.? Kau ingin membunuhnya ah.?” Teriak ku. Kankuro
sudah membantuku untuk memapah Shikamaru masuk ke dalam rumah.
Aku
membaringkannya di sofa. Kankuro langsung mengambil kotak P3K yang
aku letakan di dapur. Dan ku lihat Gaara hanya berdiri sambil melipat
kedua tangan di dada.
“ Apa yang kau
lakukan padanya.?” Tanyaku dengan nada rendah.
“ Aku hanya
melakukan apa yang harus ku lakukan.” Jawabnya tenang.
“ Yang harus kau
lakukan. Aku tidak pernah mengajarimu jadi brandalan seperti ini.”
Kankuro sudah datang membawa kotak P3K. Langsung saja ku obati luka
di wajah Shikamaru.
“ Aaaaa...”
Rintihnya saat aku menyentuh lukanya.
“ Maaf.”
“ Tidak apa
Temari kau tidak perlu marah padanya. Ini memang salahku.” Suara
Shikamaru lirih.
“ Apa yang kau
bicarakan.?” Tanyaku
“ Aku hanya
dapat hukuman dari adikmu karna telah membuatmu menangis.” meski
lirih aku masih bisa mendengar suaranya.
“ Shikamaru....”
Suaraku seakan tercekat di tenggorokan. Air mataku mengalir begitu
saja mendengar penjelasan Shikamaru.
“ Jangan
menangis lagi Temari kau ingin aku di hajar lagi eh.?” ucapnya
sambil menghapus air mataku. Aku tidak bisa menahannya lagi langsung
ku dekap dia dalam pelukku tidak peduli lagi Gaara dan Kankuro tau
hubungan ku dengan Shikamaru. Aku hanya ingin memeluknya memberikan
cintaku yang tulus lewat pelukan. Ku tumpahkan semua air mataku di
pundaknya, aku tau dia pasti meraskan sakit di tubuhnya tapi aku
hanya ingin memeluknya.
“ Sudah ku
bilang jangan menagis kau ingin...”
“ Biarkan saja.
Aku hanya ingin memelukmu jika ada yang memukulmu lagi dia akan
berurusan denganku.” Ancamanku ku tunjukan untuk Gaara dan Kankuro.
“ Dan kalian
berdua bisa jelaskan semuanya setelah ini.” melepaskan pelukakku
dan menatap adik ku satu per satu.
**
“ Aku tidak
terima. Aku tidak pernah mengajarkan kalian jadi brandalan seperti
ini.” Mereka telah menjelaskan semuanya padaku bahwa mereka telah
tau hubunganku dengan Shikamaru dari awal. Aku juga tau janji konyol
apa yang mereka buat sampai mengakibatkan Shikamaru seperti ini. Aku
tau mereka melakukannya karna sayang padaku tapi aku tetap tidak
terima dengan perbuatan mereka.
“ Tidak terima
bagaimana, Shikamaru saja tidak keberatan.” Jawab Kankuro.
“ Urusai...aku
tetap tidak terima. Aku tidak mau kalian jadi brandalan. Aku tidak
mau ada kekerasan. Dan aku tidak mau tau kalian berdua harus minta
maaf pada Shikamaru kalau tidak kalian tidak boleh keluar rumah
seumur hidup kalian, tidak ada uang jajan, tidak ada HP semuanya akan
ku sita. Kalian mengerti.?”
“ Tapi...”
“Tidak ada tapi.
Kalian mengerti.?” Tanyaku sekali lagi.
“ Hmm.” Jawab
mereka kompak.
“ Bagus.”
mungkin yang di katakan Asuma sensei ada benarnya juga. Mungkin
mereka memang butuh di beri sedikit pelajaran, sedikit gertakan dan
sedikit ancaman. Semoga setelah ini mereka bisa akur dengan
Shikamaru. Karna jika ku lihat sepertinya mereka tidak membenci
Shikamaru hanya cemburu padanya. Entah lah. Apapun yang terjadi aku
tidak mau menyakiti mereka semua. Karna mereka sangat sangat berharga
bagi ku.
“ Dan kau
Shikamaru kenapa tidak menjelaskannya dari awal. Kalau aku tau dari
awal ini semua tidak akan terjadi dasar baka.” Umpatku pada
Shikamaru. Sebenarnya aku kasihan melihatnya babak belur seperti ini
tapi aku juga tidak bisa menahan emosi ku saat tau kalau dia
menyembunyikan sesuatu sepenting ini dariku.
“ Mendokusai.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar